Melacak Tradisi Menulis Kaum Muslim

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Menulis memang ada sejarahnya. Tapi kapan tradisi menulis ini berawal? Tak ada yang mengetahui dengan persis. Banyak yang meyakini jika tradisi menulis sudah dimulai sejak zaman Yunani kuno. Dalam sejarah umat manusia 7 (tujuh) penulis handal zaman yunani kuno seperti Homer (8 SM), Sophocles (496 – 406 SM), Herodotus (484 – 425 SM), Eurupides (480 – 406 SM), Hippocrates (460 – 370 SM), Aristophanes (446 – 386 SM), dan Plato (424 – 348 SM)1 dianggap paling berjasa dalam perkembangan tradisi menulis.

Beberapa karya mereka merupakan yang paling bernilai di dunia Barat. Sebut saja Plato yang terkenal dengan karya “Republik” dan “Simposium”. Murid Socrates ini juga menuliskan pemikiran-pemikiran sang guru, yang terangkum dalam beberapa karya dan membuat filsafat Socrates dikenal hingga sekarang. Gagasan Plato begitu menarik perhatian para cendikiawan Barat. Pasalnya, teori bentuk dan gagasan negara ideal yang dikenalkan Plato dianggap pemikiran paling brilian pada masanya bahkan (mungkin) hingga sekarang.

Bangsa Persia, atau Plato menyebutnya Bangsa Aryan, juga banyak menghasilkan karya dalam kesustraan. Mirip dengan bangsa Arab Jahiliyah, Persia juga merupakan wilayah dimana sastra tumbuh dan berkembang begitu suburnya. Tahun 220 – 670 M, kesustraan Persia mencapai puncaknya pada masa kekuasaan Bani Sassan. Corak kesustraan Bani Sassan inilah yang banyak mempengaruhi karya sastra pada masa kekuasaan Islam. Pada masa selanjutnya, banyak sastrawan muslim asal Persia yang menyumbang begitu banyak karya sastra pada saat Islam menaklukkan dan berkembang di Persia.

Sejak awal mula Islam berkembang di Madinah, kegiatan keilmuan tak kalah pesatnya dibanding Persia dan Yunani. Islam telah mendorong umatnya untuk melakukan telaah terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dorongan inilah yang melahirkan tradisi intelektual di kalangan umat Islam. Penelaahan terhadap Al-Qur’an telah melahirkan semangat untuk mengembangkan tradisi ilmu di kalangan sahabat Nabi Saw di Madinah. Maka tak heran kalau Franz Rosenthal penulis buku Knowledge Triumphant (Keagungan Ilmu) dalam Islam menyimpulan bahwa “ilmu adalah Islam”.

Ashabu as-Suffah adalah kelompok belajar pertama umat Islam dan sebagai bukti adanya kelompok intelektual yang memulai tradisi keilmuan dalam sejarah Islam. Kelompok ini tentulah berbeda dengan komunitas di Ionia pada masa Yunani, yang menurut orang Barat dianggap sebagai tempat kelahiran kebudayaan Barat. Objek kajian Ashabu as-Suffah adalah wahyu dengan materi kajian yang sangat kompleks. Pada masa inilah banyak kita temukan catatan-catatan yang berisi ribuan hadits Nabi Saw. Abu Hurayrah, Salman Al-Farisi, Ibnu Mas’ud dan Abu Dzar Al-Ghifari adalah sebagian kecil dari alumni madrasah tersebut. Madrasah yang langsung dibimbing oleh Nabi Saw ini begitu berjasa dalam perkembangan tradisi intelektual kaum Muslim pada masa berikutnya.

Tradisi intelektual tidak hanya berhenti di masa Nabi Saw, masa Khulafa’ al-Rasyidun tradisi intelektual justru berkembang lebih pesat. Hal ini seiring dengan menyebarnya di Islam ke luar jazirah Arab. Pada waktu kekhalifahan Umayyah berdiri (tahun 661 M), umat Islam telah menguasai Damascus pusat wilayah terpenting kerajaan Bizantium, Palestina, Suriah, Persia, (635-640 M), Mesir (641 M), Siprus (649 M), Iskandariyah (652 M), Transoxiana, kawasan Asia Barat dan Afrika Utara, dua kawasan yang dulunya jatuh ke tangan Alexander the Great.

