Seputar Kaidah Dharar (قاعدة الضرر)

 

GambarHukum syara’ adalah seruan Asy-Syâri’ yang berkaitan dengan perbuatan manusia, baik berupa tuntutan maupun pilihan antara mengerjakan dan meninggalkan. Di antara ahkam syar’iyyah ada yang dihubungkan dengan lafadz kulliy sehingga mencakup segala sesuatu. Lafadz kulliy adalah setiap lafadz murakkab yang mencakup bagian-bagian tertentu (juz’iyyat) di bawahnya. Di antaranya adalah ungkapan ما لا يثمّ الواجب إلاّ به فهو واجبٌ.

Hukum syara’ yang dihubungkan dengan lafadz kulliy disebut dengan hukum kulliy. Hukum kulliy ini digali oleh para mujtahid dari nash-nash syara’ yang mengandung illat atau makna yang setara dengan illat sehingga mampu membentuk hukum kulliy. Dalam istilah ushul fiqh, hukum kulliy disebut dengan kaidah kulliyât. Dan kaidah dharar yang akan dikupas dalam tulisan ini adalah salah satu contoh dari kaidah kulliyât.

Kaidah dharar mencakup dua hal:

  1. Asy-Syâri’ telah mengharamkan sesuatu yang membahayakan (dharar). Artinya, setiap perkara yang mengandung dharar wajib ditinggalkan. Sebab, adanya dharar tersebut merupakan dalil atas keharamannya.

Dalilnya adalah hadits Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

لا ضرر ولا ضرار في الإسلام

Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain dalam Islam.”

Dalam riwayat Al-Bukhari, Rasulullah Saw bersabda:

من ضارّ ضارّ الله به ومن شاقّ شقّ الله عليه

Barangsiapa yang membahayakan orang lain, maka Allah akan memberikannya bahaya, dan barangsiapa yang mempersulit orang lain maka Allah akan memberikan kesulitan kepadanya.”

Dari dalil tersebut maka lahir satu kaidah kulliyât:

الأصل في المضارّ التحريم

Hukum sesuatu yang mudharatkan adalah haram.”

2. Asy-Syâri’ telah memubahkan perkara yang umum, akan tetapi jika salah satu bagian dari perkara yang umum tersebut mengandung dharar, maka bagian tersebut menjadi haram. Adanya dharar pada bagian yang umum tersebut menjadi dalil atas keharamannya. Untuk memperjelas poin kedua ini, mari kita simak hadits Nabi Saw berikut:

Janganlah kalian meminum dari air sumur kaum Tsamud sedikitpun, dan janganlah kalian mengambil airnya untuk wudhu dan shalat, dan adonan yang telah kalian aduk berikanlah kepada unta. Janganlah kalian makan sedikitpun darinya. Dan pada malam ini janganlah seseorang keluar kecuali bersama temannya.”

Air secara umum hukumnya mubah untuk dimanfaatkan, dan air sumur bangsa Tsamud pada asalnya adalah bagian dari air yang secara umum dimubahkan. Akan tetapi karena ia mengandung dharar, maka air sumur bangsa Tsamud secara khusus diharamkan untuk dimanfaatkan. Sedangkan air (sumur lainnya) secara umum tetap berada dalam kemubahannya.

Dalil yang kedua adalah hadits Nabi Saw berikut:

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw suatu ketika kembali ke Madinah dari Tabuk. Di lembah Musyaqaq yang akan dilewati beliau terdapat sebuah pohon yang bisa menyegarkan satu, dua, atau tiga penunggang unta. Kemudian beliau bersabda:

Barangsiapa yang mendahuluiku sampai ke lembah tersebut maka ia tidak boleh mengambil airnya sedikitpun hingga aku sampai ke tempat itu.” Ketika Rasulullah Saw sampai, beliau tidak menemukan air sedikitpun, kemudian Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang mendahuluiku ke tempat air ini?” Dikatakan kepada beliau: “Ya Rasulullah, si fulan dan si fulan”. Rasulullah Saw bersabda, “Bukankah aku telah melarang mereka untuk mengambil air sedikitpun sebelum aku tiba?” Kemudian Rasulullah Saw melaknat mereka dan berdo’a untuk kecelakaan mereka.

Dalam hadits tersebut Rasulullah Saw melarang meminum air di lembah musyaqaq sebelum beliau datang disebabkan hal itu akan menyebabkan dharar bagi para pasukan perang Tabuk, yaitu kehausan. Sebenarnya air di lembah tersebut tidak membahayakan. Hanya saja, jumlah airnya sangat sedikit. Jika Rasulullah Saw tiba di lembah tersebut sebelum air itu habis, beliau (dengan mukjizatnya) bisa memperbanyaknya sehingga mencukupi bagi seluruh pasukan. Akan tetapi, jika airnya telah habis sebelum beliau tiba, maka beliau tidak mampu memperbanyaknya lantaran tidak ada sedikitpun air yang tersisa. Akibatnya, pasukan dilanda kehausan. Inilah dharar yang menyebabkan adanya larangan mengambil air di lembah tersebut sebelum Rasulullah datang.

Dari dalil-dalil tersebut, maka lahirlah kaidah yang kedua:

كلّ فرد من أفراد المباح إذا كان ضارًّا أو مؤدّياً إلى ضررٍ حرّم ذلك الفرد و ظلّ الأمر مباحاً

Setiap bagian dari perkara-perkara yang mubah apabila berbahaya atau akan mengakibatkan bahaya, maka bagian tersebut diharamkan, sementara perkara yang mubah lainnya tetap berada dalam kemubahannya.”

Demikianlah pembahasan seputar kaidah dharar. Kaidah ini merupakan kaidah syar’i sebab ia digali dari dalil-dalil yang syar’i, sehingga dapat diterapkan pada perkara yang tercakup ke dalamnya. Untuk memperluas pembahasan ini, sila merujuk ke kitab-kitab ushul fiqh yang mu’tabar. Wallahu a’lam bi ash-shawwab. []

[Kusnady Ar-Razi, 29/04/2013]

(Dirangkum dari Kitab تيسير الوصول إلى الأصول, ‘Atha bin Khalil, Terbitan Darul Ummah, Beirut)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s