Category Archives: Pemikiran

Kultwit: Menelusuri Makna Sekularisasi


sekularisasi
1. Kata “secular” berasal dari bahasa latin: “saeculum”, yang bermakna zaman sekaligus menunjukkan makna waktu.

2. Sekular dalam pengertian waktu merujuk pada ‘kini’ atau ‘sekarang’. Sedangkan dalam pengertian tempat merujuk pada ‘dunia’ atau ‘duniawi’.

3. Seperti yang diungkap oleh Harvey Cox, terminologi sekular lambat laun mengalami peluasan makna.

4. Dlm perkembangannya ia bermakna “pemisahan antara institusi spiritual dan sekular”.

5. Setidaknya ada tiga kerangka pokok dari sekularisasi, seperti yang dipaparkan oleh Harvey Cox.

6. Pertama: pengosongan dunia dari nilai-nilai spiritual dan kepercayaan terhadap hal-hal gaib.

7. Jika manusia masih bersandar pada kuasa supranatural, maka ia tidak dapat berkembang. Itulah alasannya.

8. Maka, ajaran agama dan tradisi spiritual harus disingkirkan.

9. Mereka menganggap hanya manusia yang berhak menentukan sejarah hidupnya sendiri tanpa ‘campur tangan’ Tuhan. Continue reading Kultwit: Menelusuri Makna Sekularisasi

Advertisements

Toleransi atau Pluralisme?

 

toleransi1Jika ada seorang muslim berteriak, “Tidak ada agama yang benar kecuali Islam!”, maka ia bisa dituduh intoleran dan menebarkan benih permusuhan. Dalam era postmodern, toleransi selalu diasosiasikan dengan sikap menghargai agama lain dan tak saling menyalahkan. Artinya, seseorang dianggap toleran ketika ia menerima kebenaran agama lain. Klaim kebenaran adalah sikap intoleran dan mesti ditinggalkan. “Haram” hukumnya dalam era postmodern memaksakan kebenaran agama sendiri kepada pemeluk agama lain. Di sinilah relativisme Nietzche dipropagandakan. Dan seketika itu pula “global theology”-nya Jhon Hick laku keras, termasuk di Indonesia.

Apakah ketika seseorang eksklusif dalam beragama dianggap intoleran? Dalam pandangan Barat jawabannya “iya”. Mereka gemar menuding bahwa agama itu penyebab konflik. Adanya sikap menutup diri dan tidak terbuka terhadap kebenaran agama lain dikatakan sebagai benih-benih munculnya permusuhan. Jadi agar bisa bersikap toleran maka terimalah kebenaran agama lain, begitu kata mereka. Itulah sebabnya, slog an “extra ecclesiam nulla salus” (di luar Gereja tidak ada keselamatan) berganti menjadi teologi inklusif. Dari sinilah cikal bakal munculnya paham pluralisme.

Jadi sebenarnya apakah ada korelasinya antara sikap inklusif (terbuka) dengan toleransi? Apakah ketika seseorang mengakui kebenaran agama lain maka ia menjadi orang yang toleran? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka Continue reading Toleransi atau Pluralisme?

Ayat-ayat Sifat dan Polemik Ahli Kalam

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Dalam tradisi intelektual muslim, perdebatan seputar sifat dan Zat Allah tidak pernah ada habisnya. Perdebatan paling sengit terjadi antara mutakallimin (ahli kalam) yang bermazhab Asy’ariah dan Mu’tazilah. Mengenai sifat-sifat Allah, Mu’tazilah memiliki pandangan bahwa tidak ada perbedaan antara sifat-sifat Allah dengan Zat-Nya, dan keduanya merupakan suatu kesatuan.[1] Sebab jika sifat bukanlah satu kesatuan dengan Zat-Nya atau ia berdiri sendiri –menurut mereka-, maka ia akan menjadi tuhan-tuhan lain selain Allah.