Karya-karya ilmiah yang dilahirkan masyarakat Islam mencapai puncaknya pada masa Abbasiyah. Dari Baghdad, menyebar berbagai macam karya-karya dalam berbagai bidang keilmuan. Bidang sains yang dikembangkan oleh umat Islam di zaman Abbasiyah turut mengilhami kajian Sains di dunia Barat.

 

Karya Intelektual Di Masa Kekuasaan Islam

Semenjak Nabi Saw memerintahkan para Sahabatnya menuliskan wahyu di tulang-tulang unta atau keledai, batu-batu yang datar dan daun kurma, sejak itulah kegiatan tulis menulis telah dipraktekkan oleh para sahabat. Pada masa itu kita bisa menemukan Ali bin Abi Thalib k.w. memiliki mushaf tersendiri yang merupakan hasil salinannya sendiri dari hafalan yang didapatkan dari Nabi Saw. Begitu pula dengan Ibnu Mas’ud yang telah menyalin Al-Qur’an untuk keperluan pribadi. Tentu saja hasil salinan para sahabat ini telah mendapat persetujuan dari Nabi Saw agar terhindar dari penyimpangan. Dengan demikian, kesustraan Arab terutama Islam dimulai dengan lembaran-lembaran yang tidak mungkin dicipta oleh manusia.

Selain Ali dan Ibnu Mas’ud r.a., Zaid adalah sahabat yang paling sering menulis wahyu atas perintah Nabi Saw. Tidak hanya Zaid yang mendapatkan perintah tersebut, kurang lebih ada enam puluh lima sahabat yang bertindak sebagai penulis wahyu atas perintah Nabi Saw. Di antara mereka yang mendapat penghormatan sebagai pencatat kalam ilahi adalah Abban bin Sa’id , Abu Umama, Abu Ayyub Al-Ansari, Abu Bakr Ash-Shiddiq, Abu Hudzaifah, Abu Sufyan, Abu Salama, Abu Abbas, Ubayy bin Ka’ab, al-Arqam, Usaid bin al-Hudhair, Aus, Buraida, Bashir, Tsabit bin Qais, Ja’far bin Abi Thalib, Jahm bin Sa’d, Suhaim, Hatib, Hudzaifah, Husain, Handzalah, Huwaitib, Kalid bin Sa’id, Khalid bin Walid, Zubair bin Awwam, Zubair bin Arqam, Zain bin Tsabit, Sa’d bin Rabi’, Sa’d bin ‘Ubada, Sa’id bin Sa’id, Shurahbil bin Hasna, Thalhah, ‘Amir bin Fuhaira, ‘Abbas, Abdullah bin al-Arqam, ‘Abdullah bin Abi Bakr, ‘Abdullah bin Rawahah, ‘Abdullah bin Zaid, ‘Abdullah bin Sa’d, ‘Abdullah bin ‘Abdullah, ‘Abdullah bin ‘Amr, ‘Utsman bin ‘Affan, Uqba, al-‘Ala bin Uqba, ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Umar bin Khattab, ‘Amr bin al-‘Ash, Muhammad bin Maslama, Mu’adz bin Jabal, Mu’awiyah, Ma’n bin ‘Adi, Mu’aqib bin Mughirah, Mundzir, Muhajir, dan Yazid bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhum.2

Dalam sebuah kesempatan, Zaid bin Tsabit r.a. pernah dipanggil oleh Nabi Saw ketika ayat Jihad turun. Seraya membawa tinta dan alat tulis, Zaid r.a., atas perintah Nabi Saw, menuliskan ayat yang didiktekan oleh Nabi Saw. Kemudian, sejenak setelah tugas selesai, Zaid r.a. membacakan ulang di depan Nabi Muhammad Saw. Hal ini dilakukan guna memastikan tidak ada sisipan kata lain yang masuk ke dalam teks.4

Penulisan wahyu dalam lembaran-lembaran, telah dilakukan sejak periode Mekkah. Jadi semenjak awal diutusnya Nabi Muhammad Saw, tradisi penulisan Al-Qur’an telah hidup di tengah-tengah umat Islam. Seperti pengakuan Khalid bin al-‘Ash r.a. berikut, ia mengatakan, “Aku adalah orang pertama yang menulis ‘Bismillah ar-Rahman ar-Rahim’ (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).”

