Sirhindi dan Cucu Timur Leng

1456696_598819753488849_1460013256_nAhmad Sirhindi, seorang ulama India, pernah merasakan pahitnya penjara hanya karena mengucapkan salam dan enggan sujud kepada raja. Gara-gara persoalan kecil semacam ini ia mendekam di dalam jeruji besi selama bertahun-tahun. Barangkali situasinya mirip dengan zaman orde baru, hari ini mengkritik penguasa, keesokan hari sudah meringkuk di tahanan. Begitulah jika zaman dipimpin penguasa zhalim.

Siapa Ahmad Sirhindi?

Dulu, tahun 963 H, India pernah berada di bawah kekuasaan seorang raja keturunan Mongol, cucu dari Raja Timur Leng. Jalaluddin Akbar namanya. Celakanya, ia bukanlah raja yang baik dan memuliakan agama sebagaimana namanya (Jalaluddin) yang berarti “kemuliaan agama”. Alih-alih memuliakan agama, ia malah merusaknya. Selama berkuasa ia justru mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Kesesatannya tak tanggung-tangung, ia mengharamkan penyembelihan sapi, membangun kuil, dan berdo’a dengan menghadapkan wajahnya ke arah matahari persis seperti orang-orang Hindu.

Jalaluddin juga melecehkan para Nabi a.s. dengan sangat keterlaluan. Ia haramkan pemberian nama untuk keturunan raja dengan nama-nama Nabi, tapi ia bolehkan untuk anak para budak. Seolah-olah nama para Nabi yang mulia itu hanya cocok untuk para budak yang mereka hinakan.

Di saat-saat kezhaliman ini, ulama yang menantang raja akan dihukum, ditekan, dan para pengikutnya dipenjara dan disiksa dengan cara yang sadis. Inilah zaman dimana umat dilanda fitnah yang besar. Di tengah-tengah tumbuhnya fitnah yang menyakitkan inilah Ahmad Sirhindi dilahirkan. Ia diberi nama Ahmad bin Abdul Ahmad Al-Faruqi As-Sirhindi. Ia lahir di saat kebengesin sang Raja telah memupus harapan orang-orang mukmin untuk hidup dalam keadaan tenang.

Apakah tabi’at orang-orang Mongol memang demikian bengisnya? Membaca cucu Timur Leng ini ingatan kita akan dibawa ke zaman tempo dulu saat kejatuhan Baghdad di tangan Tartar. Seketika Baghdad banjir darah. Sungai menghitam akibat tinta dari buku-buku yang dibuang dan ditenggelamkan ke dasar sungai. Di masa Ibnu Taimiyah, bangsa Tartar tak jauh beda zhalimnya. Sebab itulah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tak bisa berdiam diri. Mereka tak bisa diluruskan dengan lisan ataupun pena. Kedzaliman mereka hanya bisa dihentikan dengan pedang. Beliau terlibat dalam perang selama empat hari hingga Tartar berhasil dipukul mundur.

Apakah Syeikh As-Sirhindi mesti menempuh jalan yang sama? Apakah As-Sirhindi mesti menghunuskan pedangnya seperti Ibnu Taimiyah? As-Sirhindi mengambil jalan yang berbeda. Meski situasinya mirip, tapi tak sama persis. Tahun 1014 H, Jalaluddin Akbar menemui ajalnya. Syeikh (Ahmad Sirhindi) menunggu dan melihat situasi, apakah pasca kematian Jalaluddin kondisinya sama atau berubah. Raja yang baru naik tahta. Jihan Kir namanya, putra dari Jalaluddin Akbar. Syeikh tahu betul, Jihan Kir tak sama seperti ayahnya. Tapi sayang, orang-orang di sekitar raja bukanlah orang-orang baik. Sebagian mereka adalah penyokong kekuasaan ayahnya.

Syeikh berusaha membangun hubungan baik dengan raja. Ia mencoba meluruskan pemikiran sang raja agar tak mengikuti jejak ayahnya. Ia mesti berupaya keras, jika ia tak berhasil mengubah sang raja, maka orang-orang yang di sekitarnya lah yang akan merusaknya. Inilah jalan yang ditempuh oleh syeikh.

“…Sesungguhnya medan perjuangan Islam masih kosong menunggu tentara-tentaranya. Pernahkah engkau menikmati kebahagiaan ini, menjaga bentengnya, menolong agama yang teraniaya ini, dan marah demi membelanya? Hingga perjuanganmu mencapai puncaknya yang tidak pernah dicapai oleh orang-orang yang puasa dan shalat malam”, tulis syeikh dalam salah satu suratnya kepada raja.

