Membersamai Sang Guru

Oleh: Kusnady Ar-Razi

majelis ilmuPerawakannya kecil, tubuhnya kurus dan pendek. Ia pernah kehabisan nafas lantaran dipukuli orang-orang Quraiys saat melafadzkan dua ayat pertama dari surah Ar-Rahman di dekat Ka’bah. Orang-orang Quraiys itu begitu beringas, memukuli lelaki itu bertubi-tubi, sampai ia kehilangan tenaga. Ibnu Mas’ud, begitu ia sering dipanggil, telah menunjukkan kepada para sahabat bahwa persoalan menyampaikan kebenaran harus selalu disertai keberanian. Di mata para sahabat ia adalah sosok yang istimewa.

Ibnu Mas’ud, sungguh beruntung ketika suatu saat Nabi memintanya melayani keperluan beliau. “Kuizinkan engkau untuk mengurusi alat perangku dan melayaniku”, sabda Sang Nabi. Sejak itulah ia melayani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, memakaikan sandal, menutupi beliau saat mandi, berjalan di belakang beliau, dan membangunkan beliau. Hingga para sahabat menyebutnya sebagai shihab al-siwad wa al-siwak, penyedia alat perang dan siwak. Kemana pun Nabi menjejakkan kaki, Ibnu Mas’ud selalu menyertai beliau.

Tidak banyak di antara para sahabat yang seberuntung Ibnu Mas’ud bisa menyertai Sang Nabi sesering mungkin. Kebersamaan itu telah menjadikan ia sebagai pelayan, sahabat, sekaligus murid. Sebagai pelayan ia mendapatkan keberkahan dan pahala bercucuran lantaran yang dilayani adalah Kekasih Allah, manusia paling utama, dan pemimpin para Nabi dan Rasul. Sebagai sahabat ia selalu mendapatkan perhatian dan kehangatan sikap Sang Nabi. Kehangatan dalam balutan ukhuwah selalu ditunjukkan Sang Nabi kepada sahabat terkasihnya yang satu itu. Dan sebagai murid, ia berhasil menyerap ilmu dari Sang Guru. Tidak ada satu kesempatan pun yang ia lewatkan melainkan ia akan menyeksamai setiap ayat Al-Qur’an dan sabda yang keluar dari lisan Sang Nabi. Ia larut dalam mulazamah bersama Nabi.

Ibnu Mas’ud, dulu ia hanyalah seorang budak ketika menjelang baligh. Sejak bertemu dengan Sang Nabi ketika menggembalakan kambing milik tuannya, Rasulullah telah menarik hatinya. Didatangilah Sang Nabi. Ia bersyahadat. “Ya Rasulullah”, ucapnya dengan lembut kepada Sang Nabi, “Ajarilah aku perkataan ini (Al-Qur’an)”. “Engkau budak yang terdidik”, ucap Sang Rasul sambil mengusap kepalanya. Nabi tahu persis, sejak Ibnu Mas’ud masuk Islam ia telah menunjukkan kecintaannya kepada Al-Qur’an dan ilmu. Itulah sebabnya beliau izinkan ia untuk membersamai beliau. Hasil dari mulazamah itulah yang menjadikan ia sebagai sahabat dengan ketinggian ilmu tak terkira. Sehingga seluruh sahabat mengenalinya sebagai orang ‘alim dan muftinya kaum muslimin. “Orang ini”, kata ‘Umar kepada para sahabat sambil menunjuk Ibnu Mas’ud, “adalah wadah yang dipenuhi ilmu”.

***

Mulazamah, kata ini berasal dari bahasa Arab. Berasal dari kata Laazama yang maknanya adalah menemani, menetapi, tidak meninggalkan (lam yufaariqhu). Menariknya, kata ini selalu dilekatkan pada aktivitas para pelajar yang selalu membersamai gurunya. Keberhasilan seorang pelajar menjadi seorang yang faqih dalam agama selalu bermula dari berlelah-lelahnya mereka membersamai sang Guru. Dan panjangnya masa yang dihabiskan untuk bermulazamah dengan para ‘alim. Mereka tahu dengan benar, bahwa ilmu itu dari Allah. Dan Allah sekali-kali tidak akan menganugerahkan ilmu, kecuali bagi mereka yang Allah kehendaki kebaikan baginya. Mereka tahu bahwa para ‘ulama yang hidup dan matinya untuk menebarkan al-haq adalah orang-orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah. Merekalah kantong-kantong ilmu. Maka sulit rasanya jika berkeinginan meneguk ilmu tapi tak membersamai orang-orang ‘alim.

“Ilmu itu”, kata Imam Al-Ghazali, “ia berada di dalam dada bukan di dalam tulisan”. Ilmu sejatinya memang berada di dalam dada. Lalu ia dituangkan dalam sebentuk karya. Jadilah buku yang berjilid-jilid, bertumpuk-tumpuk memenuhi perpustakaan para pecinta ilmu. Seperti halnya Al-Qur’an. Dulunya ia bersemayam di dalam dada para sahabat, lalu kemudian mereka menuliskannya dalam lembaran-lembaran pelepah kurma, bebatuan, dan apapun yang bisa mereka gunakan untuk menulis. Pada masa berikutnya dikumpulkanlah lembaran-lembaran tersebut menjadi satu mushaf yang utuh. Jadilah Al-Qur’an dalam bentuk tertulis setelah sebelumnya hanya berupa hafalan-hafalan yang tersimpan di dalam memori para sahabat.

