Category Archives: Tsaqofah Islamiyyah

Imam Asy-Syafi’i dan Daging Onta

al-mjmoo3Ada apa dengan daging onta? Sebelum kita singgung tentang daging onta, kita cerita sedikit tentang Imam Asy-Syafi’i. Seperti yang kita tahu, Asy-Syafi’I adalah seorang ulama besar dan pendiri mazhab syafi’i, sebuah mazhab fiqih yang paling banyak dianut di Nusantara. Sang Imam telah beberapa kali hijrah ke beberapa kota untuk berburu ilmu kepada para ulama terkemuka. Dari Mekkah ia pindah ke Madinah demi meneguk ilmu dari imamnya ahlul Madinah, Imam Malik. Dari Madinah, pasca kewafatan gurunya (th. 179 H) ia pindah ke Yaman untuk bekerja. Tapi tak disangka, selama ia di Yaman ia menuai banyak fitnah. Ia dituduh berpihak kepada Syi’ah.

Akibatnya, ia harus keluar dari Yaman. Tapi, ia tak pulang ke Mekkah atau Madinah, ia justru ke Irak. Di sanalah ia mendapati sebuah kehidupan yan benar-benar berbeda. Irak dengan ibukotanya Baghdad saat itu adalah pusat ilmu pengetahuan, termasuk ilmu fiqih. Di baghdad sang Imam belajar banyak hal, termasuk ilmu fikih kepada para ‘ulama terkemuka disana.

Sepulang dari Irak, di Mekkah sang imam membentuk madzhab sendiri yang independen. Sejarawan menyebutnya sebagai madzhab qadim (lama) sebelum beliau membentuk madzhab baru di Mesir. Dalam madzhab inilah beliau mengubah sebagian pandangan fikihnya. Soal daging onta misalnya. Sebelum beliau membentuk mazhab qadim, beliau pernah berpendapat memakan daging onta tidak membatalkan wudhu. Pendapat ini mengikuti mazhab gurunya (Mazhab Malik). Dengan berpegang kepada dalil umum (riwayat Abu Daud) bahwa Nabi Saw tidak berwudhu setelah menyantap makanan yang tersentuh api.

Setelah beliau membangun mazhabnya sendiri (Mazhab Qadim), beliau Continue reading Imam Asy-Syafi’i dan Daging Onta

Islam Tak Mengenal Politik?

islam-politik2Ada semacam doktrin yang dipegang oleh masyarakat bahwa politik bukanlah bagian dari Islam, dan Islam tak ada hubungannya dengan politik. Doktrin semacam ini setidaknya disebabkan oleh dua hal. Pertama, menganggap Islam adalah agama ritual yang hanya mengatur urusan privat seperti shalat, puasa, haji, dan seterusnya, dan tidak mengatur urusan politik. Kedua, menganggap bahwa politik adalah aktivitas yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan, serta sarat dengan penipuan dan pengkhianatan, sedangkan Islam dianggap suci dari semua hal tersebut. Jadi bagaimana mungkin Islam yang lurus dan suci mengajari hal-hal yang keji semacam itu?

Jika definisi politik masih diliputi dengan gambaran politik sekuler semacam itu, tentu saja kebanyakan muslim akan berkesimpulan demikian. Padahal saat kita telusuri turats (kitab-kitab klasik) akan kita temukan banyak sekali para fuqaha yang menulis tema seputar politik atau siyasah syar’iyyah. Karena itu, sebelum Continue reading Islam Tak Mengenal Politik?

Catatan Kritis Atas Paham “Ash-Sharfah”

Anda pernah mendengar paham “Ash-Sharfah”?

quran1(1) Mereka ini yang berpandangan bahwa ketidakmampuan manusia membuat sesuatu yang serupa dengan Al-Qur’an karena faktor “eksternal”.

(2) Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah adanya campur tangan Allah, yang mencabut rasa bahasa dan pengetahuan yang mereka miliki.

(3) Dengan begitu, mereka berkesimpulan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an bukan karena Al-Qur’an itu sendiri. Bukan karena tata bahasanya yang tinggi sehingga mereka tidak bisa menandinginya. Tetapi karena Allah telah mencabut kemampuan bahasa mereka.

(4) Jika begitu, tantangan Al-Qur’an untuk membuat yang serupa dengannya tidak fair. Begitu kata mereka.

(5) Baik. Kalau begitu pemikiran mereka, maka mari kita ajukan pertanyaan ini: “Kapankah Allah mencabut rasa dan pengetahuan bahasa mereka?” Continue reading Catatan Kritis Atas Paham “Ash-Sharfah”

Istilah “Khalifah, Imam, dan Amirul Mukminin”

KhalifahDalam khazanah keilmuan Islam telah dikenal istilah “Khalifah”, “Imam”, dan “Amirul Mukminin”. Ketiganya adalah istilah syar’i dan sebutan bagi seorang penguasa. Dalam sejarah Islam, istilah-istilah tersebut telah dipakai untuk menggelari seorang penguasa yang mengurusi urusan kaum muslimin. Karena ketiga istilah ini memiliki sandaran dalil, ia menjadi sebaik-baik gelar bagi seorang penguasa. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya:

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ يَزِيدَ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ عَنْ رُزَيْقِ بْنِ حَيَّانَ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ قَرَظَةَ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Handlali telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dari Yazid bin Yazid bin Jabir dari Ruzaiq bin Hayyan dari Muslim bin Qaradlah dari ‘Auf bin Malik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo’akan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka Continue reading Istilah “Khalifah, Imam, dan Amirul Mukminin”

