Category Archives: Analisis

Dunia Ketiga dan Politik Neo-Liberal

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Semenjak Alfred Sauvy -seorang demografer Perancis-, mengenalkan istilah dunia ketiga, negara-negara bangsa terbagi dalam tiga kategori luas, yaitu Dunia Pertama, Dunia Kedua, dan Dunia Ketiga. Dunia Pertama adalah negara-negara yang masuk blok Barat dan Dunia Kedua adalah negara-negara yang masuk ke dalam blok Timur. Sedangkan negara-negara Dunia Ketiga awalnya adalah kelompok negara yang tidak termasuk ke dalam blok Barat dan blok Timur. Namun, pasca perang dingin istilah Dunia Ketiga dipakai untuk negara yang memiliki Indeks Pengembangan Manusia (IPM) PBB yang relatif lebih rendah dibanding negara maju.

Ada teori yang muncul kemudian, yang dikenal dengan istilah dependensi. Teori ini sedikit banyak memberikan pengertian yang lebih spesifik terhadap Dunia Ketiga. Ciri khas dari teori ini adalah analisisnya yang membagi negara-negara di dunia menjadi dua kutub besar, yakni pusat (center) dan periferi.

Teori ini membagi negara-negara di dunia dari perspektif yang berbeda. Negara-negara yang berada di pusat adalah negara-negara maju, sedangkan negara-negara yang berada di periferi adalah negara-negara Dunia Ketiga. Negara-negara periferi inilah yang menyuplai bahan mentah ke negara-negara maju yang bertindak sebagai pengolah karena memiliki industri yang mendukung. Jadi, dunia ketiga yang termasuk negara-negara dengan IPM yang rendah, jika dilihat dari perspektif teori ini termasuk negara-negara periferi yang cenderung berada di bawah hegemoni negara-negara maju.

Bicara soal fakta, negara-negara Dunia Ketiga di satu sisi punya potensi sumber daya alam yang melimpah, seperti Indonesia. Di sisi lain, sumber daya alam itu tidak bisa menyejahterakan masyarakatnya. Invasi politik yang dilakukan negara-negara adidaya terutama AS, telah mengubah kebijakan politik negara-negara berkembang. Politik neoliberal yang menjadi mainstream politik global telah menarik negara-negara Dunia Ketiga dalam sebuah kondisi yang mematikan. Yang menyebabkan potensi sumber daya alamnya dieksploitasi secara bebas oleh negara-negara maju. Dengan politik inilah, negara-negara Barat mencoba Continue reading Dunia Ketiga dan Politik Neo-Liberal

KRISIS PALESTINA DAN ILUSI POLITIK LUAR NEGERI AS

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Pidato Obama yang beberapa waktu lalu meramaikan halaman media cetak maupun media elektronik di seluruh dunia memang mengundang sejumlah tanda tanya. Dari Departemen Kementrian Luar Negeri AS, Obama dengan begitu meyakinkan (dalam pidatonya) mendukung solusi dua negara Palestina. Bahkan, Obama menghendaki Israel untuk segera menghentikan perluasan permukiman Yahudi. ”Masing-masing negara memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri, saling mengakui, dan perdamaian,” kata Obama. Tetapi benarkah AS ingin mengakhiri krisis Palestina? Lalu solusi apa sebenarnya yang dikehendaki AS?

Seolah ingin membangun citra baik, Obama dengan begitu lihainya menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa AS menginginkan perdamaian di Palestina. Padahal kita tahu, Israel tidak akan kuat eksistensinya jika tak didukung AS. Israel juga tak akan begitu intensifnya menggempur Palestina jika AS tidak menyuplai teknologi senjata super canggih dan biaya perang yang tinggi. Sejak awal mula terpilih sebagai orang nomor satu di AS, Obama telah memberikan komitmennya untuk menjaga eksistensi Israel. Di depan AIPAC, Obama menentang setiap upaya PBB untuk menciptakan sebuah negara yang merdeka dan berdaulat untuk rakyat Palestina. “Tidak ada suara di PBB yang akan mewujudkan sebuah negara merdeka Palestina,” ujar Obama saat itu. Dengan komitmennya ini, AS ingin menjaga superioritas militer Israel yang melakukan pendudukan selama puluhan tahun.

Kebijakan luar negeri AS tidak pernah berubah dalam memandang krisis Palestina. Janji Obama di AIPAC seakan seperti warisan perkataan Colin Powel pada tahun 2001 yang mengatakan, “Sungguh kami telah berada di pihak Israel sejak berdirinya dan kami akan selalu bersama Israel sepanjang sejarahnya.” Hal ini juga menjadi kebijakan umum luar negeri AS era Obama, seperti yang dikatakan obama di saat terpilih menjadi presiden, “Biarkan saya jelaskan: Amerika berkomitmen pada keamanan Israel. Dan kita akan selalu mendukung hak Israel untuk membela dirinya di hadapan ancaman yang nyata. Selama bertahun-tahun, Hamas telah meluncurkan ribuan roket kepada warga Israel yang tak berdosa. Tidak ada demokrasi yang bisa menerima bahaya seperti ini bagi rakyatnya, tidak pula komunitas internasional, dan tidak juga rakyat Palestina sendiri, yang kepentingannya telah terabaikan karena aksi teror. Sebagai pihak yang benar-benar menghendaki perdamaian, Kuartet [AS, Rusia, Uni Eropa, PBB] telah menegaskan bahwa Hamas harus memenuhi syarat yang jelas ini: akui hak eksistensi Israel, hentikan kekerasan, dan patuhi perjanjian [antara Israel-PLO/Otoritas Palestina] yang telah dibuat di masa lalu.”

Dalam pidato pada kamis malam itu, Obama memang terlihat tegas terhadap Israel. Tetapi, ia selalu tetap mendahuluinya dengan kalimat Continue reading KRISIS PALESTINA DAN ILUSI POLITIK LUAR NEGERI AS