Menggenggam Timur dan Barat

Dalam sejarah manapun belum pernah sama sekali dijumpai sebuah fenomena semacam ini. Sangat sulit bagi seseorang untuk menggambarkan cepatnya penyebaran yang diwujudkan oleh Islam. Mengubah sebuah agama yang tadinya hanya dipeluk oleh puluhan orang yang memiliki semangat berkobar, menjadi sebuah agama yang diimani oleh jutaan umat manusia. Selamanya akal manusia akan terus mengalami kebingungan dan tidak akan mampu mengungkap kekuatan rahasia yang membuat sekelompok pejuang keras mampu mengalahkan bangsa yang jauh di atas mereka, baik dalam hal peradaban, kekayaan, pengalaman maupun kemampuan menyerang di medan perang”. [L. Veccia Vaglieri][1]

Fakta sejarah memang tidak pernah berbohong. Tertulis dalam lembaran-lembaran kitab tarikh bahwa Islam yang awalnya hanya berupa agama yang dipeluk oleh puluhan orang saja menjadi sebuah peradaban besar yang berdiri kokoh menandingi peradaban lain yang telah ada lebih awal. Tentu hal ini membuat pandangan sejarawan tertuju pada Islam.

Hasrat para sejarawan akan fakta sejarah membawa mereka pada pertanyaan, “rahasia apakah yang dimiliki Islam sehingga sedemikian cepatnya ia berdiri menjadi peradaban yang begitu gemilang dan berwibawa?” Sebab di sisi lain, mereka tahu dengan jelas bagaimana peradaban lain membutuhkan waktu ratusan tahun untuk menjadi peradaban yang kokoh lagi berpengaruh –seperti Persia dan Romawi-. Dan pada akhirnya kita sendiri dibuat kagum oleh sejarawan Barat dengan karya-karya mereka seputar sejarah Islam, sebut saja seperti Hugh Kennedy dengan “The Great Arab Conquests” –yang sebagian data sejarahya diambil dari kitab Tarikh Ath-Thabari-, Philip K. Hitti dengan “History of The Arabs”, dan sejarawan lainnya dengan karya-karya hebat yang telah menampilkan data sejarah yang sangat baik, jujur, dan objektif. Semua yang mereka lakukan –yakni menghimpun perisiwa-peristiwa penting abad pertama Islam- adalah untuk mengungkap rahasia Islam yang berhasil membawa manusia ke masa kebangkitan.

Dalam masa seratus tahun umat Islam telah merengkuh kekuasaan dengan wilayah melewati jazirah Arab, Byzantium dipecundangi, Persia ditaklukkan, Dinasti Tang di daratan Cina gentar, dan Spanyol di wilayah Barat ditekuk lewat futuhat pimpinan Thariq bin Ziyad yang mengagumkan. Lalu agama macam apakah yang telah menghasilkan pejuang seperti mereka yang telah menciptakan revolusi massif sepanjang sejarah umat manusia? Hugh Kennedy tahu jawabannya. Dalam karya hebatnya,”The Great Arab Conquests” ia menuturkan, “kedatangan Islam telah menggerakkan kekuatan militer dan pertahanan masyarakat Semenanjung Arab untuk menguasai dunia yang ada di sekitar mereka.”[2]

 

Islam sebagai Qiyadah Fikriyah

Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia bukanlah upaya yang dilakukan Rasul Saw seorang diri. Sebab hal itu bukanlah karakter dakwah Islam yang beliau bawa. Ada dua tahapan penting yang dilakukan beliau, pertama adalah tahap pengajaran, pembinaan, penyiapan pemikiran dan ruhiyah. Kedua, adalah tahap penyebaran dakwah dan perjuangan. Tahap pertama berhasil membentuk kutlah (kelompok) para sahabat yang pribadi mereka telah mengkristal pemikiran Islam.

Tahap kedua, merupakan fase perjuangan dan pergolakan pemikiran yang telah mampu menarik perhatian kaum anshar yang kemdian memberikan nushrah (pertolongan) kepada Rasul Saw. Membawa kaum muslim pada peristiwa penting, yakni Bai’at Aqabah. Dan nyatalah Islam selanjutnya berdiri kokoh menjadi negara yang berpengaruh.

Rasulullah dengan begitu gemilang telah berhasil meleburkan masyarakat yang plural di Madinah menjadi masyarakat yang khas di bawah kedaulatan tunggal keimanan. Sehingga sepeninggal beliau kekuatan yang terstruktur telah berhasil dibentuk di atas landasan Aqidah Islam dan sekaligus sebagai motor penggerak penyebaran Islam ke seluruh dunia.

Islam sebagai qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir) adalah rahasianya. Walau Rasul Saw telah wafat, sistem yang dibangun beliau sangatlah kuat dan berhasil dijalankan oleh para sahabat beliau –semoga Allah merahmati mereka- dengan sangat baik. Kedaulatan politik tersebut kemudian dengan cepat melenyapkan eksistensi agama lain semisal Zoroastrianime di Persia, Buddhisme di Asia Tengah, dan Hiduisme di banyak wilayah Lembah Hindustan.

 

Iman Yang Membakar

Iman telah membuat mereka melihat sesuatu yang tak dapat dilihat oleh mata. Iman mereka telah membenarkan apa yang sering didustakan oleh lisan. Iman mereka telah memberi keyakinan pada apa yang tak dipercaya oleh nalar. Iman mereka telah melahirkan jiwa yang selalu berani menyusup di bawah bayang-bayang pedang untuk meraih kebenaran di pelupuk mata. Iman mereka adalah iman yang membakar.”

