Category Archives: Rekam Jejak

Sirhindi dan Cucu Timur Leng

1456696_598819753488849_1460013256_nAhmad Sirhindi, seorang ulama India, pernah merasakan pahitnya penjara hanya karena mengucapkan salam dan enggan sujud kepada raja. Gara-gara persoalan kecil semacam ini ia mendekam di dalam jeruji besi selama bertahun-tahun. Barangkali situasinya mirip dengan zaman orde baru, hari ini mengkritik penguasa, keesokan hari sudah meringkuk di tahanan. Begitulah jika zaman dipimpin penguasa zhalim.

Siapa Ahmad Sirhindi?

Dulu, tahun 963 H, India pernah berada di bawah kekuasaan seorang raja keturunan Mongol, cucu dari Raja Timur Leng. Jalaluddin Akbar namanya. Celakanya, ia bukanlah raja yang baik dan memuliakan agama sebagaimana namanya (Jalaluddin) yang berarti “kemuliaan agama”. Alih-alih memuliakan agama, ia malah merusaknya. Selama berkuasa ia justru mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Kesesatannya tak tanggung-tangung, ia mengharamkan penyembelihan sapi, membangun kuil, dan berdo’a dengan menghadapkan wajahnya ke arah matahari persis seperti orang-orang Hindu.

Jalaluddin juga melecehkan para Nabi a.s. dengan sangat keterlaluan. Ia haramkan pemberian Continue reading Sirhindi dan Cucu Timur Leng

Advertisements

Tafsir Mimpi Abu Bakar r.a.

friendsAbu Bakar r.a. adalah sahabat Nabi Saw yang memiliki banyak keistimewaan. Ia adalah orang terbaik di antara generasi terbaik umat ini. Menjadi “Khalifah Rasulullah” sudah cukup bagi kita untuk menempatkan Abu Bakar r.a. sebagai sebaik-baik sahabat Nabi Saw. Di antara sekian banyak keistimewaan Abu Bakar r.a. adalah ia termasuk orang yang paling mengetahui tafsir mimpi setelah Rasulullah Saw. Seperti yang dikatakan oleh Muhammad bin Sirin:

كان أعبر هذه الأمة بعد نبيها أبو بكر

“Yang paling pintar menakwilkan mimpi dari kalangan umat ini setelah Rasulullah Saw adalah Abu Bakar r.a.” [1]

Suatu saat ‘Aisyah pernah bermimpi melihat tiga bulan turun ke rumahnya. Lalu dia menceritakannya kepada Abu Bakar. Setelah mendengar penuturan ‘Aisyah mengenai mimpinya, Abu Bakar mengatakan:

إن صدقت رؤياك ليدفنن في بيتك خير أهل الأرض ثلاثاً

“Jika mimpimu benar, maka akan dikuburkan di dalam rumahmu tiga orang Continue reading Tafsir Mimpi Abu Bakar r.a.

Asal Usul Cerpen

Oleh : Rindyanti Septiana

200px-CompleteShortStoriesHemingwayCerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang. Cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Cerita pendek berasal-mula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer. Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya.

Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan.

Fabel, yang umumnya berupa cerita rakyat dengan pesan-pesan moral di dalamnya, konon dianggap oleh sejarahwan Yunani Herodotus sebagai hasil temuan seorang budak Yunani yang bernama Aesop pada abad ke-6 SM (meskipun ada kisah-kisah lain yang berasal dari bangsa-bangsa lain yang dianggap berasal dari Aesop). Fabel-fabel kuno ini kini dikenal sebagai Fabel Aesop. Akan tetapi ada pula yang memberikan definisi lain terkait istilah Fabel. Fabel, dalam khazanah Sastra Indonesia seringkali, diartikan sebagai cerita tentang binatang. Cerita fabel yang populer misalnya Continue reading Asal Usul Cerpen

Berpikir Secerdas Ibnu Abbas r.a.