Artinya, tulisan itu hanya sebatas membantu menguatkan pemahaman. Ia hanyalah sebatas media mentransfer pemikiran. Dan apa yang tertanam di dalam dada para ‘alim sebetulnya jauh lebih banyak dari apa yang telah tertulis. Al-Umm, kitab induk fiqh dalam mazhab syafi’iyah adalah dokumentasi buah pemahaman Imam Asy-Syafi’I terhadap hukum-hukum syari’ah yang ditulis oleh muridnya. Andai murid beliau, Ar-Rabi’ bin Sulaiman, tak membersamai beliau, tentu Al-Umm tidak akan mewujud dalam bentuk tertulis. Ia akan selamanya tersimpan di dalam dada Imam Asy-Syafi’i. Kebersamaan ini bukan kebersamaan biasa, tak seperti layaknya kebersamaan dua anak manusia dalam hubungan pertemanan. Tetapi ia adalah kebersamaan yang istimewa dan tak biasa. Ia adalah kebersamaan yang mewujud di dalamnya sebuah pertalian ilmu yang sambung menyambung sampai ke Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ada hal-hal yang tak semuanya bisa dipahami dari sekadar membaca buku. Di sana ada beribu-ribu kalimat dan frasa yang mesti dijelaskan secara gamblang oleh ahli ilmu. Kitab Al-Umm misalnya, tentu saja kalimat demi kalimat di dalamnya Imam Asy-Syafi’I lah yang paling memahaminya. Lalu pemahaman itu turun-temurun disampaikan kepada para murid, dari generasi ke generasi. Itulah sebabnya, memahami kitab tersebut mestilah membersamai guru yang sanad keilmuannya sambung-menyambung kepada para ‘alim, hingga bermuara kepada imam kita, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. Maka tak cukup bagi kita jika hanya membersamai buku, tetapi juga mesti membersamai guru.

Apa yang menjamin kita ‘selamat’ dari kekeliruan kepahaman ketika membaca teks? Tidak ada. Tetapi membersamai guru dan bermulazamah dengannya setidaknya meminimalisir kesalahan-kesalahan tersebut. Itulah mengapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat Imam Tirmidzi bersabda, “Ikutilah orang-orang sesudahku dari para sahabat Abu Bakr dan Umar, ambillah petunjuk seperti yang dilakukan Amar, dan berpeganglah kalian kepada Ibnu Mas’ud”. Ini artinya, beliau menginginkan agar umatnya selalu membersamai Ibnu Mas’ud, kapan pun dan dimana pun. Lalu generasi yang tak sempat bersua dengannya mestilah membersamai generasi yang pernah bermulazamah dengan Ibnu Mas’ud, dan begitu seterusnya. Nabi percaya bahwa Ibnu Mas’ud akan menyelamatkan umat beliau dari kesesatan, lantaran ia pernah membersamai beliau. Sebab ia memiliki pertalian ilmu langsung kepada sumbernya, Rasulullah. Dialah sahabat yang sangat dekat dengan Sang Nabi, baik dalam petunjuk maupun pelajaran.

***

Setiap hari ia selalu duduk dan bermajelis bersama gurunya hingga berjam-jam lamanya. Jika dilihatnya gelas sang Guru telah kosong, maka bersegeralah ia mengisinya kembali hingga penuh. Hampir setiap hari ia menemani gurunya hingga Sang Guru beranjak ke pembaringan. Jika gurunya hendak keluar rumah, bergegas ia mengambil sandal sang Guru lalu menciumi tangannya. Bertahun-tahun ia melakukan hal itu. Sampai suatu ketika Sang Guru bertanya kepadanya, “Apa yang engkau inginkan?”. “Ridhomu wahai guru”, jawabnya sambil menunduk malu. Kemudian Sang Guru, Al-Habib ‘Umar bin Hafidz, menengadahkan tangannya ke atas sambil mengucapkan sebait do’a dengan tulus untuk murid yang paling dikasihinya itu, Al-Habib Mundzir Al-Musawwa.

Membersamai Sang Guru terkadang memang tak sekadar mendengar dan menyeksamai ilmu yang meluncur dari lisannya. Ia tak hanya menyimak penjelasan-penjelasan ilmiah. Namun, lebih dari itu, ada keutamaan yang dikejar di dalamnya. Ridho Allah dan ridho sang Guru yang berbuah do’a, lalu dari do’a itu Allah mencurahkan kebaikan. Itulah keutamaan dalam membersamai orang ‘alim. Dari sanalah kepahaman terhadap agama itu bermula. Dan dari sanalah jiwa itu tertempa untuk selalu menetapi al-haq. []

One thought on “Membersamai Sang Guru”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s