ZUHUD TAPI TAK ASKETIS

Dalam sejarah peradaban Islam, kehidupan zuhud menjadi fenomena yang selalu ditampakkan oleh kaum sufi. Tasawuf menjadi bagian dari ragam mazhab yang berorientasi pada penyucian jiwa. Tasawuf inilah yang dipilih oleh kaum sufi sebagai jalan mereka menuju yang Haq. Mengasingkan diri menjadi ciri khas golongan ini, sebab metode ini diyakini mampu membawa mereka mencapai puncak pembersihan diri.

Imam Al-Ghazzali menyebutkan, “Menyendiri di zawiyah (ruang khusus di masjid) dengan membatasi diri hanya pada ibadah wajib dan sunnat, duduk dengan hati yang hampa, dengan himmah yang terkumpul, konsentrasi dengan zikir kepada Allah….Maka yang tersisa hanyalah penantian terhadap keterbukaan seperti yang ditampakkan kepada para wali.”

Komentar Imam Al-Ghazzali di atas diberikan setelah sebelumnya beliau terjun ke dunia tasawuf semata-mata untuk mengetahui rahasia kesufian. Hingga akhirnya ia mendapati hatinya menjadi bersih dan mengkilap.

Yang menarik adalah sekali pun Imam Al-Ghazzali menyelami tasawuf, beliau tidak terjebak pada kehidupan asketis sebagaimana yang ditampakkan sebagian ahli tasawuf. Justru beliau memberikan koreksi total terhadap sufi model ini. Seluruh kelompok sufi yang ada pada zamannya –kecuali yang dilindungi oleh Allah- benar-benar menyimpang dari jalan yang benar.

Sebenarnya kelompok sufi yang dimaksud oleh Al-Ghazzali adalah mereka yang terpengaruh oleh aliran kebatinan dan berbagai macam pemikiran filsafat. Di antara mereka munculnya pengakuan-pengakuan yang berlebihan dan terlalu jauh dalam hal kerinduan kepada Allah Swt. Mereka terbakar oleh api cinta kepada Allah dan sibuk dengan dunianya sendiri. Sehingga ada yang mengklaim penyatuan diri (ittihad) dan menggugurkan tuntutan amalan-amalan lahir. Salah satu yang terkenal dari golongan ini adalah Husain bin Manshur al-Hallaj.

Corak kehidupan zuhud yang dikembangkan oleh kelompok sufi semacam ini adalah meninggalkan sesuatu yang dapat melalaikan ruhani, termasuk mengabaikan hak-hak jasmaniyah. Sebab dalam pandangan mereka bahwa ruh dan jasad adalah dua unsur yang berbeda dan selalu berada dalam pertarungan. Jika ingin meninggikan ruh maka jasad (materi) harus direndahkan. Ruh dipahami sebagai pancaran ruh Tuhan Yang Maha Suci. Jika ruh itu telah tinggi meninggalkan hasrat duniawi yang dituntut oleh jasmani maka ia akan menyatu dengan ruh Tuhan, sehingga tersingkaplah apa-apa yang tidak tampak oleh indra.

Sesungguhnya Islam tidaklah mengenal sebuah filsafat yang memandang bahwa alam semesta, kehidupan, dan manusia terdiri dari dua unsur, yaitu ar-ruh dan al-jasad. Akidah Islam begitu sederhana dan dapat dipahami oleh siapapun. Islam hanya menuntut keimanan kepada Allah, bahwa Dia-lah Pencipta alam semesta, laysa kamitslihi syay’u[n], dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

Islam memang mengenal aspek ruhiyah. Yang memandang keberadaan segala sesuatu sebagai ciptaan Allah. Di sanalah tumbuh kesadaran hubungan manusia dengan Allah. Inilah yang dimaksud dengan ruhaniyah. Sebab kalau ruh dalam artian sirru al-hayyat (rahasia kehidupan atau nyawa) tidaklah berhubungan dengan kesadaran hubungan dengan Allah atau berimplikasi pada ketinggian perilaku. Karena ruh dalam pengertian ini juga dimiliki manusia lain (kafir) dan hewan. Jadi dengan demikian tidak ditemukan paham wahdatul wujud (menyatunya dengan wujud tertinggi) di dalam Islam.