Untuk membuktikan lagi bahwa Al-Qur’an telah ditulis di masa ini, kita bisa menengok kisah di saat Umar bin Khattab r.a. masuk Islam.

Suatu hari, dalam keadaan marah, ‘Umar menentang pedang yang terhunus hendak memenggal leher Nabi Saw. Sekitar empat puluh orang Sahabat saat itu sedang berkumpul di sebuah rumah di bukit Shafa. Abu Bakar r.a., Hamzah r.a. dan ‘Ali r.a. tampak di antara mereka. Nu’aim secara tak sengaja berpapasan dengan ‘Umar dan menanyakan ke mana ia hendak pergi. “Aku ingin membunuh Muhammad”, jawab ‘Umar. “Ia adalah manusia yang telah membuat orang Quraisy berkhianat terhadap agama nenek moyang mereka, mencaci kehidupan kami, dan menghina tuhan-tuhan kami”, lanjut ‘Umar.

Lantas Nu’aim berkata, “Engkau hanya akan menipu dirimu sendiri wahai ‘Umar”. “Jika engkau menganggap bahwa Bani ‘Abd Manaf mengizinkanmu menapak di bumi ini hendak memutus nyawa Muhammad, maka lebih baik engkau pulang dan temui keluargamu dan selesaikan permasalahan mereka”.

Mendengar perkataan Nu’aim tersebut, ‘Umar kemudian pulang sambil bertanya-tanya apa yang telah menimpa keluarganya. Saat tiba di rumah, ‘Umar bersegera memburu iparnya. Ketika mereka mendengar suara ‘Umar, Khabba lari masuk ke kamar kecil, sedang Fatimah mengambil kertas kulit yang bertuliskan Al-Qur’an dan diletakkan di bawah pahanya. Kemarahan ‘Umar tak tertahankan tatkala mendapati keluarganya telah mengikuti agama Muhammad.

Riwayat yang berakhir dengan masuknya ‘Umar ke dalam agama Islam ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an telah ditulis ketika itu. Selain hafalan, ayat-ayat Allah ini direkam dengan sangat baik oleh para Sahabat dalam catatan pribadi mereka. Tradisi tersebut terus berlangsung hingga wafatnya Nabi Saw.

 

Karya Intelektual di Masa Khilafah Umayyah

Umat Islam tak pernah habis melahirkan karya-karya intelektual di berbagai bidang. Pada zaman Umayyah (41 – 132 H / 661 – 750 M), Damascus sebagai ibu kota negara telah menjadi pusat kegiatan ilmiah umat Islam pada masa itu. Sastra berkembang sangat pesat pada masa Umayyah. Ada tiga tema besar sastra yang berkembang dan bertahan saat itu, yaitu tema al-siyasi (politik), naqaidh (polemik) dan syi’r al-futuh wa al-da’wah al-islamiyyah (perluasan daerah dan dakwah Islamiyyah).5 Tema-tema tersebut dipengaruhi oleh beberapa peristiwa yang terjadi masa itu. Perang Siffin antara Ali dan Mu’awiyah dan arbritase yang dilakukan kaum Khawarij adalah dua peristiwa besar yang mewarnai tema-tema sastra di zaman Umayyah. Mu’awiyah sendiri pernah menarik para sastrawan untuk berdiri di belakangnya. Berikut adalah contoh syair yang didengungkan para penyair yang memuji kemuliaan khalifah:

Apabila di ufuk benar-benar gelap gulita

Bagi mereka ada jalan keliar dan tempat berlindung

Kesulitan para musuh dapat ditundukkan

Jika mereka mampu

Mereka adalah manusia yang paling mulia kebijaksanaannya

Sampai masa khalifah terakhir,  Marwan bin Muhammad (126-132H/ 744-750M), sastra mencapai puncak kejayaaannya pada masa Khilafah Umayyah. Bahkan Marwan pernah memerintahkan Abdul Hamid bin Yahya, seorang ahli esai, untuk menuliskan surat negara dengan bahasa sastra yang indah. Yang membuat surat negara pada saat itu menjadi surat paling panjang dalam sejarah, dan memerlukan seekor unta untuk memanggul surat tersebut dan membawanya ke alamat yang dituju. Gaya baru sastra yang dikenalkan Abdul Hamid bin Yahya disebut tawazun (simetri sastra) dengan tiruan gaya al-Qur’an.