Mengapa mereka berpandangan demikian? Argumentasi mereka ini sebenarnya muncul karena terpengaruh landasan filsafat Trinitas orang-orang Nasrani. Dalam pandangan Nasrani, Yesus dianggap sebagai kalam Allah dan kalam tersebut merupakan salah satu sifat-Nya. Sifat selalu melekat dengan objek yang disifati (mausuf) dan tidak bisa dipisahkan. Artinya, kalam sebagai sifat selalu melekat dengan objeknya, dalam hal ini adalah Allah. Jika Allah itu kekal, maka sifatnya juga kekal. Sehingga mereka berkesimpulan bahwa Yesus yang merupakan kalam Allah adalah bagian yang tak terpisahkan dari Allah. Ia merupakan satu kesatuan. Demikianlah orang-orang Nasrani membangun argumentasi mereka dengan logika mantiq tersebut.

Meski pandangan Mu’tazilah tentang sifat dan Zat Allah sama dengan Nasrani, tetapi Mu’tazilah menolak menyebut kalam Allah sebagai bagian dari sifat-Nya. Sebab jika menerima pandangan kaum Nasrani tersebut konsekuensinya adalah mereka harus membenarkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Maka untuk membantah argumentasi Trinitas, Mu’tazilah menetapkan pandangan bahwa kalam Allah (Al-Qur’an) adalah makhluk bukan sifat Allah. Pandangan ini mereka keluarkan semata-mata untuk membatalkan argumentasi Trinitas. Jika kalam Allah itu makhluk Continue reading Ayat-ayat Sifat dan Polemik Ahli Kalam

Modern Atheism

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Salah satu ciri sekularisasi Barat adalah menyingkirkan pengaruh alam metafisik. Doktrin kuasa dewa-dewi dianggap sebagai doktrin kuno yang mesti ditinggalkan.  Artinya, sekularisasi tidak hanya menghilangkan wibawa agama dari politik, tapi juga membebaskan diri dari agama secara mutlak. Teosentris diganti dengan antroposentris. Dan theis digeser oleh atheis. Abad 18 menjadi era dimana “Tuhan” tidak lagi menjadi sesuatu yang lebih tinggi dari manusia. Manusia dengan akalnya menjadi pusat. Inilah yang disebut dengan antroposentris absolut.

Munculnya ateisme di Barat juga dipicu oleh tirani dan kesewenangan gereja. Nietszche (1844 – 1900) yang merasa telah membunuh “tuhan” dengan gerahnya mengatakan, “Siapapun yang beragama pasti tidak bebas”. Ucapan Nietszche ini selanjutnya disambut oleh kepiluan Sartre, “Jika sekiranya Tuhan itu ada, dia tetap perlu ditolak sebab gagasan tentang Tuhan menafikan kemerdekaan kita”. Ucapan Nietszche maupun Sartre sesungguhnya menggambarkan trauma masyarakat Barat terhadap agama yang mengungkung kebebasan akal. Akhirnya, agama benar-benar dihabisi tidak hanya di gereja-gereja tapi juga di kampus-kampus.

Filsafat dituding sebagai biang kemunculan ateisme, lalu sains menyuburkannya. Marx paling sering mendapat kritik atas materialismenya. Filsafat materialisme yang diusung Marx menyatakan bahwa dunia ini terdiri dan tergantung kepada benda materi. Dengan demikian, bagi materialisme, seluruh realitas dan seluruh kejadian dapat dijabarkan sebagai materi dan proses material.

Jika kita sederhanakan lagi, penolakan Marx (dengan filsafat materialismenya) terhadap keberadaan Tuhan berawal dari anggapan bahwa sesuatu (materi atau benda) yang diakui keberadaannya haruslah berwujud dan dapat ditangkap panca indera. Sesuatu itu harus memiliki panjang, lebar dan padat serta menempati ruang. Kalau kita ingin memastikan keberadaan sebuah kursi, maka kita harus memastikannya dengan cara melihat dengan mata kepala sendiri sebuah benda yang terbuat dari kayu, memiliki empat kaki, dan terletak di sebuah ruangan atau di lapangan bola. Nah, sedangkan Tuhan menurut Marx Continue reading Modern Atheism

Muslim Berwajah Humanis

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Apa pendapat Anda ketika goyangan Anda saat bernyanyi mengundang banyak kontroversi?”, tanya seorang host di acara Talk Show kepada salah seorang penyanyi dangdut. “Saya kan niatnya menghibur, jadi baik-buruk kembali ke diri masing-masing saja”, jawabnya. Di waktu yang lain, seorang artis juga pernah diprotes lantaran pakaiannya yang sangat seksi, dengan santai ia menjawab, “biarkan masyarakat yang menilai”.

Anda sering mendengar pernyataan-pernyataan yang senada dengan itu? Jangan heran, inilah fenomena menjamurnya doktrin humanis. Humanisme telah lama dikenal di Barat sejak masa renaissance. Sejak kebangkitan filsafat Rasionalisme di abad 18 dan 19, masyarakat Barat telah memarjinalkan agama dan menggantinya dengan akal sebagai sumber kebenaran. Istilah humanisme sendiri berasal dari bahasa Italia umanista, yang artinya guru atau murid sastra klasik. Namun benih-benih pemikirannya sudah ada sejak abad 14 di saat masyarakat Barat mulai memiliki semangat untuk mengkaji filsafat. Mereka menganggap bahwa manusia punya kemampuan untuk menentukan kebenaran.

Jadi sebenarnya humanis itu antroposentris, lawan dari teosentris. Antroposentris artinya menjadikan manusia sebagai pusat. Yang menentukan baik dan buruk adalah akal manusia, bukan agama. Meski awalnya ia hidup bersama agama, tetapi di abad modern humanisme telah ‘cerai’ dari agama. Tanpa agama manusia bisa berkembang. Bahkan tanpa Tuhan pun manusia mampu menentukan kebaikan dan keburukan. Robert G. Ingersoll, seorang humanis sekular, dengan terang-terangan mengatakan, “kini saya yakin hantu dan tuhan adalah mitos. Aku bebas meneriakkan apa saja!”. Inilah wajah humanis yang sebenarnya, ateis. Continue reading Muslim Berwajah Humanis

Dunia Ketiga dan Politik Neo-Liberal

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Semenjak Alfred Sauvy -seorang demografer Perancis-, mengenalkan istilah dunia ketiga, negara-negara bangsa terbagi dalam tiga kategori luas, yaitu Dunia Pertama, Dunia Kedua, dan Dunia Ketiga. Dunia Pertama adalah negara-negara yang masuk blok Barat dan Dunia Kedua adalah negara-negara yang masuk ke dalam blok Timur. Sedangkan negara-negara Dunia Ketiga awalnya adalah kelompok negara yang tidak termasuk ke dalam blok Barat dan blok Timur. Namun, pasca perang dingin istilah Dunia Ketiga dipakai untuk negara yang memiliki Indeks Pengembangan Manusia (IPM) PBB yang relatif lebih rendah dibanding negara maju.

Ada teori yang muncul kemudian, yang dikenal dengan istilah dependensi. Teori ini sedikit banyak memberikan pengertian yang lebih spesifik terhadap Dunia Ketiga. Ciri khas dari teori ini adalah analisisnya yang membagi negara-negara di dunia menjadi dua kutub besar, yakni pusat (center) dan periferi.

Teori ini membagi negara-negara di dunia dari perspektif yang berbeda. Negara-negara yang berada di pusat adalah negara-negara maju, sedangkan negara-negara yang berada di periferi adalah negara-negara Dunia Ketiga. Negara-negara periferi inilah yang menyuplai bahan mentah ke negara-negara maju yang bertindak sebagai pengolah karena memiliki industri yang mendukung. Jadi, dunia ketiga yang termasuk negara-negara dengan IPM yang rendah, jika dilihat dari perspektif teori ini termasuk negara-negara periferi yang cenderung berada di bawah hegemoni negara-negara maju.