Nasihat yang baik tak melulu mendapat balasan yang baik. Setidaknya itulah yang dirasakan Syeikh As-Sirhindi. Setelah membaca surat tersebut, seorang penasihat raja dengan liciknya menghasut sang raja dengan mengatakan bahwa syeikh adalah orang yang berbahaya. Raja lalu mengundang syeikh. Tak seperti orang lain, syeikh masuk menemui raja layaknya seorang muslim. Ia mengucapkan salam tanpa mau bersujud kepada raja.

“Apa-apaan ini? Keluarkan dia!”, perintah sang raja. Rupa-rupanya raja tak terima dengan sikapnya syeikh yang dianggap tak menghormatinya lantaran enggan bersujud. Ah, ternyata persoalan kecil ini telah membuat syeikh mendekam di balik jeruji besi dalam waktu yang lama. Tidak ada yang tahu sampai kapan masa hukuman itu berakhir.

Meski memenjarakan raga, tapi raja tak bisa memasung dakwah Syeikh As-Sirhindi. Kelembutan dakwahnya, manisnya akhlak, ketulusan tutur katanya, telah menjadi pintu hidayah bagi beratus-ratus orang di tahanan. Mereka yang awalnya pelaku kriminal telah tunduk dan bersujud kepada Allah. Mereka dididik dengan pendidikan terbaik oleh Syeikh. Dari yang awalnya hanya sekadar tempat tahanan, di bawah penanganan Syeikh berubah menjadi ‘markas pengkaderan’. Beliaulah mu’allim terbaik. Seburuk apapun perilaku seseorang mampu beliau ubah menjadi pribadi-pribadi yang menawan.

Ternyata seorang Kepala Sipir penjara diam-diam memperhatikan aktivitas Syeikh di dalam tahanan. Sesuatu yang tak pernah beliau bayangkan sebelumnya. Bagaimana bisa narapidana bisa dididik sedemikian rupa hingga menjadi ahli ibadah dan da’i? Ia menulis surat kepada raja. Mestinya raja menempatkan ulama yang brilian ini di tempat yang tepat dan memenuhi hak-haknya, bukan di dalam tahanan semacam ini.

Maka dibawa lah Syeikh As-Sirhindi ke hadapan Raja, seorang cucu Timur Leng. Apa yang diinginkan raja? Raja memberikan kesempatan kepada syeikh untuk menjadi tamunya. Raja ingin melihat sendiri sehebat dan se’alim apa Syeikh As-Sirhindi ini. Bersyukurlah kita, Allah menganugrahkan beliau berupa lahjah yang baik lagi fasih, ungkapan yang menawan dan berwibawa. Inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh beliau selama bertahun-tahun, mendakwahi raja secara langsung. Beliau optimis bahwa Jihan Kir tak seperti ayahnya.

Perlahan Jihan Kir mulai menyimak nasihat-nasihat syeikh. Hatinya mulai terpikat dengan pemikiran dan wibawa Syeikh As-Sirhindi. Beliau menanggalkan kekeliruan pandangannya, lalu shalat di belakang syeikh, dan seluruh istana menggema lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang syahdu. Di dalam istana Syeikh As-Sirhindi ibarat oase. Keadaan istana yang dulunya kering dari mengingat Allah, seketika menjadi sangat religius.

Tanpa menghunuskan pedang, dakwah syeikh berhasil. Selagi penguasa bisa diubah dengan lisan, syeikh tak mau menempuh jalan perang. Inilah kejelian analisis dakwah dari seorang ‘alim seperti As-Sirhindi. Tanda keberhasilan Syeikh adalah dikeluarkannya lima peraturan oleh raja:

  1. Diharamkan bersujud kepada raja
  2. Diperbolehkan menyembelih sapi
  3. Mengangkat qadhi dan penarik zakat di seluruh negeri
  4. Membangun kembali masjid yang dihancurkan
  5. Menghapus undang-undang yang bertentangan dengan syari’at Islam

Dakwah membutuhkan dua sayap. Sayap pertama adalah kesabaran, dan sayap yang kedua adalah ketulusan. Andaikan syeikh tak sabar, tentu ia akan memilih mendiamkan kemungkaran agar ia mendapatkan hidup yang tenang. Andai syeikh tak tulus, tentu ia memilih berada di sisi raja dan membenarkan kemungkarannya agar mendapatkan kenikmatan dunia yang sedikit. Tapi syeikh tak melakukan itu. Tabi’at dakwah adalah berlelah-lelah. Tabi’at dakwah adalah kesabaran. Sabar hingga Allah memenangkan perkara ini atau binasa karenanya. Dan tabi’at dakwah adalah ketulusan. Tulus bahwa menyampaikan risalah itu semata-mata wujud ketundukan kepada Allah semata, bukan karena makhluk.

Begitulah syeikh kita dengan dakwahnya. Begitulah, manis dan getirnya perjuangan hanya dirasakan oleh orang-orang yang berjuang.

[@KusnadyArRazi]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s