Pendapat Imam Al-Haddad tentang Vonis Kafir

Mafahim__32417_zoom

قل العلامة الإمام السيد أحمد مشهور الحداد: وقد انعقد الإجماع على منع تكفير أحد من أهل القبلة إلا بما فيه نفي الصانع القادر جل و علا أو شرك جلي لا يحتمل التأويل أو إنكار النبوة أو إنكاو ما علم من الدين باالضرورة أو إنكار متواتر أو مجمع ضرورة من الدين.

Al-Allamah Al-Imam Al-Sayyid Ahmad Masyhur Al-Haddad mengatakan, “ Telah ada kesepakatan ulama untuk melarang memvonis kufur ahlul qiblat (ummat Islam) kecuali akibat dari tindakan yang mengandung unsur meniadakan eksistensi Allah, kemusyrikan yang nyata yang tidak mungkin ditafsirkan lain, mengingkari kenabian, prinsip-prinsip ajaran agama Islam yang harus diketahui ummat Islam tanpa pandang bulu (wajib diketahui semua orang), mengingkari ajaran yang mutawatir atau yang telah mendapat kesepakatan ulama dan wajib diketahui semua ummat Islam tanpa pandang bulu.” (Mafahim Yajibu an-Tushah-hah, hal. 13).

Apa yang dinyatakan oleh Imam Al-Haddad di atas adalah sebuah bentuk kehati-hatian agar kita tidak ceroboh menilai seseorang telah murtad atau kafir lantaran berselisih paham dalam perkara furu’iyah (cabang). Kekafiran adalah bentuk pengingkaran terhadap aqidah dan ajaran-ajaran pokok yang telah disebutkan secara qath’I oleh nash, tanpa perlu ditakwil lagi. Seperti iman kepada keesaan Allah, kenabian, eksistenti Continue reading Pendapat Imam Al-Haddad tentang Vonis Kafir

Kultwit: Menelusuri Makna Sekularisasi


sekularisasi
1. Kata “secular” berasal dari bahasa latin: “saeculum”, yang bermakna zaman sekaligus menunjukkan makna waktu.

2. Sekular dalam pengertian waktu merujuk pada ‘kini’ atau ‘sekarang’. Sedangkan dalam pengertian tempat merujuk pada ‘dunia’ atau ‘duniawi’.

3. Seperti yang diungkap oleh Harvey Cox, terminologi sekular lambat laun mengalami peluasan makna.

4. Dlm perkembangannya ia bermakna “pemisahan antara institusi spiritual dan sekular”.

5. Setidaknya ada tiga kerangka pokok dari sekularisasi, seperti yang dipaparkan oleh Harvey Cox.

6. Pertama: pengosongan dunia dari nilai-nilai spiritual dan kepercayaan terhadap hal-hal gaib.

7. Jika manusia masih bersandar pada kuasa supranatural, maka ia tidak dapat berkembang. Itulah alasannya.

8. Maka, ajaran agama dan tradisi spiritual harus disingkirkan.

9. Mereka menganggap hanya manusia yang berhak menentukan sejarah hidupnya sendiri tanpa ‘campur tangan’ Tuhan. Continue reading Kultwit: Menelusuri Makna Sekularisasi

Telaah Q.S. Al-Maidah Ayat 44

GambarAllah Swt berfirman:

‎وَمَن لَّمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al-Maidah: 44)

Untuk memahami ayat ini, ada beberapa catatan yang mesti diperhatikan:

1. Telah sama-sama kita pahami bahwa lafadz “من” dalam ayat tersebut bermakna umum, mencakup siapa saja. Artinya, ayat ini tidak hanya dikhususkan bagi orang-orang yahudi (sebagaimana sababun nuzul-nya), tetapi juga bagi orang-orang mukmin. Sesuai dengan kaidah: “Al-‘Ibrah bi ‘umûm al-lafdz wa lâ bi khushûsh as-sabab (berlakunya hukum itu dilihat dari keumuman ungkapannya, bukan dari kekhususan sebabnya)”.

2. Sedangkan lafadz “الكافرون“, apakah yang dimaksud adalah kufur akbar atau kufrun duuna kufrin? Sesungguhnya jawaban atas hal ini memerlukan perincian berikut:

a. Jika seseorang memutuskan perkara dengan selain hukum Allah, tetapi ia masih meyakini bahwa hukum Allah itu wajib baginya, maka ia telah fasiq dan dzalim. Sebab ia dinilai telah berpaling dari kewajiban. Karena ini berada dalam Continue reading Telaah Q.S. Al-Maidah Ayat 44

Seputar Kaidah Dharar (قاعدة الضرر)

 

GambarHukum syara’ adalah seruan Asy-Syâri’ yang berkaitan dengan perbuatan manusia, baik berupa tuntutan maupun pilihan antara mengerjakan dan meninggalkan. Di antara ahkam syar’iyyah ada yang dihubungkan dengan lafadz kulliy sehingga mencakup segala sesuatu. Lafadz kulliy adalah setiap lafadz murakkab yang mencakup bagian-bagian tertentu (juz’iyyat) di bawahnya. Di antaranya adalah ungkapan ما لا يثمّ الواجب إلاّ به فهو واجبٌ.

