Islam Tak Mengenal Politik?

islam-politik2Ada semacam doktrin yang dipegang oleh masyarakat bahwa politik bukanlah bagian dari Islam, dan Islam tak ada hubungannya dengan politik. Doktrin semacam ini setidaknya disebabkan oleh dua hal. Pertama, menganggap Islam adalah agama ritual yang hanya mengatur urusan privat seperti shalat, puasa, haji, dan seterusnya, dan tidak mengatur urusan politik. Kedua, menganggap bahwa politik adalah aktivitas yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan, serta sarat dengan penipuan dan pengkhianatan, sedangkan Islam dianggap suci dari semua hal tersebut. Jadi bagaimana mungkin Islam yang lurus dan suci mengajari hal-hal yang keji semacam itu?

Jika definisi politik masih diliputi dengan gambaran politik sekuler semacam itu, tentu saja kebanyakan muslim akan berkesimpulan demikian. Padahal saat kita telusuri turats (kitab-kitab klasik) akan kita temukan banyak sekali para fuqaha yang menulis tema seputar politik atau siyasah syar’iyyah. Karena itu, sebelum kita bicara lebih jauh apakah Islam mengajari politik atau tidak, hendaknya kita perlu luruskan dulu definisi politik itu sendiri.

Politik dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah “siyaasah”. Seperti yang kita temukan dalam kamus Al-Muhith, dikatakan:

وسست الرعية سياسة, أمرتها ونهيتها

Sistu ar-ra’iyah siyasah, maknanya adalah: Saya memerintahkan dan melarangnya.”

Dr. Rawwas Qal’ahji dalam Mu’jamul Lughatil Fuqaha memberikan makna yang lebih spesifik, dikatakan politik adalah[1]:

 رعاية شؤون الامة بالداخل والخارج وفق الشريعة الاسلامية.

“Pemeliharaan terhadap urusan umat baik di dalam negeri maupun di luar negeri sesuai dengan syariah Islam”.

Agar lebih jelas, Syeikh Abdul Qadim Zallum dalam Afkar Siyaasiyah[2] memberikan definisi yang lebih lengkap sebagai berikut:

السياسة هي رعاية شؤون الأمة داخليّا وخارجيّا, وتكون من قبل الدولة والأمة, فالدولة هي التي تباشر هذه الرعاية عمليا والأمة هي التي تحاسب بها الدولة

“Politik ialah memelihara (mengatur) urusan umat, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dan politik itu dijalankan oleh negara dan umat. Negara menjalankannya secara praktis, sedangkan umat melaksanakannya dengan mengoreksi negara.”

Makna politik seperti ini sebenarnya telah termaktub dalam banyak dalil. Kita bisa lihat di dalam riwayat Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam pernah bersabda:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ تَكْثُرُ قالوا: فما تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

Dahulu Bani Israil urusan politiknya dipimpin oleh para nabi. Ketika satu nabi wafat, maka digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada lagi nabi setelahku. Dan nanti akan banyak para khalifah.” Para sahabat bertanya: “Ketika itu apa yang engkau perintahkan kepada kami?”, beliau menjawab: “Penuhilah bai’at yang pertama, lalu yang pertama, dan berikanlah kepada mereka haknya, karena sesungguhnya Allah akan menanyai mereka tentang pemeliharaannya terhadap urusan rakyatnya.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah r.a.).

Dalam hadits tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada kita bahwa para nabi diutus untuk melakukan “ri’ayah”, begitu pula Rasulullah sebagai nabi terakhir. Dalam posisinya sebagai Nabi dan pemimpin, beliau berkewajiban mengurusi urusan kaum muslimin secara umum. Ada penjelasan menarik dari Imam An-Nawawi ketika mengomentari hadits ini, seperti yang didokumentasikan dalam Syarah Shahih Muslim. Beliau mengatakan:

وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيث : إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَةٍ بَعْد خَلِيفَة فَبَيْعَة الْأَوَّل صَحِيحَة يَجِب الْوَفَاء بِهَا ، وَبَيْعَة الثَّانِي بَاطِلَة يَحْرُم الْوَفَاء بِهَا ، وَيَحْرُم عَلَيْهِ طَلَبهَا ، وَسَوَاء عَقَدُوا لِلثَّانِي عَالِمِينَ بِعَقْدِ الْأَوَّل أَوْ جَاهِلِينَ ، وَسَوَاء كَانَا فِي بَلَدَيْنِ أَوْ بَلَد ، أَوْ أَحَدهمَا فِي بَلَد الْإِمَام الْمُنْفَصِل وَالْآخَر فِي غَيْره ، هَذَا هُوَ الصَّوَاب الَّذِي عَلَيْهِ أَصْحَابنَا وَجَمَاهِير الْعُلَمَاء …

