Modern Atheism

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Salah satu ciri sekularisasi Barat adalah menyingkirkan pengaruh alam metafisik. Doktrin kuasa dewa-dewi dianggap sebagai doktrin kuno yang mesti ditinggalkan.  Artinya, sekularisasi tidak hanya menghilangkan wibawa agama dari politik, tapi juga membebaskan diri dari agama secara mutlak. Teosentris diganti dengan antroposentris. Dan theis digeser oleh atheis. Abad 18 menjadi era dimana “Tuhan” tidak lagi menjadi sesuatu yang lebih tinggi dari manusia. Manusia dengan akalnya menjadi pusat. Inilah yang disebut dengan antroposentris absolut.

Munculnya ateisme di Barat juga dipicu oleh tirani dan kesewenangan gereja. Nietszche (1844 – 1900) yang merasa telah membunuh “tuhan” dengan gerahnya mengatakan, “Siapapun yang beragama pasti tidak bebas”. Ucapan Nietszche ini selanjutnya disambut oleh kepiluan Sartre, “Jika sekiranya Tuhan itu ada, dia tetap perlu ditolak sebab gagasan tentang Tuhan menafikan kemerdekaan kita”. Ucapan Nietszche maupun Sartre sesungguhnya menggambarkan trauma masyarakat Barat terhadap agama yang mengungkung kebebasan akal. Akhirnya, agama benar-benar dihabisi tidak hanya di gereja-gereja tapi juga di kampus-kampus.

Filsafat dituding sebagai biang kemunculan ateisme, lalu sains menyuburkannya. Marx paling sering mendapat kritik atas materialismenya. Filsafat materialisme yang diusung Marx menyatakan bahwa dunia ini terdiri dan tergantung kepada benda materi. Dengan demikian, bagi materialisme, seluruh realitas dan seluruh kejadian dapat dijabarkan sebagai materi dan proses material.

Jika kita sederhanakan lagi, penolakan Marx (dengan filsafat materialismenya) terhadap keberadaan Tuhan berawal dari anggapan bahwa sesuatu (materi atau benda) yang diakui keberadaannya haruslah berwujud dan dapat ditangkap panca indera. Sesuatu itu harus memiliki panjang, lebar dan padat serta menempati ruang. Kalau kita ingin memastikan keberadaan sebuah kursi, maka kita harus memastikannya dengan cara melihat dengan mata kepala sendiri sebuah benda yang terbuat dari kayu, memiliki empat kaki, dan terletak di sebuah ruangan atau di lapangan bola. Nah, sedangkan Tuhan menurut Marx adalah sesuatu yang non-materi (metafisis), tidak menempati ruang dan tak bisa ditangkap oleh panca indera. Kesimpulannya, Tuhan itu tidak ada. Penolakan ini berimplikasi pada sikap manusia terhadap agama. Tak perlu beragama, karena Tuhan itu sesungguhnya tidak ada. Tak perlu beribadah, karena agama tak memberikan manfaat. Begitulah akibatnya. Maka dicacilah orang yang ber-Tuhan, dicaci pula lah orang yang beragama.

Marx telah keliru. Sesuatu yang tak dapat diindera belum tentu tidak ada. Indera kita terbatas. Tidak semua hal yang ada di alam semesta ini dapat ditangkap oleh indera kita. Contohnya, mata tak akan mampu menangkap gelombang-gelombang magnetis, sinar ultra violet atau infra merah. Keterbatasan indera justru menunjukkan kelemahan kita sebagai hamba.

Jika demikian boleh saja kita mengatakan bahwa Marx tidak pernah ada. Hanya tokoh fiktif. Toh, kenyataannya kita tidak pernah melihat wujud Marx. Kalau pengikut Marx mengatakan bahwa cara untuk mengetahui keberadaan Marx (di masa silam) adalah lewat peninggalan karyanya, berarti mereka sendiri telah mencampakkan ‘doktrin’ materialismenya sendiri. Pembuktian adanya Marx melalui benda lain justru bertentangan dengan filsafat materialisme yang mereka yakini. Jika memang demikian, harusnya mereka meyakini adanya Tuhan lewat ciptaannya. Bagaimana mungkin mereka meyakini keberadaan Marx hanya lewat tanda yang sederhana (yaitu peninggalan Marx), tetapi mengingkari tanda yang ditinggalkan Allah (berupa ciptaan-Nya)? Bukankah ciptaan Allah yang maha dahsyat merupakan bukti yang terang benderang akan keberadaan Allah?