Jika Kisra mati maka tidak ada Kisra setelahnya. Jika Kaisar mati maka tidak ada Kaisar setelahnya. Demi Dzat yang jiwaku ada dalam kekuasaan-Nya, harta kekayaan mereka akan digunakan di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitulah sabda Rasul yang mengisyaratkan takluknya dua peradaban besar, Romawi dan Persia.

Isyarat ini dikuatkan oleh riwayat yang lain, yang menjadikannya bukan hanya sekedar isyarat tetapi sebuah kabar gembira yang terbukti kebenarannya. Dikisahkan pada peristiwa perang Khandaq, suatu saat kaum Muslimin kesulitan ketika menggali parit –yang merupakan salah satu strategi perang yang dikenalkan oleh Salman Al-Farisi- karena ada sebuah batu besar yang menghalangi, kemudian mereka mengadukannya kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw menghampiri batu besar tersebut sambil memegangi sebuah palu dan berkata, “Bismillah.” Nabi memukul satu kali dan pecahlah batu itu menjadi sepertiga diiringi percikan api. Nabi berkata, “Allahu Akbar! Telah diberikan kunci-kunci Syam. Demi Allah, aku telah melihat istana-istana mereka yang merah dari tempatku ini.”

Beliau berkata lagi, “Bismillah” dan kembali mengayunkan palunya hingga pecahlah menjadi sepertiga yang lain. Nabi berkata, “Allahu Akbar! Telah diberikan kunci-kunci Persia. Demi Allah, aku melihat al-Mada’in dan istananya yang putih dari tempatku ini.”

Lalu, beliau berkata lagi, “Bismillah,” dan kembali memukulkan palu untuk yang ketiga kalinya hingga pecahlah sisa batu tersebut. Nabi berkata, “Allahu Akbar! Telah diberikan pintu-pintu Yaman. Demi Allah aku melihat pintu-pintu Shana’a dari tempatku ini.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i).

Rasulullah Saw tentu tidak hendak berbohong perihal kabar tersebut. Itu mustahil bagi Rasul yang terpercaya. Kabar gembira inilah yang meletupkan semangat para Sahabat di tengah-tengah ancaman pasukan Ahzab pada perang Khandaq. Sebuah kabar gembira yang selalu didustakan oleh orang-orang munafik. Tetapi justru diyakini dengan sepenuhnya oleh orang-orang beriman tanpa ada celah keraguan di dalam hati mereka.

Kebenaran bisyarah adalah kebenaran wahyu yang pasti terbukti kebenarannya. Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan Q.S. An-Nuur ayat 55 menuturkan, “Ini adalah janji dari Allah swt kepada Rasulullah saw, bahwasanya Dia akan menjadikan umatnya (umat nabi Muhammad saw) sebagai khulafa` al-ardl, yakni: pemimpin-pemimpin manusia dan penguasa atas mereka; dan dengan mereka negeri-negeri diperbaiki dan seluruh manusia tunduk kepada mereka.

Dalam Hadits yang lain Rasul Saw menyebutkan, “Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku…” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi).

Imam Al Khaththabi ketika menjelaskan hadits ini menyatakan:

Dan makna (hadits tersebut) adalah, sesungguhnya bumi dihimpun (dikumpulkan dan digenggam) untukku secara keseluruhan satu kali, maka aku melihat timur dan baratnya, kemudian bumi tersebut dibukakan (taklukkan) untuk umatku sebagian demi sebagian sampai kekuasaan kekuasaan umatku (meliputi) semua bagiannya.

Ditopang oleh sitem yang kuat lagi kokoh, keimanan yang teguh, dan semangat yang menyala-nyala, menjadikan genarasi Muslim awal mampu membukikan janji Allah dan Bisyarah RasulNya sebagaimana dalam hadits di atas. Maka tidak mustahil jika Roma juga suatu saat akan ditekuk oleh kekuasan Islam dan kembalinya Khilafah ‘ala minhajin nubuwah yang kedua akan benar-benar terwujud. Dan kitalah yang selanjutnya harus memastikan diri mewujudkan bisyarah Rasul berikut,

“… Kemudian akan ada Khilafah yang sesuai dengan tuntunan kenabian….”[3]

Wallahu a’lam bi ash-showwab.[]

 

[Kusnady Ar-Razi Al-Faqir]

Endnotes:

[1] Ahmad Al-Qashash dalam bukunya Peradaban Islam versus Peradaban asing.

[2] Hugh Kennedy dalam The Great Arab Conquests halaman 41. Disebutkan pula bahwa Semenanjung Arab memiliki garis lurus dari titik tenggara tanah arab di Ra’s al-Hadd di Oman sampai ke Aleppo di sudut barat laut di gurun pasir Syiria panjangnya lebih dari 2.500 kilometer. Dengan mengandalkan tarnsportasi hewan, perjalanan di sepanjang rute ini memakan waktu lebih dari seratus hari perjalanan tanp henti.

[3] HR Ahmad, hadist itu juga dirwayatkan oleh Al-Hafidzh Al-Iraqi di dalam Mahajjatul-Qarb ila Mahabbatil-Arab (II/17). Selanjutnya Al-Hafidz mengatakan : “Status hadits ini shahih”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s