Tag Archives: islam.

Islam Tak Mengenal Politik?

islam-politik2Ada semacam doktrin yang dipegang oleh masyarakat bahwa politik bukanlah bagian dari Islam, dan Islam tak ada hubungannya dengan politik. Doktrin semacam ini setidaknya disebabkan oleh dua hal. Pertama, menganggap Islam adalah agama ritual yang hanya mengatur urusan privat seperti shalat, puasa, haji, dan seterusnya, dan tidak mengatur urusan politik. Kedua, menganggap bahwa politik adalah aktivitas yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan, serta sarat dengan penipuan dan pengkhianatan, sedangkan Islam dianggap suci dari semua hal tersebut. Jadi bagaimana mungkin Islam yang lurus dan suci mengajari hal-hal yang keji semacam itu?

Jika definisi politik masih diliputi dengan gambaran politik sekuler semacam itu, tentu saja kebanyakan muslim akan berkesimpulan demikian. Padahal saat kita telusuri turats (kitab-kitab klasik) akan kita temukan banyak sekali para fuqaha yang menulis tema seputar politik atau siyasah syar’iyyah. Karena itu, sebelum Continue reading Islam Tak Mengenal Politik?

Advertisements

Konsep Tuhan Dalam Islam: Final dan Otentik

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Gelombang modernisme peradaban Barat yang begitu massif telah menyeret umat dalam arus syirik kontemporer. Melalui paham liberalisme yang berakar pada konsep relativisme, sebagian orang telah gemar melakukan penelaahan ulang terhadap konsep-konsep yang fundamental dalam agama Islam. Kemudian membentuk arus baru dengan apa yang disebut sebagai pluralisme agama yang tak lebih adalah paham syirik berwajah modern dan berlagak ilmiah. salah satu ‘penyakit’ yang disebar melalui paham ini adalah konsep mengenai Tuhan. John Hick misalnya, menggagas konsep “The Eternal One”, yaitu Tuhan yang menjadi tujuan semua agama. Apa pun jalannya,tujuannya tetap satu. Begitulah John Hick berpandangan. Jadi tak masalah Anda beragama apa karena semuanya benar.

Di Indonesia tren ini diperkuat oleh Anand Krishna yang mengatakan, “Jalan bisa berbeda. Jelas berbeda. Orang Iran ke Mekkah tidak harus lewat Indonesia. Orang Indonesia ke Mekkah tidak harus lewat Cina. Orang India ke Mekkah tidak harus lewat Amerika. Orang Mesir ke Mekkah tidak harus lewat Eropa. Orang Eropa ke Mekkah tidak harus lewat Australia. Jalan berbeda, jelas-jelas berbeda.Tetapi apabila kita menganggap tujuan pun berbeda, maka sesungguhnya kita musyrik. Justru kita yang menduakan Allah, menduakan Tuhan.”1

Kaum pluralis berpandangan bahwa agama adalah ekspresi budaya yang relatif sifatnya. Maka tak masalah menurut mereka jika umat Islam sesekali menyebut Tuhannya dengan Yahweh, God,Lord, atau Yesua. Toh muaranya tetap pada satu Tuhan. Sedangkan di kalangan penganut agama Kristen, terjadi perdebatan mengenai sebutan untuk Tuhan. Seperti kata “Yesus” diubah menjadi “Yesua” yang dilakukan oleh kelompok Kristen yang menyebut dirinya “Jaringan Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh”.2 Kelompok ini juga mengubah kata “Tuhan” menjadi “Yahwe”. Dalam agama Yahudi ada sebutan Lata, Uzza, Hubal, disamping sebutan untuk Allah sendiri. Gejala ‘spekulasi teologis’ semacam ini terjadi oleh sebab tak ada sumber yang otentik tentang kebenaran konsep dan nama Tuhan. Yang terjadi adalah dugaan-dugaan yang tak menghasilkan keyakinan sama sekali.

Bagi umat Islam, penyebutan nama Tuhan yang bersifat spekulatif tentu sangat bermasalah. Sebab, hal ini bisa mengaburkan konsep tauhid Islam. Penyebutan kata “Allah” di dalam Al-Qur’an menandakan bahwa penyematan nama untuk Dzat Yang Maha Kuasa haruslah bersumber dari Allah sendiri dengan sifat-sifat yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Dengan berdasar pada sumber yang otentik akan mencegah spekulasi Continue reading Konsep Tuhan Dalam Islam: Final dan Otentik

Dari Ide Pluralisme Ke Tren Teologi Global

Sebelum marak di Indonesia, gagasan pluralisme telah lama tumbuh dan berkembang di Eropa. Gagasan ini muncul sebagai konsekuensi logis dari konflik-konflik yang terjadi antara Gereja dan kehidupan di luar gereja. Adanya doktrin “di luar gereja tidak ada keselamatan” (extra ecclesiam nulla salus) yang dipegang teguh oleh Continue reading Dari Ide Pluralisme Ke Tren Teologi Global