Ruh atau kesadaran hubungan dengan Allah akan semakin menguat ketika seseorang terikat dengan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta menjalankan syariat dengan penuh ketundukan sebagai konsekuensi keimanan. Oleh karena itu keliru jika muncul pertanyaan, mana yang harus dimenangkan ruh atau jasad? Sebab yang menjadi objek kajian adalah bagaimana cara memenuhi keinginan dan kebutuhan-kebutuhan itu? Dan di atas dasar apa manusia harus melakukannya?

Adalah sebuah kesalahan jika kemudian menjadikan taqasysyuf (asketisme, atau kehidupan menyengsarakan diri) sebagai ukuran ketakwaan. Ini diakibatkan kerancuan memahami ruh dan pertentangannya dengan al-maddah (materi). Pada akhirnya mengabaikan kehidupan dunia dan kenikmatannya.

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya, dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (TQS. Al-A’raf [7]: 32).

Di dalam Islam tidak ada pertentangan antara kenikmatan dan kesenangan jasadiah dengan ruh. Ketika seorang hamba menikmati makanan yang halal yang dirizkikan dan menjauhi makanan yang haram maka pemenuhan itu didasarkan pada kesadaran hubungannya dengan Allah (ruhaniah).

Memang benar kalau dunia bukanlah tujuan. Ia tetaplah diposisikan sebagaimana mestinya. Banyak nash yang menyerukan hidup zuhud namun bukanlah sebagaimana yang dipahami sebagian kalangan dengan hidup yang asketis. Kita pun diserukan untuk berhati-hati terhadap dunia agar tidak tenggelam ke dalam syahwatnya. Kehidupan zuhud tersebut telah dipraktekkan di zaman nabi oleh para sahabat. Hingga kita mengenal ucapan Umar bin Khattab yang terkenal, “janganlah engkau meletakkan dunia dalam hatimu, tapi letakkanlah ia pada tanganmu”.

Para sahabat juga memahami sabda Rasul yang mengatakan, “Zuhud di dunia itu bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, zuhud di dunia itu hendaknya apa yang ada di tanganmu tidak lebih engkau percayai (jadikan sandaran) dari apa yang ada di tangan Allah, dan hendaknya pahala musibah jika sedang menimpamu lebih engkau sukai daripada jika musibah itu tidak ditimpakan kepadamu” (HR. Ibn Majah dan Tirmidzi).

Bila kita melacak makna zuhud maka kita akan mendapatkan dari segi bahasa berasal dari kata zahida – yazhadu – zuhd[an] wa zahadah. Bentuk pluralnya zuhad. Menurut Ibn darid, al-jawhari, Ibn Manzhur, Abu al-Baqa’ al-Kafwami dan Zainuddin ar-Razi, secara bahasa artinya lawan dari menyukai. Menurut al-Munawi, zuhud artinya minimnya kesukaan terhadap sesuatu atau tidak menyukainya.

Sedang dari segi istilah menurut Dr. M. Rawas Qal’ahji di dalam Mu’jam Lughah al-Fuqaha’, zuhud adalah meninggalkan apa yang ada di dunia demi mengharapkan pahala di sisi Allah; atau hendaknya seseorang lebih mengharap apa yang ada di sisi Allah dari apa yang ada di tangannya.

Rasulullah sendiri mengingatkan kita akan bahaya kehidupan yang asketis akibat kesalahan memahami makna zuhud. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Anas bin Malik ra, diceritakan:

Ada tiga kelompok orang mendatangi rumah istri-istri Nabi Saw dan menanyakan tentang ibadah Nabi Saw. Ketika mereka diberitahu tentang (ibadah)-nya, seakan mereka menganggapnya sedikit.

Lalu mereka mengatakan: “Dimanakah kita jika disbanding dengan Nabi Saw, sementara beliau telah diampuni segala dosa-dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang?”

