Wanita-wanita Hebat Ahli Hadits

Oleh: Kusnady Ar-Razi

Islam memang tidak pernah habis menghasilkan orang-orang hebat di dalam sejarah umat manusia. Ada ilmuwan, pemikir, ulama, panglima perang, pakar sejarah, dan juga ahli hadits. Hasil pemikiran dan karya mereka telah dikaji oleh banyak pakar abad modern. Mereka ini lah yang menjadi ujung tombak peradaban Islam selama ratusan tahun, mulai dari masa para sahabat Nabi Saw. yang empat hingga masa Daulah Utsmaniyah. Yang lebih menarik, kontribusi penting terhadap peradaban Islam bukan hanya monopoli kaum lelaki, tetapi para wanita juga ikut andil di dalamnya. Termasuk di antaranya adalah kontribusi mereka dalam bidang hadits.

Urusan dapur ternyata tak menghalangi para muslimah untuk berlelah-lelah menghasilkan karya-karya hebat. Di rumah mereka menjadi guru bagi anak-anaknya, di luar mereka menjadi rujukan bagi banyak orang. Di dalam sejarah, kita mendapati nama ‘Aisyah binti Abu Bakar –istri Nabi Saw- sebagai ulamanya para sahabat Nabi saw. Nama ‘Aisyah tercatat di antara para sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Saw. Nabi Saw juga telah menempatkan ‘Aisyah sebagai salah satu marja’ dalam urusan agama sepeninggal beliau. Kecerdasan dan ketelitiannya tak tertandingi, ditambah dengan pengalamannya bersama Nabi Saw saat menerima wahyu.

Ada 78 rawi wanita yang mendapatkan hadits dan meriwayatkannya langsung dari Nabi Saw. Di antara mereka ‘Aisyah menempati urutan pertama sebagai wanita yang meriwayatkan hadits paling banyak, disusul dengan Hindun (Istri Nabi), Maimunah (istri Nabi), Nashibah Umm ‘Athiyyah, Hafshah (istri Nabi), Ramlah (istri Nabi), Asma’ binti Abu Bakar (ipar Nabi), Fathimah binti Qais, Fakhitah binti Abi Thalib (sepupu Nabi) dan Asma’ binti Yazid. Memang dari segi kuantitas hadits yang diriwayatkan oleh para wanita lebih sedikit dibanding dengan yang diriwayatkan oleh para rawi laki-laki. Di dalam kitab Shahih al-Bukhari misalnya, dari sekitar 7008 hadits yang dimuat, hanya sekitar 1042 yang diriwayatkan oleh rawi wanita; pada Shahih Muslim di antara 5662 hadits yang dimuat, hanya 794 hadits yang diriwayatkan para wanita; dan pada kitab-kitab hadits yang lain juga menunjukkan hal yang sama.

Namun fakta ini bukan berarti kualitas hadits yang diriwayatkan para wanita lebih rendah dibandingkan dengan apa yang diriwayatkan oleh para rawi laki-laki. Bagi para wanita generasi sahabat, tidak ada ikhtilaf di kalangan ulama mengenai penilaian terhadap mereka. Ada satu kaidah yang berlaku di sini yaitu ash-shahabatu kulluhum ‘udul (semua sahabat adil). Keadilan inilah yang menyebabkan tidak perlunya dilakukan penilaian terhadap para sahabat mengenai layak dan tidaknya mereka untuk meriwayatkan hadits, termasuk bagi para sahabat wanita. Kualitas mereka tak kalah dibanding para sahabat dari kalangan laki-laki. Seperti Asma’ yang pernah mendapat pujian dengan perkataan, “setelah umur seratus tahun pun, Asma’ tidak akan rontok giginya ataupun linglung akalnya”. Itulah pernyataan Hisyam bin ‘Urwah yang didapat dari ayahnya tentang Asma’.

Para sahabat yang terkenal seperti Ibnu Abbas pernah mengambil hadits dari Juwairiyah binti Al-Harits dan Saudah binti Zama’ah. Secara tidak langsung, ini adalah bentuk pengakuan terhadap kapasitas mereka (rawi wanita dari kalangan sahabat) sebagai ahli hadits. Pada masa berikutnya ada nama Fathimah binti Ali Mundzir (menantu ‘Urwah yang keponakaan ‘Aisyah istri Nabi) dan Karimah al-Marwaziyah (guru Ishaq bin Hammad) sebagai ahli hadits terkenal. Kemudian di masa tabi’in muncul pakar hadits wanita lainnya seperti ‘Aisyah binti Sa’ad bin Abi Waqqash, ‘Aisyah binti Quddah bin Maz’un, Hafshah binti ‘Abdurrahman bin Abi Bakar, Shafiyyah binti Syaibah bin ‘Utsman, Zainab binti Muhajir Ahmasiyah, Kabsyah binti Ka’ab bin Malik, Ummu Hasan Basri, Hafshah biti Anas bin Malik, yang telah melahirkan banyak ahli hadits. Itulah mengapa posisi wanita dalam bidang ini tidak bisa diabaikan. Kemampuan mereka telah diakui umat sepanjang masa. Jika mereka tidak mampu menandingi kaum laki-laki dari segi banyaknya hadits yang diriwayatkan itu karena mereka harus membagi energi dan waktu mereka dengan tugas mulia mereka sebagai ibu rumah tangga. Sebuah tugas yang pahalanya dikatakan oleh Nabi Saw sama dengan pahala jihadnya suami-suami mereka di medan perang. Islam telah menjadikan mereka sebagai pribadi-pribadi hebat dan menarik, pribadi-pribadi yang telah membuat penduduk langit dan bumi cemburu. Lantas siapakah yang akan mengikuti jejak mereka selanjutnya? Andakah orangnya? []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s