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Di tengah-tengah para sahabat, yang dikenal sebagai generasi terbaik, paling baik pemahamannya terhadap Kitabullah, terdapat pribadi-pribadi istimewa yang dianugerahi akal fikiran yang mengagumkan.  Di antara mereka ada yang telah mencapai puncak kematangan intelektual. Mereka hadir sebagai sosok yang memiliki kecemerlangan berpikir. Salah satunya adalah Ibnu Abbas r.a., putra dari Abbas, paman sang Nabi Saw.

Ibnu Abbas r.a., ia adalah pribadi yang istimewa. Sejak kecil ia sudah membersamai Sang Nabi Saw. Ketika ia masih belia, pernah suatu saat di akhir malam ia sholat di belakang Nabi Saw. Lalu Nabi Saw menarik tangannya agar berdiri di dekatnya. Tapi setelah Nabi Saw kembali khusyuk dalam sholatnya, ia kembali mundur ke belakang. Usai sholat, Nabi Saw bertanya kepadanya, “Mengapa engkau mundur padahal aku menyuruhmu berdiri di dekatku?” “Apakah patut seseorang sholat di dekatmu, sementara engkau adalah Rasulullah yang mulia?”, jawab Ibnu Abbas r.a.

Nabi Saw kagum dan takjub dengan jawaban Ibnu Abbas r.a. Lalu dengan tulus Nabi Saw berdo’a kepada Allah, “Ya Allah, berilah ia pemahaman yang dalam tentang agama dan ajarilah ia takwil”. Bila Nabi Saw telah berdo’a, adakah ia tak diijabah oleh Allah Swt? Jika Nabi Saw memanjatkan pintanya, meminta kebaikan untuk seorang hamba, adakah yang lebih membahagiakan dari pada hal itu? Aduhai, sungguh beruntung Ibnu Abbas r.a.

Setelah do’a Sang Nabi terucap, seakan-akan setelah hari itu kecerdasan hanyalah milik Ibnu Abbas. Ia menjadi ukuran kecerdasan di antara anak-anak seusianya. Tidak, lebih dari itu. Orang-orang dewasa pun menjadikan ia sebagai marja’ (rujukan). Pernah suatu ketika, ‘Umar bin Khaththab r.a. mengajak Ibnu Abbas r.a. ke sebuah majelis yang dihadiri orang-orang dewasa. “Mengapa anak kecil ini engkau bawa kemari wahai umar?” Continue reading Berpikir Secerdas Ibnu Abbas r.a.

Sekilas Sejarah Kesusastraan Indonesia

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Indonesia dalam perjalanan sejarahnya telah banyak melahirkan penulis, penyair dan sastrawan yang tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga di dunia internasional. Sejak sebelum kemerdekaan, aliran sastra dalam dunia kepenulisan telah berkembang begitu pesatnya. Para penulis yang dikategorikan ke dalam angkatan balai pustaka dianggap sebagai penulis sekaligus sastrawan terbaik pada masa sebelum kemerdekaan. Pasca kemerdekaan, Indonesia rasanya tak pernah habis melahirkan penulis, sebut saja Pramoedya Ananta Toer yang mengambil aliran realis-sosialis. Tetralogi Buru yang ditulisnya saat mendekam di Pulau Buru telah mengantarkan namanya ke kancah internasional, bahkan sempat dicalonkan sebagai peraih nobel dalam bidang sastra. Namanya layak disanding dengan sastrawan dunia seperti Leo Tolstoy dan Ernest Hemingway.

Kesusastraan Indonesia Pra-Kemerdekaan

Para penulis sekaligus penyair pada masa sebelum kemerdekaan disebut pujangga lama. Pengklasifikasian semacam ini berdasarkan periode sejarah sastra indonesia yang lahir sebelum abad 20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi Continue reading Sekilas Sejarah Kesusastraan Indonesia

Melacak Tradisi Menulis Kaum Muslim

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Menulis memang ada sejarahnya. Tapi kapan tradisi menulis ini berawal? Tak ada yang mengetahui dengan persis. Banyak yang meyakini jika tradisi menulis sudah dimulai sejak zaman Yunani kuno. Dalam sejarah umat manusia 7 (tujuh) penulis handal zaman yunani kuno seperti Homer (8 SM), Sophocles (496 – 406 SM), Herodotus (484 – 425 SM), Eurupides (480 – 406 SM), Hippocrates (460 – 370 SM), Aristophanes (446 – 386 SM), dan Plato (424 – 348 SM)1 dianggap paling berjasa dalam perkembangan tradisi menulis.

