Ayat-ayat Sifat dan Polemik Ahli Kalam

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Dalam tradisi intelektual muslim, perdebatan seputar sifat dan Zat Allah tidak pernah ada habisnya. Perdebatan paling sengit terjadi antara mutakallimin (ahli kalam) yang bermazhab Asy’ariah dan Mu’tazilah. Mengenai sifat-sifat Allah, Mu’tazilah memiliki pandangan bahwa tidak ada perbedaan antara sifat-sifat Allah dengan Zat-Nya, dan keduanya merupakan suatu kesatuan.[1] Sebab jika sifat bukanlah satu kesatuan dengan Zat-Nya atau ia berdiri sendiri –menurut mereka-, maka ia akan menjadi tuhan-tuhan lain selain Allah.

Mengapa mereka berpandangan demikian? Argumentasi mereka ini sebenarnya muncul karena terpengaruh landasan filsafat Trinitas orang-orang Nasrani. Dalam pandangan Nasrani, Yesus dianggap sebagai kalam Allah dan kalam tersebut merupakan salah satu sifat-Nya. Sifat selalu melekat dengan objek yang disifati (mausuf) dan tidak bisa dipisahkan. Artinya, kalam sebagai sifat selalu melekat dengan objeknya, dalam hal ini adalah Allah. Jika Allah itu kekal, maka sifatnya juga kekal. Sehingga mereka berkesimpulan bahwa Yesus yang merupakan kalam Allah adalah bagian yang tak terpisahkan dari Allah. Ia merupakan satu kesatuan. Demikianlah orang-orang Nasrani membangun argumentasi mereka dengan logika mantiq tersebut.

Meski pandangan Mu’tazilah tentang sifat dan Zat Allah sama dengan Nasrani, tetapi Mu’tazilah menolak menyebut kalam Allah sebagai bagian dari sifat-Nya. Sebab jika menerima pandangan kaum Nasrani tersebut konsekuensinya adalah mereka harus membenarkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Maka untuk membantah argumentasi Trinitas, Mu’tazilah menetapkan pandangan bahwa kalam Allah (Al-Qur’an) adalah makhluk bukan sifat Allah. Pandangan ini mereka keluarkan semata-mata untuk membatalkan argumentasi Trinitas. Jika kalam Allah itu makhluk, maka Yesus juga makhluk. Begitulah pandangan mereka.

Pandangan tersebut mendapatkan pertentangan yang hebat dari kalangan Asy’ariyah. Mereka beranggapan kalau konsep Mu’tazilah tersebut adalah bentuk pengingkaran terhadap sifat-sifat Allah. Sifat-sifat Allah dalam pandangan Asy’ariyah adalah sesuatu yang tidak terpisah dari Zat-Nya. Meski demikian, sifat bukanlah Zat-Nya dan bukan juga sesuatu selain-Nya. Artinya, Asy’ariyah punya konsep bahwa sifat itu melekat pada objek yang disifat. Mereka menolak mengatakan bahwa sifat Allah adalah Zat-Nya sendiri. Walaupun sifat itu melekat pada mausuf-nya, tetapi ia bukanlah bagian dari Zat-Nya sekaligus juga bukan sesuatu selain-Nya.

Mu’tazilah menolak keras konsep tersebut. Menurut mereka, sifat-sifat Allah seperti ‘alimun, hayyun, dan qadirun itu pada Zat-Nya. Jadi ilmu, hayat, dan qudrah bukanlah tambahan pada Zat-Nya. Sebab jika ia merupakan tambahan maka keadaannya sama dengan manusia.[2] Ringkasnya, mereka hendak mengatakan bahwa adanya sifat dan mausuf itu hanya terjadi pada jism (fisik). Allah itu ‘alim tetapi tidak memiliki ilmu (‘alimun la ilma lahu), sebab jika dikatakan memiliki ilmu berarti ada tambahan sifat pada Zat-Nya. Padahal tambahan semacam itu menurut mereka hanya terjadi pada makhluk atau jism. Dan Allah Maha Suci dari sifat penjasmanian.

Tentu saja pandangan mereka ditolak mentah-mentah oleh Asy’ariyah. Bagaimana mungkin Allah disebut ‘alim tetapi tidak memiliki ilmu? Itu sama saja mengatakan bahwa warna putih tetapi tidak ada putihnya. Untuk mempertahankan pendapatnya, Asy’ariyah mengatakan bahwa sifat ‘aliman adalah makna tambahan pada zat. Maknanya Allah menguasai sifat mengetahui.[3] Dan sifat itu bukan bagian dari Zat-Nya, sebab akal telah memastikan bahwa sifat bukanlah mausuf. Juga bukan merupakan selain-Nya.

 

Mendudukkan Persoalan

Dalam Al-Qur’an, sifat-sifat Allah disebutkan dalam banyak ayat, di antaranya adalah:

Katakanlah: ‘Dialah yang berkuasa (qadirun) untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan).’” (TQS. Al-An’aam: 67)

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal (hayyun) lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).” (TQS. Al-Baqarah: 225)

Dan Allah Maha Mendengar (sami’un) lagi Maha Mengetahui (‘alimun)”. (TQS. Al-Baqarah: 224)

Dan bahwasanya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (bashirun).” (TQS. Al-Hajj: 61)

Dalam ayat-ayat di atas Allah telah mensifati diri-Nya dengan berbagai macam sifat. Lalu mutakallimin berusaha menakwilkannya. Tujuan mereka sebenarnya baik, sama-sama ingin mentanzihkan (me-Mahasucikan) Allah. Tetapi sayangnya kemudian mereka terlibat dalam perdebatan yang tak ada ujungnya, persis seperti para filosof memperdebatkan sifat-sifat Tuhan. Akhirnya mereka terjebak pada pemikiran-pemikiran filsafat yang berujung pada kesimpulan yang spekulatif. Untuk mendudukkan persoalan ini maka yang pertama kali perlu diluruskan adalah definisi tentang akal. Ketidakjelasan definisi akal inilah yag membuat para mutakallimin terjebak pada pembahasan yang sebenarnya tidak ‘aqliyah. Mereka memaksakan membahas sesuatu yang terlalu luas bagi akal untuk menjangkaunya.

Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa akal adalah jiwa itu sendiri. Ada pula yang berpendapat, akal adalah kekuatan di dalam jiwa atau daya pemahaman. Mereka juga mengatakan, “akal adalah jauhar (inti) yang dapat mengetahui segala perkara ghaib melalui berbagai perantara atau mengetahui segala hal yang dapat disaksikan melalui musyahadah (penginderaan)”.

Samih ‘Atif Az-Zayn berusaha memberikan definisi yang tepat mengenai akal. Beliau mengatakan, “akal adalah daya berpikir untuk menghasilkan hukum mengenai realitas”.[4] Sedangkan An-Nabhani memberikan definisi yang hampir sama. Dalam pandangan An-Nabhani, akal adalah pemindahan realitas ke dalam otak melalui penginderaan indra dan dengan adanya informasi awal, realitas tersebut kemudian diinterpretasikan. [5] Dari kedua pandangan ini dapat disimpulkan bahwa akal adalah daya berpikir untuk menghasilkan hukum tertentu mengenai realitas dengan cara memindahkan fakta melalui penginderaan dan dengan informasi awal fakta/reallitas tersebut ditafsirkan.

Dengan definisi tersebut kita bisa memahami bahwa akal hanya mampu menjelaskan perkara-perkara yang dapat diindra saja. Artinya, perkara gaib bukanlah wilayah akal dan tidak bisa dijelaskan secara ‘aqliy. Kalaupun dipaksakan maka bisa dipastikan kesimpulan yang dihasilkan tidaklah rasional dan bersifat spekulatif. Jadi perdebatan ahli kalam mengenai sifat-sifat Allah bukanlah perdebatan yang ‘aqliyah. Sebab, topik pembahasannya mengenai sesuatu di luar jangkauan pengindraan. Sesuatu yang tak dapat diindera bukanlah wilayah akal untuk membahasnya.

Lalu bagaimana sikap kita mengenai sifat-sifat Allah (seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur’an)? Harus kita pahami bahwa sifat-sifat Allah bersifat tauqifiyah (sudah ditetapkan dan tidak bisa diganggu gugat). Artinya, apa yang diinformasikan oleh Al-Qur’an itulah yang kita terima dan imani. Terhadap sifat-sifat yang tauqifiyah itu kita harus bersikap tafwidh (tidak melakukan penakwilan). Kita tak punya hak menjelaskan (hakikat) sifat-sifat tersebut kecuali ada dalil sam’i yang qath’i datang menjelaskannya.

Sikap tafwidh semacam ini telah ditunjukkan oleh para ‘ulama terdahulu. Ibnu Hibban dalam satu riwayat mengatakan, “Sifat-sifat Allah tidak dapat dijelaskan kaifiat (cara)nya dan tidak dapat dikias dengan sifat makhluk. Sebagaimana Allah berbicara tanpa alat  -dengan gigi, lidah dan bibir seperti makhluk, maha tinggi Allah dari penyerupaan ini, dan tidak boleh dikias ucapan-Nya dengan ucapan kita karena ucapan makhluk menggunakan alat, sementara Allah berbicara sepertimana kehendak-Nya tanpa alat- maka begitu juga Allah turun tanpa alat, pergerakan dan perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain…”[6]

Imam Ahmad pernah ditanya mengenai hadits-hadits yang menerangkan “nuzul” (turunnya Allah) dan “ru’yah” (Allah dapat dilihat), beliau menjawab: “Kami mempercayainya, tetapi kami tidak mengetahui caranya”. [7] Sama halnya dengan Imam Malik ketika ditanya mengenai maksud ayat “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam (istawa) di atas ‘Arsy” (TQS. Thaha: 5), beliau menjawab: “Istawa adalah maklum (diketahui), sedangkan caranya tidak bisa diketahui. Beriman kepada-Nya adalah wajib, dan mempertanyakan hal itu adalah bid’ah”. [8]

Begitulah sikap para ulama terhadap ayat-ayat maupun hadits-hadits mengenai sifat-sifat Allah. Mereka memahami maknyanya, akan tetapi mereka bersikap tawaqquf untuk membicarakan lebih lanjut hakikatnya. Sikap ini pula yang ditunjukkan oleh para Sahabat –ridhwanullah ‘alayhim-. Itulah mengapa kita tak menemukan polemik seputar persoalan ini di zaman mereka. Mereka menyerahkan sepenuhnya hakikat sifat-sifat-Nya kepada Allah Swt. Inilah iman yang benar. Wallahu a’lam bi ash-shawwab. []

 

Catatan kaki:

[1] Muhammad Abdurrahman, At-Tafkir, hal. 91

[2] An-Nabhani, Syakhshiyah, juz 1 hal. 159

[3] Idem, hal. 160

[4] Muhammad Mahgfur, Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam, hal. 108

[5] An-Nabhani, At-Tafkir, hal. 26

[6] Al-Ihsan fi Tartib Sahih Ibn Hibban, tahqiq Kamal Yusuf Al-Hut, [Beirut: Dar Al-Fikr, 1987] 1/243

[7] Abu Zahrah, Aqidah Islamiyyah Kama Jaa’a Biha Al-Qur’an, hal. 38

[8] Idem, hal. 38

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s