Yang lebih modern adalah teori sains Stephen Hawking. Tuhan, bagi seorang Hawking hanyalah mitos yang semakin terbukti ketidakberadaannya seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Kepercayaan bangsa kuno terhadap dewa-dewi misalnya, menurut Hawking hanyalah akibat ketidaktahuan manusia tentang cara jalannya alam semesta. Kemudian gagasan kuasa dewa-dewi itu perlahan digantikan dengan teori bahwa alam mengikuti kaidah-kaidah yang konsisten dan bisa dipelajari. Teori ini dikenalkan oleh Thales (kira-kira 624 SM – 546 SM), seorang filsuf dari Miletos. Thales dalam pandangan Hawking telah berhasil mereduksi fenomena alam ke dalam kaidah-kaidah yang sederhana tanpa harus melibatkan keimanan dan penjelasan-penjelasan teologis.

Hawking sangat ‘mendewakan’ hukum alam. Tak masalah menurut Hawking Tuhan ada atau tidak, toh menurutnya yang menggerakkan alam semesta adalah hukum-hukum yang mengatur dengan begitu hebat dan sempurnanya. Akan tetapi muncul pertanyaan, dari mana hukum alam itu berasal?

Jika kita mengikuti teori Hawking, kita bisa menangkap bahwa penciptaan adalah sebuah kadar dan ketentuan atau hukum alam. Hukum alam punya ‘kehendak’ mengatur alam semesta tanpa perlu campur tangan Tuhan. Ringkasnya, Hakwing hendak mengatakan tidak ada dzat yang menciptakan alam semesta berserta seluruh isinya dengan peraturan yang ada di dalamnya.

Hawking menulis dalam bukunya, “Because there is a law such as gravity, the universe can and will create itself from nothing…spontaneous creation is the reason there is something rather than nothing, why the universe exists, why we exist” (Karena adanya hukum seperti gravitasi, alam semesta dapat dan akan menciptakan dirinya sendiri dari tanpa sesuatu apapun (nothing)… Penciptaan spontan adalah alasannya mengapa ’sesuatu’ itu ada dari tanpa sesuatu apapun, inilah alasan mengapa alam semesta eksis dan kita pun juga eksis).

Padahal, ‘sesuatu’ tidak muncul dengan sendirinya tanpa adanya sebab. Apakah ‘sesuatu’ itu menciptakan dirinya sendiri? Apakah alam semesta menciptakan dirinya sendiri? Ini tentu tak masuk akal. “Sebab” yang sifatnya transenden inilah yang kita sebut sebagai Tuhan. Mengapa demikian? Dia lah yang menciptakan segala sesuatu. Al-Qur’an memberikan penjelasan paling baik mengenai hal ini, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak yakin (akan yang mereka katakan).” (Ath-Thur 52 : 35-36)

Ada juga yang percaya Tuhan, tapi bukan Tuhan yang dipercayai oleh orang yang beragama atau teolog. Sebagian meragukan Tuhan para teolog karena sulit dipahami akal. Inilah fenomena ateisme modern. Usut punya usut, penolakan mereka terhadap Tuhan agama-agama lantaran doktrin tuhan dalam Bible begitu rumit, tak rasional dan problematik. Itulah sebabnya Voltaire menolak mentah-mentah doktrin tersebut. Baginya, keberadaan Tuhan haruslah sesuai dengan standar akal.

Bagi kita yang tak punya bekal keimanan, perdebatan para filosof bisa menyeret kita menjadi kufur. Islam telah turun dengan sempurna. Al-Qur’an juga tak punya problem seperti Bible. Konsep Tuhan dalam Islam juga sudah final dan bebas dari ‘spekulasi teologis’. Ilmu (sains) dalam Islam “buit in” dengan konsep tauhid. Ianya satu paket. Mestinya, sains semakin mengokohkan keimanan kita kepada Allah, Dzat Yang Menciptakan alam semesta. Bukan sebaliknya. Berpikir dan berdzikir ia harus seiring sejalan. Seperti kata Hamid Fahmy Zarkasyi, “Hati yang tak berdzikir adalah mati, dan otak yang tak bertafakkur akan kufur”. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s