Di Andalusia, pada masa Umayyah juga banyak melahirkan para ahli bahasa dan sastrawan dengan karya-karya yang gemilang. Beberapa di antara mereka adalah:

  1. Al-Zabidi. Ia adalah seorang ahli bahasa yang mengembangkan bahasa dan sastra di Andalusia. Karyanya yang terkenal adalah “Mukhtasar al-‘Ain dan Akhbar al-Nahwiyyin”.
  2. Ibnu Al-Quthiyah. Ia adalah salah seorang murid dari al-Zabidi. Ibnu Quthiyah telah menunjukkan dirinya sebagai ahli bahasa, sastrawan dan penyair dengan menulis karya yang berjudul “Al-Af’al” dan “Fa’alta wa Af’alat”.
  3. Ali Al-Qali. Penulis buku “Al-Amali” dan “An-Nawadir” ini adalah seorang tokoh besar pada zamannya. Ia tidak hanya menguasai sastra dan bahasa, tetapi juga ilmu hadits. Pada tahun 330 H, al-Nashir pernah mengundang beliau untuk menetap di Cordova. Saat itulah Ali al-Qali mengembangkan tsaqofah Islam hingga ia menemui ajalnya pada tahun 358 H.

 

Karya Dalam Bidang Fiqh dan Qira’at

Banyak ulama dan pakar fiqh di Andalusia yang sangat terkenal dan berjasa dalam bidang fiqh. Abu Muhammad Ali Ibn Hazm (w.455 H/1063 M) yang akrab dipanggil Ibnu Hazm adalah seorang ulama terkemuka saat itu.6 Dengan karya yang berjumlah 400 buku yang terdiri dari fiqh, hadits, puisi dan teologi, telah menempatkan beliau dalam jajaran para ulama yang paling produktif pada zamannya. Karangan beliau yang terkenal antara lain, al-Ihkam fi Ushulil Ahkam (Ushul Fiqh), Al-Muhalla (Fiqh), dan Al-Fashl fi al-Milal wa Ahwa fi al-Nihal (ilmu kalam). Atas jasa Ibnu Hazm, mazhab Zhahiri berkembang begitu pesatnya di Andalusia.7 Selain Ibnu Hazm, ulama lainnya yang hampir menyaingi keproduktifan Ibnu Hazm adalah Abu Amr al-Dani Utsman Ibn Said (w. 444 H/1052 M). Beliau adalah ulama ahli qira’at yang telah menulis 120 kitab, salah satunya adalah al-Muqni’u wa al-Taisir.

Penulis lain yang ikut menyumbangkan karya dalam sejarah Islam di Andalusia adalah Abu Marwan Hayyan bin Khalaf, atau populer dengan panggilan Ibnu Hayyan (987 – 1076 M)8. Tidak kurang dari 50 karya telah ditulisnya, satu di antaranya adalah Al-Matin yang terdiri dari 60 jilid.9 Namun sangat disayangkan, dari sekian banyak karyanya hanya kitab Al-Muqtabis fi Tarikh Rijal Al-Andalus yang dapat diselamatkan.

Abdurrahman bin Khaldun (1332 – 1406) atau akrab dengan sebutan Ibnu Khaldun telah menyumbangkan karya-karya yang luar biasa sejak Islam berkuasa di Spanyol. Sejarawan yang lahir di Tunis ini telah melahirkan karya sejarah yang monumental, Al-Muqaddimah. Kitab inilah yang melambungkan namanya sebagai sejarawan sekaligus sebagai pelopor sosiologi, tidak hanya di Timur tetapi juga di Barat.