“Makna hadits ini adalah apabila terjadi bai’ah untuk seorang khalifah setelah (sebelumnya dibai’ah) khalifah, maka bai’ah yang pertamalah yang benar, dan wajib mencukupkan diri dengan bai’ah untuk yang pertama tersebut. Sedangkan bai’ah yang kedua adalah bathil dan haram mencukupkan diri dengan bai’ah tersebut. Dan haram atas yang kedua menuntut bai’ah, baik apakah dia tahu ataupun tidak terhadap bai’ah yang pertama. Baik mereka berdua ada di dua negeri atau di satu negeri,  atau salah satu dari keduanya berada di negerinya yang (posisinya) terpisah sedangkan yang lain di luar negerinya. Inilah yang benar dimana shahabat-shahabat kita di dalamnya, begitu juga dengan Jamahir Al-ulama’…”[3]

Dari penjelasan tersebut kita bisa menarik kesimpulan bahwa politik adalah urusan penting yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Sampai-sampai dikatakan ketika urusan kaum muslim telah berada di tangan seorang pemimpin, maka haram bagi yang lain mengangkat pemimpin yang lain. Itulah sebabnya bahwa politik termasuk ma’lumun min ad-diin bi adh-dharurah. Aktivitas politik tidak mungkin terwujud tanpa adanya kepemimpinan. Begitulah pesan yang kita dapati dari dalil di atas.

Soal politik dan kepemimpinan ini, Ibnu Taimiyah dalam “Siyasah Syar’iyyah” pernah menulis[4]:

“Harus diketahui bahwa pengaturan administrasi dan pengendalian urusan rakyat (walayat) adalah kewajiban yang asasi dalam agama. Bahkan agama tidak akan dapat tegak kecuali dengan kepemimpinan. Sedang seluruh anak Adam mustahil akan mencapai kemaslahatan optimal kalau tidak ada ijtima’, mengingat sifat saling membutuhkan di antara mereka. Suatu ijtima’ ini sudah pasti membutuhkan seorang pemimpim untuk mengendalikan.”

Sayangnya, definisi politik dan petunjuk Rasul mengenainya tidak dipahami dengan jelas oleh kebanyakan kaum muslimin. Inilah akibat ghazwul fikri yang dilancarkan Barat. Mereka sengaja mengaburkan makna politik dengan maksud agar umat Islam memisahkan agamanya dengan politik. Mereka memperlakukan kita sebagaimana masyarakat Kristen dijauhkan dari agamanya dari urusan publik. Upaya mereka untuk menjatuhkan kewibawaan agama dengan menjauhkannya dari politik menemui hasilnya ketika umat Islam termakan propaganda mereka.

Allah telah sempurnakan agama ini. Segala sesuatu telah Allah jelaskan dalam Kitab-Nya. Itu maknanya, seluruh aspek yang menyangkut hidup bani Adam telah diatur dalam syari’at yang mulia ini, termasuk di dalamnya urusan politik. Dalam Surah An-Nahl ayat 89, Allah berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan al-Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) untuk menjelaskan segala sesuatu. Menjadi petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang muslim.”

Al-Hafidz Ibnu Katsir ketika mengomentari ayat ini menukil perkataan Ibnu Mas’ud r.a., beliau mengatakan: “Sungguh Dia (Allah) telah menjelaskan untuk kita semua ilmu dan semua hal”[5]. Jika Allah telah menjelaskan semua hal, bukankah artinya urusan politik dan pemerintahan termasuk di dalamnya? Sudah tentu jawabnya, “iya”. Apalagi telah ditunjukkan oleh banyak dalil yang lain bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafaur Rasyidin mengurusi urusan kaum muslimin dengan syari’at yang Allah turunkan. Wallahu a’lam bi ash-Shawwab.[]

[Kusnady Ar-Razi, 23/10/2013]

 Bisa juga dibaca di sini: http://medandakwah.com/islam-tak-mengenal-politik.html

Catatan kaki:

[1] Lihat Muhammad Qal’aji, Mu’jamu Lughatil Fuqaha’, juz I hal 253

[2] Zallum, Abdul Qadim. Afkar Siyasiyah. Darul Ummah.

[3] Lihat Imam Al-Hafidz Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Marwa An-Nawawi, Syarah An-Nanawi ‘ala Shahihil Muslim, juz VI hal 316 syarah hadits nomor 3420.

[4] Lihat Ibnu Taimiyah, Siyaasah Syar’iyyah fii Ishlahir Ra’i wa Ra’iyyah, Dar ‘Amr Al-Fawaid, hal. 232.

[5] Imam Al-hafidz Abul Fida’ Ismail Ibn Katsir, Tafsirul Qur’anil Adzim, juz IV hal 594

One thought on “Islam Tak Mengenal Politik?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s