Salah seorang di antara mereka mengatakan: “Adapun aku, maka aku akan shalat malam selamanya”.

Salah seorang yang lain mengatakan: “Adapun aku, akan berpuasa selama setahun penuh tanpa diselingi dengan berbuka sekalipun”.

Dan yang lain lagi mengatakan: “Adapun aku, maka aku akan meninggalkan wanita. Aku tidak akan menikah untuk selamanya”.

Kemudian Rasulullah Saw datang kepada mereka dan berkata: “Apakah kalian yang mengatakan begini dan begitu? Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling takwa di antara kalian. Akan tetapi aku tetap berpuasa dan berbuka, melakukan shalat juga tidur, serta menikahi wanita-wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku. (HR al-Bukhari).

Mengambil bagian di dunia bukanlah sebuah kehinaan. Allah di dalam Al-Qur’an hanyalah mewanti-wanti seorang hamba agar tidak terbuai dengan syahwatnya dan abai terhadap bekal menuju akhirat. Seorang hamba yang memahami zuhud sebagaimana mestinya –terlepas dari kehidupan asketis- akan selalu bersandar apa-apa yang ada di sisi Allah. Merasa ringan untuk melakukan ikhraj (mengeluarkan) terhadap apa-apa yang dimiliki dan tidak melakukan imsak (menahan). Sebab imsak adalah ciri cinta dunia.

Kita telah mendapati bahwa para sahabat yang memahami makna zuhud ini selalu berada di tengah-tengah kaum Muslimin dan tidak mengasingkan diri. Mereka menyadari bahwa asketisme akan berujung pada pengabaian terhadap urusan-urusan umat. Begitu juga saat ini, jika asketisme ini dibiarkan tumbuh dan berkembang maka hegemoni sekulerisme akan terus menguat tanpa ada yang menghadapi dan menyelamatkan umat dari bahayanya.

Imam Al-Ghazzali dan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berhasil mengikis asketisme ini. Mereka sendiri telah melakukan gerakan ishlah dan terjun ke masyarakat untuk membina mereka melalui madrasah-masdrasah yang dibangun. Dan pada akhirnya kita pun menyaksikan keberhasilan mereka melahirkan generasi Shalahuddin al-Ayyubi dan bala tentaranya yang berhasil mengembalikan Palestina ke pangkuan kaum Muslimin.

Kita tidak akan bisa membayangkan apa jadinya jika zuhud yang diperagakan justru mendesain kehidupan seorang muslim jauh dari kehidupan masyarakat. Tidak akan ada  yang perduli terhadap penyakit-penyakit yang terus menggerogoti kehidupan sosial. Juga tak akan ada yang mengoreksi penguasa (muhasabah lil hukkam) karena keberpalingan mereka dari syariat. Kapitalisme akan terus menggurita yang saban hari terus mengantarkan umat ke jurang kehancuran.

Begitulah, pada akhirnya kehidupan zuhud yang seharusnya akan semakin mendekatkan diri kepada Allah sebagai implikasi dari kesadaran akan hubungan dengan-Nya. Dan pengurusan kepentingan umat sebagai bagian dari perintah Allah akan tetap terjaga.

Walhasil, berzuhudlah terhadap dunia dengan sebenar-benar zuhud. Zuhud tapi tak asketis. []

[Kusnady Ar-Razi Al-Faqir]

Sumber utama:

Al-Ghazzali. Tahafut al-Falasifah. 2010. Ditahqiq oleh Dr. Sulaiman Dunya. Penerbit MARJA.

Al-Kilani, Majid ‘Irsan. 2007. Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib: Refleksi 50 Tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina. Diterjemahkan oleh Asep Sobari dan Amaludin. Penerbit Kalam Aulia Mediatama.

Al-Qashash, Ahmad. 2009. Peradaban Islam versus Peradaban Asing. Pustaka Thariqul Izzah.

Sumber gambar: izisfm.wordpress.com

6 thoughts on “ZUHUD TAPI TAK ASKETIS”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s