 

Karya Intelektual di Masa Abbasiyah

Kualitas dan situasi intelektual pada abad ke 8 telah mencapai titik kulminasi di bawah Kekhilafahan Abbasiyah. Para sejarawan bisa mengetahui betapa gemilangnya pencapaian ilmu pengetahuan dunia pada masa itu. Saat Eropa masih bergelut dengan mantra-mantra tukang sihir, kaum Muslim di Baghdad sudah menuangkan pemikiran dan konsep dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Situasi intelektual semacam ini tak lepas dari faktor kekuasaan politik. Situasi politik yang mendukung telah memberikan fasilitas pendidikan kepada kaum Muslim dengan didirikannya akademi pendidikan terbesar saat itu, Baytul Hikmah.

Pada awalnya Baytul Hikmah adalah perpustakaan milik Harun Al-Rasyid, bernama Kanzul Hikmah. Kemudian oleh anaknya, Al-Ma’mun mengembangkannya menjadi lembaga pengkajian yang lebih besar. Pada perkembangan selanjutnya, Baytul Hikmah memiliki koleksi sebanyak 600.000 jilid buku.10 Sangat menakjubkan, karya-karya dari segala bidang dikoleksi dengan baik di dalam Baytul Hikmah, mulai dari karya sastra, kitab tafsir, teologi sampai dengan buku-buku Sains.

Di Baytul Hikmah inilah, tokoh-tokoh intelektual menghasilkan berbagai macam karya-karya ilmiah. Sebagian besar karya-karya mereka yang monumental masih bisa dinikmati hingga sekarang.

 

Karya – karya Intelektual di Bidang Sejarah

Siapa yang tak mengenal Imam At-Thabari dengan karyanya Tarikh Ath-Thabari. Beliau adalah salah satu sejarawan periode Abbasiyah yang paling berjasa dalam menyusun data-data sejarah umat Islam. Ada pula Ibnu Ishaq yang menyusun Sirah Nabi Muhammad Saw11, sebagian riwayat-riwayat dalam kitab ini dinukil oleh Ibnu Hisyam pada masa selanjutnya. Selain Ibnu Hisyam, ada puluhan ulama lainnya yang melakukan hal yang sama. Sebagian besar kegiatan sejarawan ini dilakukan di Baytul Hikmah.

Karya – karya Ulama dalam Bidang Hadits dan Tafsir

Ahmad Bin Hanbal yang terkenal sebagai salah satu imam mazhab pada periode Abbasiyah telah berhasil menyusun kitab hadits yaitu al-Musnad. Tidak ketinggalan juga Al-Bukhari, salah satu imam hadits pada masanya, menyusun kitab hadits yang paling direkomendasikan oleh para ulama yaitu Jami’ ash-Shahih. Kitab yang berisi hadits-hadits shahih Nabi Saw ini dikaji oleh generasi Islam dari masa ke masa. Selain Al-Bukhori, tampil pula Ath-Thabari dengan kitab tafsirnya Jami’ul Bayan, Zamakhsyari dengan kitab Al-Kasysyaf, dan Fakhruddin Ar-Razi yang menulis kitab tafsir Mafatihul Ghaib. Yang pasti kebanyakan ilmuwan Muslim pada periode abad 9 hingga 13 memiliki akar pendidikan di Baghdad. Baytul Hikmah benar-benar tampil sebagai think tank terbesar yang tidak bandingannya saat itu.

Karya – Karya Ilmiyah Bidang Sains

Jabir Ibn Hayyan pada masa Abbsiyah telah mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai ahli kimia yang paling gemilang. Berbagai karya ilmiah di bidang kimia telah dihasilkannya. Ada pula Al-Khawarizmi yang menulis buku Al-Jabr wa al-Muqobalah, yang memuat ilmu aljabar untuk pertama kalinya. Al-Khawarizmi pernah ditugaskan oleh Harun Al-Rasyid untuk menerjemahkan naskah-naskah Yunani sambil memperdalam sekaligus mengajar ilmu aljabar, geometri dan astronomi.12

 

Karya Intelektual Muslim Masa ‘Utsmaniyah

             Masa Kekhilafahan Utsmaniyah (1299 – 1924 M) dikenal sebagai kekhilafahan yang paling aktif melakukan futuhat untuk menyebarkan dakwah Islam. Konstantinopel yang dianggap sebagai simbol kejayaan Barat masa itu berhasil dikuasai. Namun, perkembangan karya intelektual pada masa Utsmaniy tidaklah secemerlang masa Abbasiyah dari segi produktifitas. Aktivitas futuhat telah memalingkan perhatian sebagian sultan Utsmaniy untuk memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan. Aktivitas futuhat yang tinggi yang tidak dibarengi dengan penguatan tsaqofah menyebabkan kerapuhan di dalam kekuasaan Utsmaniy. Yang pada akhirnya, kaum muslimin gagap ketika menghadapi revolusi industri di Eropa.

Walaupun demikian, tidak berarti pada kekhilafahan Utsmaniyah tidak ada sama sekali karya yang ditulis oleh para ‘ulama. Bahkan sejumlah karya dari segi kualitas telah melampaui apa yang telah dicapai oleh para ulama di masa Abbasiyah. Sebut saja seperti Fathul Bariy yang merupakan karya fenomenal dari faqihnya umat ini, Ibnu Hajar Al-‘Asqolani. Sebuah kitab tanpa tanding dalam hal syarah kitab Jami’ ash-Shahih Al-Bukhari ini adalah karya yang isinya tak lekang oleh zaman. Boleh kita katakan kalau kitab ini adalah salah satu karya paling gemilang yang ditulis di masa Kekhilafahan ‘Utsmaniyah.

Ibnu Hajar termasuk ulama dan penulis yang produktif. Beberapa buah tinta emasnya yang lain adalah:

  • Ithaf Al-Mahrah bi Athraf Al-Asyrah.
  • An-Nukat Azh-Zhiraf ala Al-Athraf.
  • Ta’rif Ahli At-Taqdis bi Maratib Al-Maushufin bi At-Tadlis (Thaqabat Al-Mudallisin).
  • Taghliq At-Ta’liq.
  • At-Tamyiz fi Takhrij Ahadits Syarh Al-Wajiz (At-Talkhis Al-Habir).
  • Ad-Dirayah fi Takhrij Ahadits Al-Hidayah.
  • Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari.
  • Al-Qaul Al-Musaddad fi Adz-Dzabbi an Musnad Al-Imam Ahmad.
  • Al-Kafi Asy-Syafi fi Takhrij Ahadits Al-Kasyyaf.
  • Mukhtashar At-Targhib wa At-Tarhib.
  • Al-Mathalib Al-Aliyah bi Zawaid Al-Masanid Ats-Tsamaniyah.
  • Nukhbah Al-Fikri fi Mushthalah Ahli Al-Atsar.
  • Nuzhah An-Nazhar fi Taudhih Nukhbah Al-Fikr.
  • Komentar dan kritik atas kitab Ulum Hadits karya Ibnu As-Shalah.
  • Hadyu As-Sari Muqqadimah Fath Al-Bari.
  • Tabshir Al-Muntabash bi Tahrir Al-Musytabah.
  • Ta’jil Al-Manfaah bi Zawaid Rijal Al-Aimmah Al-Arba’ah.
  • Taqrib At-Tahdzib.
  • Tahdzib At-Tahdzib.
  • Lisan Al-Mizan.
  • Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah.
  • Inba’ Al-Ghamar bi Inba’ Al-Umur.
  • Ad-Durar Al-Kaminah fi A’yan Al-Miah Ats-Tsaminah.
  • Raf’ul Ishri ‘an Qudhat Mishra.
  • Bulughul Maram min Adillah Al-Ahkam.
  • Quwwatul Hujjaj fi Umum Al-Maghfirah Al-Hujjaj.

Sederetan karya tersebut menunjukkan betapa seriusnya Ibnu Hajar menuangkan harta paling berharganya dalam pahatan karya. Betapa luas ilmunya yang jika dituliskan bisa menjadi puluhan bahkan ratusan kitab berjilid. Dan menurut informasi dari muridnya, Asy-Syakhawi, Ibnu Hajar telah menuliskan 270 kitab. Semoga Allah Swt membalas seluruh jasa Ibnu Hajar atas umat Islam. Selain Ibnu Hajar, beberapa ulama lain yang telah menyumbangkan kontribusinya patut disebutkan satu persatu, di antara mereka yang masyhur adalah:

