Bongkar Misteri ‘Menulis itu Susah’

Oleh : Rindyanti Septiana

tips-menulisIngin bisa menulis? Atau, cita-cita yang lebih tinggi lagi: ingin jadi penulis? Yang paling sering muncul ke permukaan, meski tidak teverbalisasikan dengan sempurna adalah: S-U-S-A-H.

Ya, mereka yang ingin nulis tapi cenderung masih begitu-begitu aja nasibnya, in other word: going nowhere, stagnan (bahasa Indonesianya), mengaku: menulis itu nggak gampang. Aneh, ya? Padahal Arswendo Atmowiloto saja sudah nulis buku: Mengarang itu Gampang. Kenapa masih ada yang bilang nulis itu susah?

Not Yet A Culture

Penyebab nomor 1 kenapa nulis sangat complicated untuk kamu yang baru mulai adalah masalah budaya. Pelajari sejarahmu jadi “Tukang Ngomong” yang handal seperti sekarang. Kamu pikir kemahiran itu langsung kamu punya on the day you were born? Jadi, jangan bilang nulis itu susah tanpa melongok ke dalam diri: sudahkah saya punya budaya menulis?

Maka menulislah setiap hari. Menulis apa? Menulis apa saja. Terserah. Bisa diary, cerpen setengah jadi, artikel yang belum pantas disebut artikel, atau ungkapan kesal karena bayi di sebelah rumah kamu nangis jejeritan di jam 11 malam. Apa pun, selama itu hasil curahan isi kepalamu di atas kertas, meski hanya satu lembar.

Benarkah? Hanya selembar setiap hari?

Bagaimana setengah halaman?

Boleh. Kenapa tidak?

Hmm, kalo hanya satu paragraf? Jadi semuanya diperbolehkan.

 

A Brain Doesn’t Always Tell You The Truth

Otak kita adalah “satu bagian yang didesain dengan rumus rumit yang hanya Sang Mahateliti saja yang tahu”. Selain luar biasa ngejelimet, otak kita sebenarnya juga rapuh dengan asumsi. Ia begitu mudahterasumsikan oleh.

Melihat karya besar penulis kenamaan, otak kita bilang, “Hebat—dan kita nggak mungkin menulis hal sekeren itu.”

Melihat buku tebal dan berisikan info-info yang bergizi, otak kita mencemooh, “Hoh, Tuhan pilih kasih. Dia mencabut otak Einstein dan menempatkannya ulang di sana; sedang di sini, di kepalaku, Dia hanya mengambil sample keledai—dan di sinilah aku, berpura-pura jadi manusia.”

Lihat betapa pesimisnya…

Tidak ada yang meminta otak kita rendah diri. Tidak ada juga yang memaksanya meremehkan diri. Otak itu melakukannya sendiri—dan kamu mengizinkannya. Hal paling parah berikutnya: kamu pun mengamininya. Hey, kamu boleh bilang amin setelah Al-Fatihah atau berdoa—tapi jangan menggunakannya menginjak sekantung optimis dalam diri yang nyaris mati ditimpa kepesimisanmu.

Setelah masalah kebudayaan, dan kamu tahu betapa mudahnya berbicara setelah budaya bicara ada dalam CV hidup kita, seharusnya kamu pun ngerti: menulis dan berbicara adalah dua hal yang sama ketika menyangkut urusan budaya. Keduanya sama mudah. Kamu akan melihatnya sebagai keajaiban saat waktunya tiba nanti. Cukup klasik (terlalu kasar menyebut basi, saya rasa) kata-kata berikut, tapi saya masih cukup doyan memakainya untuk menyindir orang-orang yang terlalu pesimis untuk membayangkan dirinya bisa optimis: you can if you think you can. Cara kita memandang persoalan ini adalah persoalan itu sendiri—Om Stephen R. Covey.

 

Motivation and Mood

Masalah nomor tiga dan empat: motivasi dan mood-mood-an.

Motivasimu tergantung mimpimu. Seberapa besar mimpimu, sebesar itu pulalah motivasimu. Harusnya begitu. Seseorang yang cukup saya pandang kata-katanya pernah berkata antara “mimpi” dan “ingin” adalah dua hal yang berbeda. Ingin adalah sesuatu yang kalau tidak terjadi dalam hidup kita, maka kita masih cukup punya selera untuk tersenyum dan bilang, “It’s ok.” Tapi, mimpi adalah kebalikannya. Jika ia tidak terjadi, maka kita akan terus berupaya agar dia bisa terjadi—tidak peduli sekelilingmu berteriak bahwa ide “manusia terbang di angkasa” adalah lelucon terbagus abad ini, tapi kau terus berusaha sehingga orang yang mengatakan hal yang sama adalah lelucon terbagus di abad berikutnya. Bermimpi itu Thomas Alva Edison, bola lampunya, dan General Electric. Bermimpi itu Donald Trump dan gedung kacanya. Mereka rela mengorbankan segalanya agar mimpi itu bisa tercapai. So, menurutmu, apakah “jadi penulis” adalah mimpi atau hanya ingin? Jawab dulu dengan tepat, dan dengan sendirinya kau tahu apa yang harus kaulakukan.