Beberapa karya mereka merupakan yang paling bernilai di dunia Barat. Sebut saja Plato yang terkenal dengan karya “Republik” dan “Simposium”. Murid Socrates ini juga menuliskan pemikiran-pemikiran sang guru, yang terangkum dalam beberapa karya dan membuat filsafat Socrates dikenal hingga sekarang. Gagasan Plato begitu menarik perhatian para cendikiawan Barat. Pasalnya, teori bentuk dan gagasan negara ideal yang dikenalkan Plato dianggap pemikiran paling brilian pada masanya bahkan (mungkin) hingga sekarang.

Bangsa Persia, atau Plato menyebutnya Bangsa Aryan, juga banyak menghasilkan karya dalam kesustraan. Mirip dengan bangsa Arab Jahiliyah, Persia juga merupakan wilayah dimana sastra tumbuh dan berkembang begitu suburnya. Tahun 220 – 670 M, kesustraan Persia mencapai puncaknya pada masa kekuasaan Bani Sassan. Corak kesustraan Bani Continue reading Melacak Tradisi Menulis Kaum Muslim

Wanita-wanita Hebat Ahli Hadits

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Islam memang tidak pernah habis menghasilkan orang-orang hebat di dalam sejarah umat manusia. Ada ilmuwan, pemikir, ulama, panglima perang, pakar sejarah, dan juga ahli hadits. Hasil pemikiran dan karya mereka telah dikaji oleh banyak pakar abad modern. Mereka ini lah yang menjadi ujung tombak peradaban Islam selama ratusan tahun, mulai dari masa para sahabat Nabi Saw. yang empat hingga masa Daulah Utsmaniyah. Yang lebih menarik, kontribusi penting terhadap peradaban Islam bukan hanya monopoli kaum lelaki, tetapi para wanita juga ikut andil di dalamnya. Termasuk di antaranya adalah kontribusi mereka dalam bidang hadits.

Urusan dapur ternyata tak menghalangi para muslimah untuk berlelah-lelah menghasilkan karya-karya hebat. Di rumah mereka menjadi guru bagi anak-anaknya, di luar mereka menjadi rujukan bagi banyak orang. Di dalam sejarah, kita mendapati nama ‘Aisyah binti Abu Bakar –istri Nabi Saw- sebagai ulamanya para sahabat Nabi saw. Nama ‘Aisyah tercatat di antara para sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Saw. Nabi Saw juga telah menempatkan ‘Aisyah sebagai salah satu marja’ dalam urusan agama sepeninggal beliau. Kecerdasan dan ketelitiannya tak tertandingi, ditambah dengan pengalamannya bersama Nabi Saw saat menerima wahyu.

Ada 78 rawi wanita yang mendapatkan hadits dan meriwayatkannya langsung dari Nabi Saw. Di antara mereka ‘Aisyah menempati urutan pertama sebagai wanita yang meriwayatkan hadits paling banyak, disusul dengan Hindun (Istri Nabi), Maimunah (istri Nabi), Nashibah Umm ‘Athiyyah, Hafshah (istri Nabi), Ramlah (istri Nabi), Asma’ binti Abu Bakar (ipar Nabi), Fathimah binti Qais, Fakhitah binti Abi Thalib (sepupu Nabi) dan Asma’ binti Yazid. Memang dari segi kuantitas hadits yang diriwayatkan oleh para wanita lebih sedikit dibanding dengan yang diriwayatkan oleh para rawi laki-laki. Di dalam kitab Shahih al-Bukhari misalnya, dari sekitar Continue reading Wanita-wanita Hebat Ahli Hadits