Pandangan Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi mengenai “memutuskan hukum dengan selain hukum Allah”

Syaikh Yusuf Al-QaradhawiSebagian kita masih bertanya-tanya, apa status hukum seorang muslim yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan oleh Allah? Apakah ia kafir atau tidak? Berikut pandangan Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi mengenai persoalan tersebut:

أن الحكم بغير ما أنزل الله يتناول الكفرين، الأصغر والأكبر بحسب حال الحاكم. فإنه إن اعتقد وجوب الحكم بما أنزل الله في هذه الواقعة، وعدل عنه عصيانا، مع اعترافه بأنه مستحق للعقوبة، فهذا كفر أصغر. وإن اعتقد أنه غير واجب، وأنه مخير فيه ـ مع تيقنه أنه حكم الله ـ فهذا كفر أكبر. وإن جهله وأخطأه: فهو مخطئ، له حكم المخطئين.

“Bahwa sesungguhnya memutuskan hukum dengan sesuatu yang tidak diturunkan oleh Allah Swt mengandung dua kekufuran, kecil dan besar, melihat keadaan hakimnya. Kalau ia berkeyakinan bahwa wajib baginya untuk menetapkan hukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah dalam suatu masalah, kemudian dia mengetahui bahwa hal itu akan mendapatkan siksa, maka tindakan ini termasuk kufur kecil. Jika dia berkeyakinan bahwa tidak wajib baginya menetapkan hukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah dalam suatu masalah, kemudian dia merasa bebas untuk menetapkan hukum tersebut –padahal dia yakin bahwa ada hukum Allah dalam masalah tersebut- maka tindakan tersebut termasuk kekufuran besar. Jika dia tidak tahu dan dia melakukan kesalahan: maka dia dianggap bersalah dan dihukum sebagai orang yang memiliki dua kesalahan.” [1]

Dari pandangan ini dapat kita simpulkan:

1.        Tindakan memutuskan hukum dengan selain hukum Allah mengandung dua kekufuran: kufur kecil dan besar.

2.       Seseorang akan terjatuh kepada kekufuran kecil, jika ia memutuskan hukum dengan Continue reading Pandangan Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi mengenai “memutuskan hukum dengan selain hukum Allah”

Pendapat Imam Al-Haddad tentang Vonis Kafir

Mafahim__32417_zoom

قل العلامة الإمام السيد أحمد مشهور الحداد: وقد انعقد الإجماع على منع تكفير أحد من أهل القبلة إلا بما فيه نفي الصانع القادر جل و علا أو شرك جلي لا يحتمل التأويل أو إنكار النبوة أو إنكاو ما علم من الدين باالضرورة أو إنكار متواتر أو مجمع ضرورة من الدين.

Al-Allamah Al-Imam Al-Sayyid Ahmad Masyhur Al-Haddad mengatakan, “ Telah ada kesepakatan ulama untuk melarang memvonis kufur ahlul qiblat (ummat Islam) kecuali akibat dari tindakan yang mengandung unsur meniadakan eksistensi Allah, kemusyrikan yang nyata yang tidak mungkin ditafsirkan lain, mengingkari kenabian, prinsip-prinsip ajaran agama Islam yang harus diketahui ummat Islam tanpa pandang bulu (wajib diketahui semua orang), mengingkari ajaran yang mutawatir atau yang telah mendapat kesepakatan ulama dan wajib diketahui semua ummat Islam tanpa pandang bulu.” (Mafahim Yajibu an-Tushah-hah, hal. 13).

Apa yang dinyatakan oleh Imam Al-Haddad di atas adalah sebuah bentuk kehati-hatian agar kita tidak ceroboh menilai seseorang telah murtad atau kafir lantaran berselisih paham dalam perkara furu’iyah (cabang). Kekafiran adalah bentuk pengingkaran terhadap aqidah dan ajaran-ajaran pokok yang telah disebutkan secara qath’I oleh nash, tanpa perlu ditakwil lagi. Seperti iman kepada keesaan Allah, kenabian, eksistenti Continue reading Pendapat Imam Al-Haddad tentang Vonis Kafir

Telaah Q.S. Al-Maidah Ayat 44

GambarAllah Swt berfirman:

‎وَمَن لَّمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al-Maidah: 44)

Untuk memahami ayat ini, ada beberapa catatan yang mesti diperhatikan:

1. Telah sama-sama kita pahami bahwa lafadz “من” dalam ayat tersebut bermakna umum, mencakup siapa saja. Artinya, ayat ini tidak hanya dikhususkan bagi orang-orang yahudi (sebagaimana sababun nuzul-nya), tetapi juga bagi orang-orang mukmin. Sesuai dengan kaidah: “Al-‘Ibrah bi ‘umûm al-lafdz wa lâ bi khushûsh as-sabab (berlakunya hukum itu dilihat dari keumuman ungkapannya, bukan dari kekhususan sebabnya)”.

2. Sedangkan lafadz “الكافرون“, apakah yang dimaksud adalah kufur akbar atau kufrun duuna kufrin? Sesungguhnya jawaban atas hal ini memerlukan perincian berikut:

a. Jika seseorang memutuskan perkara dengan selain hukum Allah, tetapi ia masih meyakini bahwa hukum Allah itu wajib baginya, maka ia telah fasiq dan dzalim. Sebab ia dinilai telah berpaling dari kewajiban. Karena ini berada dalam Continue reading Telaah Q.S. Al-Maidah Ayat 44