Toleransi atau Pluralisme?

 

toleransi1Jika ada seorang muslim berteriak, “Tidak ada agama yang benar kecuali Islam!”, maka ia bisa dituduh intoleran dan menebarkan benih permusuhan. Dalam era postmodern, toleransi selalu diasosiasikan dengan sikap menghargai agama lain dan tak saling menyalahkan. Artinya, seseorang dianggap toleran ketika ia menerima kebenaran agama lain. Klaim kebenaran adalah sikap intoleran dan mesti ditinggalkan. “Haram” hukumnya dalam era postmodern memaksakan kebenaran agama sendiri kepada pemeluk agama lain. Di sinilah relativisme Nietzche dipropagandakan. Dan seketika itu pula “global theology”-nya Jhon Hick laku keras, termasuk di Indonesia.

Apakah ketika seseorang eksklusif dalam beragama dianggap intoleran? Dalam pandangan Barat jawabannya “iya”. Mereka gemar menuding bahwa agama itu penyebab konflik. Adanya sikap menutup diri dan tidak terbuka terhadap kebenaran agama lain dikatakan sebagai benih-benih munculnya permusuhan. Jadi agar bisa bersikap toleran maka terimalah kebenaran agama lain, begitu kata mereka. Itulah sebabnya, slog an “extra ecclesiam nulla salus” (di luar Gereja tidak ada keselamatan) berganti menjadi teologi inklusif. Dari sinilah cikal bakal munculnya paham pluralisme.

Jadi sebenarnya apakah ada korelasinya antara sikap inklusif (terbuka) dengan toleransi? Apakah ketika seseorang mengakui kebenaran agama lain maka ia menjadi orang yang toleran? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita perlu menyeksamai perjalanan kehidupan umat Islam.

***

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan wajah penuh peluh, namun tampak berwibawa memasuki Madinah. Hari itu adalah momen bersejarah bagi kaum Muslim Muhajirin. Mereka disambut oleh saudara se-iman, penduduk Madinah, kaum Anshar.

Orang-orang Yahudi yang sedari dulu bermukim di Yastrib sebagian dari mereka ada yang beriman seperti Abdullah bin Salam, ada juga yang enggan. Meski demikian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tak pernah memaksa mereka masuk Islam. “Laa ikkraha fii ad-diin”, tidak ada paksaan dalam agama. Begitulah firman Allah. Maka diikatlah perjanjian dengan mereka. Dengan demikian, jiwa, harta, dan kehormatan mereka terjaga. Seperti itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlakukan mereka. Sama sekali tak ada rasa permusuhan, kecuali setelah mereka merusak dan mengkhianati perjanjian.

Di saat yang lain, Nabi mengirimkan surat kepada para raja dan kaisar. “Aslim taslam” (masuk Islam lah maka Anda akan selamat), begitu bunyi surat Nabi. Kepada penguasa Mesir, Muqauqis, Nabi menulis, “Masuklah  Islam Anda akan selamat… agar Allah memberi pahala dua kali lipat. Jika Anda menolak, Anda akan menanggung dosa bangsa Qibti.”

Heraclius, Kaisar Romawi Timur, juga mendapatkan kiriman surat yang kurang lebih sama. “Masuklah Islam, maka Anda akan selamat. Namun jika Anda menolak, Anda akan mendapatkan dosa dua kali lipat”, kata Nabi dalam suratnya. Begitulah cara Nabi mendakwahkan Islam. Ini adalah tawaran jalan keselamatan, bukan intimidasi, apalagi ancaman militeristik. Beda sekali dengan seruan Bush yang satu ini, “Anda bersama kami, atau bersama teroris”. Lalu digelotorkanlah dana untuk mendanai proyek “Perang Global melawan Terorisme”. Pengadilan jalanan pun digelar, banyak yang tak diadili di meja hijau. Dan banyak pula yang jadi korban senjata para serdadu yang dibiayai asing itu, tanpa terbukti kesalahannya.

Apa yang didakwahkan Nabi adalah tawaran untuk memeluk agama yang dijamin keselamatannya. Inilah tauhid. Ekskulisifitas dalam agama memang mutlak adanya kalau sudah bicara prinsip-prinsip agama. Tapi soal toleransi, ia ada di ranah mu’amalah, yaitu sikap yang mesti diwujudkan di wilayah kehidupan sosial yang memang datangnya dari perintah agama. Toleransi, ia berupa sikap yang dibangun untuk menghargai keberadaan agama lain, bukan mengakui kebenarannya. Ini dua hal yang berbeda. Dalam Islam ada istilah tasamuh, yang dekat maknanya dengan toleransi. Tasamuh maknanya adalah menghargai dan berlapang dada. Tasamuh tak mesti harus mengorbankan aqidah.

Jauh setelah Nabi wafat kemudian, kepemimpinan beralih kepada Khulafaur Rasyidun radhiyallahu ‘anhum. Satu-persatu wilayah sekitar jazirah Arab masuk ke dalam wilayah kekuasaan Islam. Suatu ketika, Abu Yusuf bertemu dengan Harun Al-Rasyid. “Aku tak pernah melihat satu bangunan pun yang dihancurkan ataupun diubah selama dan setelah dilakukannya perjanjian damai”, kata Abu Yusuf kepada Harun Al-Rasyid. “Semua keputusan yang ditetapkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum tetap berlaku”, lanjut beliau sebagaimana tertulis di Kitab Al-Kharaj, “Mereka tidak pernah menghancurkan bangunan apapun selama sudah diadakan perjanjian damai”.

Begitulah Kaum Muslim menunjukkan toleransinya kepada pemeluk agama lain. Berdasarkan ketentuan dzimmah (tanggungan), non-muslim ahlu dzimmah yang terikat perjanjian damai mendapatkan perlakuan yang sama dengan kaum Muslim. Sebab, dengan perjanjian itu mereka mendapatkan status sebagai warga negara darul Islam. Maka, jiwa, harta, kehormatan, dan keamanan mereka terjaga.

Sementara itu di Eropa, di abad pertengahan, Kaum Kristiani justru menunjukkan sikap sebaliknya kepada warga negara yang berada di bawah kekuasaannya. Pertumpahan darah akibat inquisisi, sampai terusirnya kaum muslim dari Spanyol adalah bentuk intoleransi Rezim Gereja masa itu. Suatu hal yang tak ditemukan di wilayah kekuasaan Islam.

Jadi toleransi yang diinginkan Barat sebenarnya adalah pengakuan terhadap kebenaran agama lain. Artinya, dengan diam-diam pluralisme itulah yang sebenarnya mereka jajakan, bukan ajakan bertoleransi dalam artian sebenarnya. Bukankah ketika mereka menuduh orang yang menolak pluralisme dengan fundamentalis, ekstrimis, dan radikal mereka sedang bersikap intoleran kepada orang lain? Bukankah ketika mereka mengharamkan klaim kebenaran agama mereka sedang menunjukkan sikap intoleran kepada pemeluk agama? Di Eropa, wanita-wanita muslimah dilarang memakai hijab. Lalu toleransi macam apa yang sedang mereka dengung-dengungkan? Paradoks.[]

[Kusnady Ar-Razi, 10/3/2013]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s