Deradikalisasi Bukan Solusi

Oleh: Kusnady Ar-Razi

[Sebuah Catatan Singkat]

Berawal dari semangat melumpuhkan ideologi radikal, program de-radikalisasi direalisasikan dengan begitu cepat memakan ‘korban’ dari umat Islam. Beberapa aktivis yang dicurigai terlibat aksi terorisme dikirim ke ‘rumah besi’ tanpa diawali proses pengadilan. Ini sebabnya sedari awal program ini berdiri di atas paradoks paradigma terorisme yang digelindingkan AS ke negara-negara dunia ketiga. Definisi terorisme seringkali menjadi bias ketika diasosiasikan dengan individu atau kelompok yang berbeda pandangan dengan Barat.

Dalam pandangan Barat, setiap upaya dan aksi yang mengancam kepentingan mereka maka itulah terorisme. Itulah mengapa Barat memasukkan PLO, Red Brigades, Cuba, Lybia, dan gerakan Islam politik sebagai kelompok teroris karena mengancam imperialisme global. Tetapi pengelompokan tersebut tidak berlaku bagi rezim-rezim “teroris” Garcia di Guatemala, Pinoshet di Chili, dan rezim Apartheid di Afrika Selatan. Padahal, pada 4 Mei 1978 tentara Afrika Selatan membunuh lebih dari 600 orang warga di kamp pengungsi Kassinga, Namibia.

Kentalnya doktrin dan pola pikir ‘bahaya Islam’ semakin memperjelas bahwa sasaran de-radikalisasi (sebagai kepanjangan agenda WOT) adalah Islam dan umatnya. Jadi bisa dibaca kemana arah program ini. Bukan hanya membahayakan fisik tetapi juga pemikiran umat Islam. Parahnya, de-radikalisasi memiliki potensi de-islamisasi (penghancuran Islam). Ada upaya tahrif (perubahan) terhadap sejumlah konsepsi, seperti Jihad, thaghut, ummatan wasathan, Khilafah, dll. Sekali lagi, usaha semacam ini adalah bagian dari strategi untuk mengubah cara pandang ‘pelaku terorisme’ dan aktivis Islam yang radikal agar lebih moderat dan pro Barat.

De-radikalisasi tidak akan menghilangkan terorisme. Justru yang timbul adalah resistensi yang lebih besar dari umat yang merasa terdzolimi akibat implementasi program ini. Bukan tidak mungkin akan melahirkan aksi-aksi kekerasan lainnya. De-radikalisasi sebenarnya tak menyentuh akar persoalan. Penentangan terhadap pemerintah sebenarnya lahir akibat ketidakadilan yang diciptakan penguasa. Jadi, jika negara ingin menghilangkan aksi terorisme, maka ketidakadilan dalam pengurusan rakyat itulah yang harus dihilangkan. Dan solusi semacam ini hanya bisa diambil jika negara mengubah paradigma dalam pengelolaan negara. Sistem Kapitalisme yang berdiri di atas pilar kerakusan dan ketidakadilan harus segera dipensiunkan dalam mengurusi urusan umat.

De-radikalisasi bukanlah solusi. Ini hanyalah strategi dari kaum yang ‘sesat’ pikir dan menjadi kepanjangan tangan dari kepentingan global untuk melumpuhkan Islam. Umat Islam harus mulai cerdas memberikan tawaran solusi kepada bangsa ini. Islam yang bukan hanya sekedar agama tapi juga sebuah mabda’, sudah barang tentu Islam memiliki konsepsi kehidupan yang lengkap dan kompleks. Tinggal bagaimana kelompok Islam mengargumentasikan dengan dengan baik kepada masyarakat luas. Agar cita-cita mengembalikan Khilafah Islam tidak hanya dianggap sebagai fantasi intelektual, tapi solusi riil yang sangat mungkin diwujudkan. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s