Hukum syara’ yang dihubungkan dengan lafadz kulliy disebut dengan hukum kulliy. Hukum kulliy ini digali oleh para mujtahid dari nash-nash syara’ yang mengandung illat atau makna yang setara dengan illat sehingga mampu membentuk hukum kulliy. Dalam istilah ushul fiqh, hukum kulliy disebut dengan kaidah kulliyât. Dan kaidah dharar yang akan dikupas dalam tulisan ini adalah salah satu contoh dari kaidah kulliyât.

Kaidah dharar mencakup dua hal:

  1. Asy-Syâri’ telah mengharamkan sesuatu yang membahayakan (dharar). Artinya, setiap perkara yang mengandung dharar wajib ditinggalkan. Sebab, adanya dharar tersebut merupakan dalil atas keharamannya Continue reading Seputar Kaidah Dharar (قاعدة الضرر)

Asal Usul Cerpen

Oleh : Rindyanti Septiana

200px-CompleteShortStoriesHemingwayCerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang. Cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Cerita pendek berasal-mula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer. Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya.

Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan.

Fabel, yang umumnya berupa cerita rakyat dengan pesan-pesan moral di dalamnya, konon dianggap oleh sejarahwan Yunani Herodotus sebagai hasil temuan seorang budak Yunani yang bernama Aesop pada abad ke-6 SM (meskipun ada kisah-kisah lain yang berasal dari bangsa-bangsa lain yang dianggap berasal dari Aesop). Fabel-fabel kuno ini kini dikenal sebagai Fabel Aesop. Akan tetapi ada pula yang memberikan definisi lain terkait istilah Fabel. Fabel, dalam khazanah Sastra Indonesia seringkali, diartikan sebagai cerita tentang binatang. Cerita fabel yang populer misalnya Continue reading Asal Usul Cerpen

Bongkar Misteri ‘Menulis itu Susah’

Oleh : Rindyanti Septiana

tips-menulisIngin bisa menulis? Atau, cita-cita yang lebih tinggi lagi: ingin jadi penulis? Yang paling sering muncul ke permukaan, meski tidak teverbalisasikan dengan sempurna adalah: S-U-S-A-H.

Ya, mereka yang ingin nulis tapi cenderung masih begitu-begitu aja nasibnya, in other word: going nowhere, stagnan (bahasa Indonesianya), mengaku: menulis itu nggak gampang. Aneh, ya? Padahal Arswendo Atmowiloto saja sudah nulis buku: Mengarang itu Gampang. Kenapa masih ada yang bilang nulis itu susah?

Not Yet A Culture

Penyebab nomor 1 kenapa nulis sangat complicated untuk kamu yang baru mulai adalah masalah budaya. Pelajari sejarahmu jadi “Tukang Ngomong” yang handal seperti sekarang. Kamu pikir kemahiran itu langsung kamu punya on the day you were born? Jadi, jangan bilang nulis itu susah tanpa melongok ke dalam diri: sudahkah saya punya budaya menulis?

Maka menulislah setiap hari. Menulis apa? Menulis apa saja. Terserah. Bisa diary, cerpen setengah Continue reading Bongkar Misteri ‘Menulis itu Susah’

Toleransi atau Pluralisme?

 

toleransi1Jika ada seorang muslim berteriak, “Tidak ada agama yang benar kecuali Islam!”, maka ia bisa dituduh intoleran dan menebarkan benih permusuhan. Dalam era postmodern, toleransi selalu diasosiasikan dengan sikap menghargai agama lain dan tak saling menyalahkan. Artinya, seseorang dianggap toleran ketika ia menerima kebenaran agama lain. Klaim kebenaran adalah sikap intoleran dan mesti ditinggalkan. “Haram” hukumnya dalam era postmodern memaksakan kebenaran agama sendiri kepada pemeluk agama lain. Di sinilah relativisme Nietzche dipropagandakan. Dan seketika itu pula “global theology”-nya Jhon Hick laku keras, termasuk di Indonesia.

Apakah ketika seseorang eksklusif dalam beragama dianggap intoleran? Dalam pandangan Barat jawabannya “iya”. Mereka gemar menuding bahwa agama itu penyebab konflik. Adanya sikap menutup diri dan tidak terbuka terhadap kebenaran agama lain dikatakan sebagai benih-benih munculnya permusuhan. Jadi agar bisa bersikap toleran maka terimalah kebenaran agama lain, begitu kata mereka. Itulah sebabnya, slog an “extra ecclesiam nulla salus” (di luar Gereja tidak ada keselamatan) berganti menjadi teologi inklusif. Dari sinilah cikal bakal munculnya paham pluralisme.

Jadi sebenarnya apakah ada korelasinya antara sikap inklusif (terbuka) dengan toleransi? Apakah ketika seseorang mengakui kebenaran agama lain maka ia menjadi orang yang toleran? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka Continue reading Toleransi atau Pluralisme?

Penjaga al-Kitab dan as-Sunnah

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers