Category Archives: Catatan

Bongkar Misteri ‘Menulis itu Susah’

Oleh : Rindyanti Septiana

tips-menulisIngin bisa menulis? Atau, cita-cita yang lebih tinggi lagi: ingin jadi penulis? Yang paling sering muncul ke permukaan, meski tidak teverbalisasikan dengan sempurna adalah: S-U-S-A-H.

Ya, mereka yang ingin nulis tapi cenderung masih begitu-begitu aja nasibnya, in other word: going nowhere, stagnan (bahasa Indonesianya), mengaku: menulis itu nggak gampang. Aneh, ya? Padahal Arswendo Atmowiloto saja sudah nulis buku: Mengarang itu Gampang. Kenapa masih ada yang bilang nulis itu susah?

Not Yet A Culture

Penyebab nomor 1 kenapa nulis sangat complicated untuk kamu yang baru mulai adalah masalah budaya. Pelajari sejarahmu jadi “Tukang Ngomong” yang handal seperti sekarang. Kamu pikir kemahiran itu langsung kamu punya on the day you were born? Jadi, jangan bilang nulis itu susah tanpa melongok ke dalam diri: sudahkah saya punya budaya menulis?

Maka menulislah setiap hari. Menulis apa? Menulis apa saja. Terserah. Bisa diary, cerpen setengah Continue reading Bongkar Misteri ‘Menulis itu Susah’

Advertisements

Membersamai Sang Guru

Oleh: Kusnady Ar-Razi

majelis ilmuPerawakannya kecil, tubuhnya kurus dan pendek. Ia pernah kehabisan nafas lantaran dipukuli orang-orang Quraiys saat melafadzkan dua ayat pertama dari surah Ar-Rahman di dekat Ka’bah. Orang-orang Quraiys itu begitu beringas, memukuli lelaki itu bertubi-tubi, sampai ia kehilangan tenaga. Ibnu Mas’ud, begitu ia sering dipanggil, telah menunjukkan kepada para sahabat bahwa persoalan menyampaikan kebenaran harus selalu disertai keberanian. Di mata para sahabat ia adalah sosok yang istimewa.

Ibnu Mas’ud, sungguh beruntung ketika suatu saat Nabi memintanya melayani keperluan beliau. “Kuizinkan engkau untuk mengurusi alat perangku dan melayaniku”, sabda Sang Nabi. Sejak itulah ia melayani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, memakaikan sandal, menutupi beliau saat mandi, berjalan di belakang beliau, dan membangunkan beliau. Hingga para sahabat menyebutnya sebagai shihab al-siwad wa al-siwak, penyedia alat perang dan siwak. Kemana pun Nabi menjejakkan kaki, Ibnu Mas’ud selalu menyertai beliau.

Tidak banyak di antara para sahabat yang seberuntung Ibnu Mas’ud bisa menyertai Sang Nabi sesering mungkin. Kebersamaan itu telah menjadikan ia sebagai pelayan, sahabat, sekaligus murid. Sebagai pelayan ia mendapatkan keberkahan dan pahala bercucuran lantaran yang dilayani adalah Kekasih Allah, manusia paling utama, dan pemimpin para Nabi dan Rasul. Sebagai sahabat ia selalu mendapatkan perhatian dan kehangatan sikap Sang Nabi. Kehangatan dalam balutan ukhuwah selalu ditunjukkan Sang Nabi kepada sahabat terkasihnya yang satu itu. Dan sebagai murid, ia berhasil menyerap ilmu dari Sang Guru. Tidak ada satu kesempatan pun yang ia lewatkan melainkan ia akan menyeksamai setiap ayat Al-Qur’an dan sabda yang keluar dari lisan Sang Nabi. Ia larut dalam mulazamah bersama Nabi.

Ibnu Mas’ud, dulu ia hanyalah seorang budak ketika menjelang baligh. Sejak bertemu dengan Sang Nabi ketika menggembalakan kambing milik tuannya, Rasulullah telah menarik hatinya. Didatangilah Sang Nabi. Ia bersyahadat. Continue reading Membersamai Sang Guru

Berpikir Secerdas Ibnu Abbas r.a.

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Di tengah-tengah para sahabat, yang dikenal sebagai generasi terbaik, paling baik pemahamannya terhadap Kitabullah, terdapat pribadi-pribadi istimewa yang dianugerahi akal fikiran yang mengagumkan.  Di antara mereka ada yang telah mencapai puncak kematangan intelektual. Mereka hadir sebagai sosok yang memiliki kecemerlangan berpikir. Salah satunya adalah Ibnu Abbas r.a., putra dari Abbas, paman sang Nabi Saw.

Ibnu Abbas r.a., ia adalah pribadi yang istimewa. Sejak kecil ia sudah membersamai Sang Nabi Saw. Ketika ia masih belia, pernah suatu saat di akhir malam ia sholat di belakang Nabi Saw. Lalu Nabi Saw menarik tangannya agar berdiri di dekatnya. Tapi setelah Nabi Saw kembali khusyuk dalam sholatnya, ia kembali mundur ke belakang. Usai sholat, Nabi Saw bertanya kepadanya, “Mengapa engkau mundur padahal aku menyuruhmu berdiri di dekatku?” “Apakah patut seseorang sholat di dekatmu, sementara engkau adalah Rasulullah yang mulia?”, jawab Ibnu Abbas r.a.

Nabi Saw kagum dan takjub dengan jawaban Ibnu Abbas r.a. Lalu dengan tulus Nabi Saw berdo’a kepada Allah, “Ya Allah, berilah ia pemahaman yang dalam tentang agama dan ajarilah ia takwil”. Bila Nabi Saw telah berdo’a, adakah ia tak diijabah oleh Allah Swt? Jika Nabi Saw memanjatkan pintanya, meminta kebaikan untuk seorang hamba, adakah yang lebih membahagiakan dari pada hal itu? Aduhai, sungguh beruntung Ibnu Abbas r.a.

Setelah do’a Sang Nabi terucap, seakan-akan setelah hari itu kecerdasan hanyalah milik Ibnu Abbas. Ia menjadi ukuran kecerdasan di antara anak-anak seusianya. Tidak, lebih dari itu. Orang-orang dewasa pun menjadikan ia sebagai marja’ (rujukan). Pernah suatu ketika, ‘Umar bin Khaththab r.a. mengajak Ibnu Abbas r.a. ke sebuah majelis yang dihadiri orang-orang dewasa. “Mengapa anak kecil ini engkau bawa kemari wahai umar?” Continue reading Berpikir Secerdas Ibnu Abbas r.a.

Hikayat Cinta Akhir Zaman

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Konon, jika ada sepasang anak manusia memutuskan untuk mati bersama karena cinta, itu adalah pembuktian cinta sejati kata orang-orang. Cinta sejati dibawa sampai mati, begitu katanya. Mirip seperti roman picisan dari ranah Eropa, Romeo dan Juliet. Ada pula kisah Qais yang menunggui pusara Laila dalam keadaan putus asa selama 10 tahun. Lantaran ditinggal pujaan hati, Qais rela menghabiskan waktunya di atas tempat peristirahatan Laila. Dan pada akhirnya ia pun menemui ajalnya yang dinanti-nanti selama hidupnya agar bisa bertemu Laila di alam lain. Bagi para pemuja cinta tak peduli berapa banyak waktu yang telah mereka habiskan dan berapa banyak harta yang telah dikeluarkan, asalkan bisa bersama kekasih hati semua yang telah dihabiskan tak jadi persoalan. Dunia rasanya telah menjadi milik mereka berdua, sedangkan yang lain hanya numpang saja.

Entah mengapa kisah cinta seperti ini begitu melekat dalam kehidupan kita. Dari masa ke masa, generasi berganti generasi, kisah cinta semacam ini telah menginspirasi jutaan anak adam  melakukan aktivitas percintaan yang tak seharusnya. Di Barat, demi melanggengkan rasa cinta anak-anak muda bebas mengekspresikan cintanya. Sex before married adalah Continue reading Hikayat Cinta Akhir Zaman

2012: Saatnya Era Dakwah 2.0

Oleh: Kusnady Ar-Razi*

Kita barangkali masih ingat, bagaimana Obama, seorang keturunan Afro Amerika pada tahun 2008 berhasil merangkak menjadi orang nomor satu di negara adidaya. Ia berhasil menaklukkan lawan politiknya dalam kampanye presiden dengan efektif memanfaatkan social media online. Aktif di Twitter dengan puluhan ribu follower, menyebaran gagasan secara konsisten via website pribadi, dan meng-upload video orasi di Youtube dinilai banyak kalangan sebagai langkah jitu Obama dalam strategi untuk memenangkan pemilu. Teknologi web 2.0 ternyata menjadi senjata utamanya.

Pada contoh kasus di atas, kita bisa mencermati bagaimana tim marketing Obama begitu jeli melihat peluang media komunikasi (internet) yang semakin horizontal, membuat semua orang (terutama kelas akar rumput) bisa mengakses dan menyampaikan opininya. Jika demikian, seharusnya kita sebagai pelaku dakwah yang menawarkan gagasan dan pemikiran Islam juga harus mampu memanfaatkan media online secara efektif. Maka kemungkinan besar, gelombang opini syari’ah akan semakin tak terbendung.

Sebagai sebuah sarana dakwah, media online layak dioptimalkan untuk mengekspor  opini syari’ah dan khilafah ke seluruh pelosok dunia. Jika kita mengasumsikan di Indonesia ada 100.000 pengemban dakwah syari’ah dan masing-masing memiliki web atau blog pribadi, yang rata-rata diakses 10 orang saja tiap harinya berarti dalam waktu sehari ada 1.000.000 manusia yang Continue reading 2012: Saatnya Era Dakwah 2.0

Deradikalisasi Bukan Solusi

Oleh: Kusnady Ar-Razi

[Sebuah Catatan Singkat]

Berawal dari semangat melumpuhkan ideologi radikal, program de-radikalisasi direalisasikan dengan begitu cepat memakan ‘korban’ dari umat Islam. Beberapa aktivis yang dicurigai terlibat aksi terorisme dikirim ke ‘rumah besi’ tanpa diawali proses pengadilan. Ini sebabnya sedari awal program ini berdiri di atas paradoks paradigma terorisme yang digelindingkan AS ke negara-negara dunia ketiga. Definisi terorisme seringkali menjadi bias ketika diasosiasikan dengan individu atau kelompok yang berbeda pandangan dengan Barat.

Dalam pandangan Barat, setiap upaya dan aksi yang mengancam kepentingan mereka maka itulah terorisme. Itulah mengapa Barat memasukkan PLO, Red Brigades, Cuba, Lybia, dan gerakan Islam politik sebagai kelompok teroris karena mengancam imperialisme global. Tetapi pengelompokan tersebut tidak berlaku bagi rezim-rezim “teroris” Garcia di Guatemala, Pinoshet di Chili, dan rezim Apartheid di Afrika Selatan. Padahal, pada 4 Mei 1978 tentara Afrika Selatan membunuh lebih dari 600 orang warga di kamp pengungsi Kassinga, Namibia.

Kentalnya doktrin dan pola pikir ‘bahaya Islam’ semakin memperjelas bahwa sasaran de-radikalisasi (sebagai kepanjangan agenda WOT) adalah Islam dan umatnya. Jadi bisa dibaca kemana arah program ini. Bukan hanya membahayakan fisik tetapi juga pemikiran umat Islam. Parahnya, de-radikalisasi memiliki potensi de-islamisasi (penghancuran Islam). Ada upaya tahrif (perubahan) terhadap sejumlah konsepsi, seperti Jihad, thaghut, ummatan wasathan, Khilafah, dll. Sekali lagi, usaha semacam ini adalah bagian dari strategi untuk mengubah cara pandang ‘pelaku terorisme’ dan aktivis Islam yang radikal agar lebih moderat dan pro Barat.

De-radikalisasi tidak akan menghilangkan terorisme. Justru yang timbul adalah resistensi yang lebih besar dari umat yang merasa terdzolimi akibat implementasi program ini. Bukan tidak mungkin akan melahirkan aksi-aksi kekerasan lainnya. De-radikalisasi sebenarnya tak menyentuh akar persoalan. Penentangan terhadap pemerintah sebenarnya lahir akibat ketidakadilan yang diciptakan penguasa. Jadi, jika negara ingin menghilangkan aksi terorisme, maka ketidakadilan dalam pengurusan rakyat itulah yang harus dihilangkan. Dan solusi semacam ini hanya bisa diambil jika negara mengubah paradigma dalam pengelolaan negara. Sistem Kapitalisme yang berdiri di atas pilar kerakusan dan ketidakadilan harus segera Continue reading Deradikalisasi Bukan Solusi

Fasisme; Doktrin Politik Bergaya Sinkretis

Oleh: Kusnady Ar-Razi

[Sebuah catatan singkat]

Sangat sulit sebenarnya jika kita hendak mengatakan fasisme sebagai sebuah ideologi yang utuh. Di tengah pergulatan antara “kiri” dan “kanan” pada abad 20, fasisme tampil sebagai paham yang bergaya sinkretis. Di beberapa negara, paham ini sedikit “kekiri-kirian”, tetapi juga mengambil unsur dari “kanan”. Zeef Sternhell melihat fasisme sebagai hasil sintesis antara sosialisme radikal dan nasionalisme. Dan mencoba untuk menjadi “jalan ketiga” dengan menyerang ideologi-ideologi lain yang lebih mapan.

Melihat perjalanan fasisme, bagi sebagian orang doktrin ini tampak sulit dipahami. Roger Eatwell mengatakan, fasisme bisa dipahami jika kita fokus pada dua perkembangan besar di akhir abad 19 dan awal abad 20 yaitu nasionalisme dan pemikiran rasis yang holistis. Partai Buruh Nasionalis Jerman atau yang dikenal dengan sebutan Nazi, tampil sebagai gerakan yang mengusung kedua paham ini sebagai doktrin politiknya. Nasionalisme yang cenderung berlandaskan ikatan “darah” yang emosional memunculkan sikap anti-semit di Jerman. Maka tak heran jika selama Hitler berkuasa lahir undang-undang yang diskriminatif terhadap orang-orang Yahudi.

Pemikiran rasis yang menonjolkan superioritas bangsa Arya menjadi ciri khas fasisme di Jerman. Hitler dalam Mein Kampf –yang menjadi kitab suci partai Nazi- memaparkan teori ras unggul bangsa Arya sebagai alasan untuk melakukan pemurnian ras dan penaklukan besar-besaran ke berbagai wilayah. Kebijakan luar negeri Hitler yang melakukan invasi ke negara lain sangat dipengaruhi oleh Haushofer yang menyodorkan teori geopolitiknya kepada Hitler yang dikenal dengan “The Heartland Theory”. Dalam teori tersebut, kawasan Asia Tengah disebut sebagai Heartland (jantung bumi) karena memiliki kekayaan minyak bumi dan gas alam. Jika kawasan kunci ini dikuasai Hitler, maka dunia akan berada di bawah kendali Jerman.

Sementara di Italia, fasisme muncul dalam bentuk yang berbeda. Perbedaan yang signifikan antara keduanya adalah fasisme Italia tidak didasarkan pada rasisme biologis. Renzo De Felice berpandangan fasisme Italia muncul dari “kiri”, sedangkan Nazisme berakar di “kanan”. Fasisme di Italia menuai sukses dalam menancapkan doktrin-doktrinnya setelah Mussolini Continue reading Fasisme; Doktrin Politik Bergaya Sinkretis