  1. Syeikh Hasan Ali Ahmad As-Syafi’i yang dimasyhurkan dengan Al-Madabighy, Jam’ul  Jawami dan syarah  Ajrumiyah (wafat tahun 1170 H. = 1756M.)
  2. 2.       Ibnu Hajar Al-Haitsami (wafat tahun 975H. = 1567M.) pengarang Tuhfah.
  3. Syamsuddin Ramali (wafat tahun 1004H. = 1959H.) pengarang Nihayah
  4. Muhammad bin Abdur Razak, Murtadla Al-Husainy Az-Zubaidy, pengarang syarah Al-Qamus, bernama Tajul Urus (wafat tahun 1205H. = 1790M.).
  5.  Abdur Rahman Al-Jabarity (wafat tahun 1240H. = 1825M.), pengarang kitab tarikh Mesir, bernama  Ajaibul-Atsar Fit-Tarajim Wal-Akhbar.
  6. 6.      Syekh Hasan Al-Kafrawy As-Syafi’i Al-azhary (wafat tahun 1202H. = 1787M.) pengarang kitab nahwu Syarah Ajrumiyah, barnama Kafrawy.
  7. Syeikh Sulaiman bin Muhamad bin Umar Al-Bijirmy As-Syafi’i (wafat tahun 1212H. =1806M.), pengarang syarah-syarah dan hasyiah-hasyiah
  8. Syeikh Hasan Al-Attar (wafat tahun 1250H. = 1834M.), ahli ilmu pasti dan ilmu kedokteran
  9. Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Arfah Ad-Dusuqy Al-Maliki (wafat tahun 1230H. =1814M.) ahli filsafat dan Imu falak serta ahli ilmu ukur.
  10. Syeikh Yusuf An-Nabhani, beliau merupakan penulis dari 75 kitab yang terkenal di masa pemerintahan Utsmaniy, di antaranya adalah kitab Jami’u Karomatil Auliya’ yang terdiri dari dua jilid tebal.

 

Bagaimana Dengan Kita?

Seperti yang telah dipaparkan, sumbangsih para ulama dan kaum intelektual dalam sejarah Islam sudah tak terhitung. Nah, bagaimana dengan kita? Jika mau disebut sebagai generasi pewaris peradaban tentu saja tradisi menulis tidak bisa kita tinggalkan. Sebab itulah tradisi generasi terbaik, tradisi yang telah mengantarkan umat Islam ke puncak kegemilangan.

“…Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tiada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, ia akan tetap tinggal di bumi…” (Ar Ra’d 17).

Tinggalkanlah jejak kita di dunia dalam bait-bait kalimat kebaikan, pahatkanlah ia dalam sebuah karya, dan biarkan ia tumbuh menjadi dzarrah kebaikan. Agar kelak ketika kita berada di alam barzakh, ia tetap mengalirkan pahala yang tiada henti.

Catatan Kaki:

1 http://www.smartnewz.info/2011/08/7-penulis-handal-di-zaman-yunani-kuno.html

2 http://id.shvoong.com/humanities/history/2074194-sejarah-peradaban-yunani/#ixzz1ZvU8vuXQ

3 Muhammad Musthafa Al-‘Azami, “The History of The Qur’anic Text”, Penerbit GIP, Jakarta, hal. 72

4 ibid, hal. 73

5http://jurnallingua.com/edisi-2006/4-vol-1-no-1/28-perkembangan-sastra-di-era-bani-umayyah-analisa-kritis-strukturalisme-genetik.html

6 Muhammad Abu Zahrah, Muhadlarat fi Tarikh al Madzahib al Fiqhiyyah, (Jam’iyyah al Dirasat al Islamiyyah, t.th), h. 383.

7 Atang Abdul Hakim, Sumber Hukum Islam MenurutIbn Hazm dalam Prespektif Sejarah HukumIslam, Bandung : Pusat Penelitian IAIN Sunan Gunung Djati, 1997.

8 Tata Septayuda, Khazanah Peradaban Islam, Penerbit Tinta Medina, hal. 24

9 Ibid, hal. 25

10 Majalah Islamia, volume V no. 1, 2009. Hal. 96

11 ibid

12 Tata Septayuda, Khazanah Peradaban Islam, hal. 8


One thought on “Melacak Tradisi Menulis Kaum Muslim”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s