Muslim Berwajah Humanis

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Apa pendapat Anda ketika goyangan Anda saat bernyanyi mengundang banyak kontroversi?”, tanya seorang host di acara Talk Show kepada salah seorang penyanyi dangdut. “Saya kan niatnya menghibur, jadi baik-buruk kembali ke diri masing-masing saja”, jawabnya. Di waktu yang lain, seorang artis juga pernah diprotes lantaran pakaiannya yang sangat seksi, dengan santai ia menjawab, “biarkan masyarakat yang menilai”.

Anda sering mendengar pernyataan-pernyataan yang senada dengan itu? Jangan heran, inilah fenomena menjamurnya doktrin humanis. Humanisme telah lama dikenal di Barat sejak masa renaissance. Sejak kebangkitan filsafat Rasionalisme di abad 18 dan 19, masyarakat Barat telah memarjinalkan agama dan menggantinya dengan akal sebagai sumber kebenaran. Istilah humanisme sendiri berasal dari bahasa Italia umanista, yang artinya guru atau murid sastra klasik. Namun benih-benih pemikirannya sudah ada sejak abad 14 di saat masyarakat Barat mulai memiliki semangat untuk mengkaji filsafat. Mereka menganggap bahwa manusia punya kemampuan untuk menentukan kebenaran.

Jadi sebenarnya humanis itu antroposentris, lawan dari teosentris. Antroposentris artinya menjadikan manusia sebagai pusat. Yang menentukan baik dan buruk adalah akal manusia, bukan agama. Meski awalnya ia hidup bersama agama, tetapi di abad modern humanisme telah ‘cerai’ dari agama. Tanpa agama manusia bisa berkembang. Bahkan tanpa Tuhan pun manusia mampu menentukan kebaikan dan keburukan. Robert G. Ingersoll, seorang humanis sekular, dengan terang-terangan mengatakan, “kini saya yakin hantu dan tuhan adalah mitos. Aku bebas meneriakkan apa saja!”. Inilah wajah humanis yang sebenarnya, ateis.

Dalam ajaran humanisme, seseorang tak berhak melarang orang lain atas apa yang diperbuatnya. Melarang orang lain untuk tak memakai pakaian minim adalah tindakan tak humanis karena melanggar HAM katanya. Melarang lesbianisme, homo, aborsi, juga tindakan tak humanis. Celakanya, banyak muslim yang latah ikut-ikutan mengadopsi humanisme. Keluarlah dari lisan mereka, “tujuan (maqashid) syari’at lebih penting dari syari’at” artinya kemanusiaan lebih penting dari syari’at. Menjadi seorang yang moralis lebih penting dari pada menjadi seorang yang religius, begitulah kira-kira.

Bagi seorang muslim, tentu saja humanisme ini sangat berbahaya. Sebab seorang muslim membangun peradabannya berdasarkan wahyu. Kebenaran selalu diukur berdasarkan wahyu dan akal yang tak bertentangan dengan wahyu. Jika humanisme ini diadopsi, maka akan banyak sekali kewajiban dalam Islam yang diabaikan. Jihad adalah wajib, tapi bisa dianggap tak bermoral oleh humanisme karena bertentangan dengan kemanusiaan.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Apa yang dianggap baik oleh manusia belum tentu baik menurut Allah, begitu pula sebaliknya. Perang dalam Islam ditujukan bagi mereka yang menghalangi-halangi dakwah Islam. Bagi mereka yang mau tunduk di bawah kekuasaan Islam, maka mereka mendapatkan hak sebagaimana muslim yang lain. Dalam perang pun Islam memiliki adab, tidak boleh membunuh wanita, orang tua, anak-anak dan para budak yang dipaksa oleh tuannya untuk berperang. Tidak seperti Barat yang dianggap humanis, justru membunuh begitu banyak jiwa yang tak berdosa di Irak dan Afghanistan. Islam memiliki konsep sendiri mengenai kemanusiaan, tak perlu diajarkan oleh humanisme. Islam memiliki konsep bagaimana menjaga jiwa manusia dengan hukum qishash, menjaga kehormatan wanita dengan perintah berjilbab, menjaga adab kepada orang tua, berbuat baik kepada tetangga.

Humanisme juga akan menghilangkan konsep amar ma’ruf nahi mungkar. Kemungkaran adalah setiap perbuatan yang melanggar hak Allah dan hak manusia. Lesbi, homo, zina, percurian, aborsi, euthanasia, adalah perbuatan mungkar yang harus dihilangkan. Namun humanisme menganggapnya bukan bentuk kemungkaran, sebab manusia bebas berkehendak sesuka hati. Amar ma’ruf nahi mungkar akan dianggap sebagai bentuk pelanggaran kebebasan. Begitulah humanisme, ia telah menciptakan peradaban yang merusak demi mencapai apa yang mereka sebuat sebagai kebebasan.

Bagi seorang humanis, agamanya adalah liberalisme, objek sesembahannya adalah manusia, dan barangkali “jihad”nya adalah melawan agama. Jika demikian, kita memilih menjadi muslim sejati atau muslim berwajah humanis? []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s