Bicara soal fakta, negara-negara Dunia Ketiga di satu sisi punya potensi sumber daya alam yang melimpah, seperti Indonesia. Di sisi lain, sumber daya alam itu tidak bisa menyejahterakan masyarakatnya. Invasi politik yang dilakukan negara-negara adidaya terutama AS, telah mengubah kebijakan politik negara-negara berkembang. Politik neoliberal yang menjadi mainstream politik global telah menarik negara-negara Dunia Ketiga dalam sebuah kondisi yang mematikan. Yang menyebabkan potensi sumber daya alamnya dieksploitasi secara bebas oleh negara-negara maju. Dengan politik inilah, negara-negara Barat mencoba Continue reading Dunia Ketiga dan Politik Neo-Liberal

Konsep Tuhan Dalam Islam: Final dan Otentik

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Gelombang modernisme peradaban Barat yang begitu massif telah menyeret umat dalam arus syirik kontemporer. Melalui paham liberalisme yang berakar pada konsep relativisme, sebagian orang telah gemar melakukan penelaahan ulang terhadap konsep-konsep yang fundamental dalam agama Islam. Kemudian membentuk arus baru dengan apa yang disebut sebagai pluralisme agama yang tak lebih adalah paham syirik berwajah modern dan berlagak ilmiah. salah satu ‘penyakit’ yang disebar melalui paham ini adalah konsep mengenai Tuhan. John Hick misalnya, menggagas konsep “The Eternal One”, yaitu Tuhan yang menjadi tujuan semua agama. Apa pun jalannya,tujuannya tetap satu. Begitulah John Hick berpandangan. Jadi tak masalah Anda beragama apa karena semuanya benar.

Di Indonesia tren ini diperkuat oleh Anand Krishna yang mengatakan, “Jalan bisa berbeda. Jelas berbeda. Orang Iran ke Mekkah tidak harus lewat Indonesia. Orang Indonesia ke Mekkah tidak harus lewat Cina. Orang India ke Mekkah tidak harus lewat Amerika. Orang Mesir ke Mekkah tidak harus lewat Eropa. Orang Eropa ke Mekkah tidak harus lewat Australia. Jalan berbeda, jelas-jelas berbeda.Tetapi apabila kita menganggap tujuan pun berbeda, maka sesungguhnya kita musyrik. Justru kita yang menduakan Allah, menduakan Tuhan.”1

Kaum pluralis berpandangan bahwa agama adalah ekspresi budaya yang relatif sifatnya. Maka tak masalah menurut mereka jika umat Islam sesekali menyebut Tuhannya dengan Yahweh, God,Lord, atau Yesua. Toh muaranya tetap pada satu Tuhan. Sedangkan di kalangan penganut agama Kristen, terjadi perdebatan mengenai sebutan untuk Tuhan. Seperti kata “Yesus” diubah menjadi “Yesua” yang dilakukan oleh kelompok Kristen yang menyebut dirinya “Jaringan Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh”.2 Kelompok ini juga mengubah kata “Tuhan” menjadi “Yahwe”. Dalam agama Yahudi ada sebutan Lata, Uzza, Hubal, disamping sebutan untuk Allah sendiri. Gejala ‘spekulasi teologis’ semacam ini terjadi oleh sebab tak ada sumber yang otentik tentang kebenaran konsep dan nama Tuhan. Yang terjadi adalah dugaan-dugaan yang tak menghasilkan keyakinan sama sekali.

Bagi umat Islam, penyebutan nama Tuhan yang bersifat spekulatif tentu sangat bermasalah. Sebab, hal ini bisa mengaburkan konsep tauhid Islam. Penyebutan kata “Allah” di dalam Al-Qur’an menandakan bahwa penyematan nama untuk Dzat Yang Maha Kuasa haruslah bersumber dari Allah sendiri dengan sifat-sifat yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Dengan berdasar pada sumber yang otentik akan mencegah spekulasi Continue reading Konsep Tuhan Dalam Islam: Final dan Otentik