Talking about mood, everyone has “one-bad-day to talk”—even if your boss asks you to talk nice in front of him. Begitupun dengan nulis. Memang, di fase permulaan perjuangan sebagai penulis, hari-hari yang berbunnyi “aku-lebih-baik-ikut-Fear-Factor-dan-makan-keju-busuk-daripada-menulis-dua-lembar-di-notebook-merah-murahan-itu” pasti datang. Dan, kalau itu datang, haruskah kita menurut? “Tahukah kamu sesuatu yang sulit didapat dalam hidup ini adalah kemudahan? Tahukah kamu sesuatu yang tetap dalam hidup ini adalah perubahan? Dan, tahukah kamu kesuksesan yang luar biasa akan diawali dengan kesulitan yang luar biasa?”

Jika menurutmu mood menulis hilang adalah alasan yang luar biasa tepat untuk tidak menulis hari itu, maka menurutinya adalah persamaan lain yang wajar—tapi menohok untuk kamu dengar: mungkin kamu memang luar biasa cocok untuk tidak jadi penulis. Selalu ingat ini: semakin sulit tantangan, semakin besar hadiahnya. Tidak pernah sebaliknya. Rasul ditanya siapa manusia yang paling berat ujian hidupnya? Uswahkita jawab, “Para nabi dan Rasul.” Di akhirat, wajar kalo merekalah orang-orang yang diutamakan Allah, dekat dengan-Nya dan dirindukan surga.

Kini kau sudah tahu apa yang harus kaulakukan ketika tidak mood menulis—padahal kau harus menulis SETIAP HARI?

Betul! Tidak menulislah, maka kau akan dapati dirimu sebagai Pemain Cadangan untuk selama-lamanya. Lakukan sebaliknya, dan para penonton di stadiun akan bersorak kegirangan ketika Sang Pelatih memutuskan kau masuk lapangan menggantikan Pemain Usang yang cedera atau kena Kartu Merah.

 

GOD, You Don’t Know The Techniques!?

This is an advise for you: jika kamu pengen benar-benar bisa nulis, awali dulu dengan menjadikannya kebiasaan. Yes, yes… ini masih soal si “SETIAP-HARI-HARUS-NULIS”. Setelah itu, kau akan lihat betapa buku-buku tekhnik menulis di luar sana adalah akal-akalan penerbit saja untuk mengeruk uang. Oh, terdengar generalisir memang—baiklah, tidak semua buku, tidak semua penerbit sejenis itu. Tapi, secara umum, masalah teknik menulis bisa kaupelajari pelan-pelan. Caranya?

Belajarlah dari para penulis yang bukunya pernah dan telah diterbitkan. Bacalah karya mereka—itu cara paling mudah dan asyik belajar tekhnik menulis. Perhatikan caranya menguraikan kata, mengungkapkan karakter tokoh di ceritanya, menyusun 1-2-3 menuju konflik, dan sebagainya. Paksa dirimu membaca dan menyukainya. Jika kau adalah laki-laki, dan membaca itu adalah gadis dengan rambut gimbal bergigi kawat dan berkacamata minus 20 (tolong beritahu saya apakah analogi ini berlebihan atau tidak), dan kau harus menyukainya karena dia adalah satu-satunya calon istrimu (katakan saja telah terjadi gempa bumi dan hanya tersisa kalian berdua di atas planet ini), minimal kamu bisa bersyukur dia bukan laki-laki. Dari sana, Tuhan akan memberimu banyak alasan untuk benar-benar menyukainya—selalu ada yang terbaik dari hal terburuk sekalipun yang kita alami, bukan?

Membaca itu seperti menuangkan air ke dalam teko. You can’t pour water into a cup if your teapot is empty. Sebagai penulis, kamu harus banyak baca. Jika tidak, bacaanmu akan kering, hambar, pepesan kosong. Jika kamu sangat suka dipanggil Penulis Dodol, silakan saja. If not, follow this suggestion. Jangan meremehkan apa yang sudah ditulis oleh orang lain, Mohammad Diponegoro saidHe’s dead—but I find his line’s never.

 

Magnificent Ideas: Are They Exist?

Merasa susah menemukan ide?

Perhatikan hal-hal berikut:

  • Malas mikir
  • Enggan baca buku atau media informasi lainnya
  • Terlalu capek karena rutinitas sehari-hari
  • Jarang berkomunikasi dengan orang atau lingkungan
  • Tidak menganggap ide-ide yang sudah digarap orang lain sebagai sesuatu yang layak digarap ulang dengan gaya kita sendiri

Cobalah begini: luangkan waktu 5 menit untuk memikirkan ide, setiap hari. Untuk mengenali ide, otak kamu harus dilatih untuk “meniatkan mencari ide”. Tanpa dipasang pada kondisi itu, otakmu nggak bakal cari ide. Seperti halnya berpuasa. Jam 12 siang, lambung kita akan terasa pekak di hari Selasa bulan Syawal. Tapi, di hari yang sama bulan Ramadhan, hal itu tidak terasa terlalu pekak. Karena apa?

Rahasianya ada pada otak. Di waktu sahur, otak kita sudah “memberitahu” lambung kita kalau hari itu tidak ada jatah makan siang karena Allah menetapkan demikian, dan kita berniat mematuhiNya. Lambung, yang sudah diwanti-wanti oleh otak, akan melakukan persiapan dan membuktikan persiapan itu ada gunanya pada jam 12 siang.

Begitu juga kondisinya dengan ide. Sudahkan kamu memerintahkan otakmu mencari ide dan menemukannya? Jika belum, perintah dia sekarang. You have right, you know! Selamat mencoba. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s