Menggugat Paham Relativisme Tafsir

Di sebagian kalangan cendikiawan muslim saat ini telah berkembang paham relativisme tafsir. Suatu paham yang menafikan adanya kebenaran mutlak. Kebenaran yang ada semuanya relatif, bisa jadi benar suatu waktu namun bisa salah pada waktu yang lain. Kebenaran mutlak yang diyakini oleh penganut paham ini hanyalah milik Tuhan yang sama sekali tidak mampu dijangkau oleh akal manusia. Jadi sebenarnya tidak ada kebenaran mutlak yang lahir dari akal manusia. Termasuk pemahaman manusia ketika memahami nash (teks) sangat relatif tergantung si penafsir.

Pemahaman semacam ini sengaja dipopulerkan oleh kalangan Islam Liberal agar kaum muslimin keluar dari pakem yang sudah ada. Mereka menyebut orang-orang yang masih berpegang pada metode tafsir yang telah dirumuskan oleh generasi terdahulu sebagai kalangan anti-pembaruan. Akibatnya mereka banyak mencela para ulama terdahulu semacam Imam asy-Syafi’I yang telah berjasa meletakkan kaidah Ushul Fiqh atau Ibnu Katsir yang merumuskan metode tafsir yang telah dipakai berabad-abad oleh umat Islam.

Menurut pemahaman ini tidak ada kebenaran yang bisa diterima oleh semua pihak. Karena segala sesuatu yang lahir dari akal semuanya relatif, sangat dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan zaman. Oleh sebab itu, hukum pun akan berubah seiring dengan berubahnya zaman dan tempat, ini karena hukum dipandang sebagai produk akal dan budaya. Tidak ada juga keyakinan yang satu yang diyakini oleh semua pihak, karena semua orang dianggap bebas untuk menafsirkan segala sesuatu termasuk teks Al-Qur’an. Maka kebenaran yang lahir akan berbeda tergantung siapa yang menafsirkan. Mereka berpendapat siapa pun orangnya jika masih pada level manusia tentu kebenaran yang dihasilkan sangat relatif dan terbatas, ‘parsial-kontekstual’ pemahamannya, dan bisa saja keliru.1

Ketika memahami atau pun menafsirkan al-Qur’an yang paling penting menurut paham ini adalah konteksnya, dan bukannya teks. Teks bisa dipahami jika konteksnya dipahami dengan tepat. Sekaligus menjadikan realitas sosial–historis di atas teks, atau mendahulukan konteksualitas di atas tekstualitas. Walhasil, jika konteks sosial berubah maka segala sesuatu yang lahir dari teks –termasuk hukum- akan berubah seiring perubahan konteks sosial. Contohnya, dalam Islam ada kewajiban shalat, kewajiban memakai jilbab bagi muslimah, larangan berbuat zina, larangan meminum khamr, yang semuanya itu merupakan hukum yang telah disepakati kewajiban dan keharamannya tanpa ada ikhitilaf sedikit pun di kalangan umat Islam. Hal tersebut karena dalil yang menunjukkan status hukum atas perkara-perkara tersebut merupakan dalil yang qath’i (pasti) serta tidak terikat dengan waktu dan tempat, tidak dikhususkan bagi masyarakat tertentu dan pada zaman tertentu pula. Akan berbeda halnya jika relativisme tafsir yang dipakai, maka status hukum atas perkara tersebut tidak lah final sebagaimana yang ditunjukkan oleh teks (nash). Namun, hukum-hukum tersebut akan berubah seiring dengan berubahnya konteks sosial-historis. Akibatnya, banyak perkara-perkara yang telah jelas keharamannya akan menjadi halal, atau perkara yang jelas wajibnya akan menjadi tidak wajib.

Para pengusung paham ini hendak membuat kebingungan di tengah-tengah umat. Dengan mengatakan semuanya adalah relatif, tidak boleh ada klaim kebenaran dari satu pihak untuk dipaksakan agar diterima oleh pihak lain. Tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak dan final. Akhirnya, tidak ada satu kebenaran pun yang diyakini oleh masyarakat. Termasuk perkara keimanan, yang menyebabkan seseorang tidak meyakini kebenaran akan keimanannya. Islam tidak diyakini sebagai agama yang benar. Karena paham relativisme telah melahirkan pluralisme agama, yang meyakini semua agama adalah benar. Artinya menurut paham ini, Islam ada kemungkinan salah, dan sangat memungkinkan agama lain benar. Semuanya dikembalikan kepada penilaian individu. Walhasil, orang akan sembarangan berpindah-pindah agama, karena berangkat dari pemahaman bahwa semua agama benar dan tidak yang salah.

Inkonsistensi Pengusung Relativisme & Upaya Meruntuhkan Kebenaran Islam

Mengutip pernyataan Luthfi Asy-Syaukanie yang mengatakan bahwa “tidak ada yang salah dari realitas sosiologis”,2 yang berarti telah menempatkan realitas sosiologis sebagai kebenaran mutlak dan bukannya relatif. Jika mereka konsisten, maka seharusnya juga dikatakan bahwa realitas bukanlah sumber kebenaran mutlak, karena kebenaran yang ada semuanya relatif. Mereka hendak menempatkan bahwa realitas atau konteks sosial merupakan sumber kebenaran dan penilaian. Pendapat semacam ini justru kontradiksi dengan paham relativisme yang mereka bawa sendiri. Bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak dan final karena semuanya relatif, yang membawa kemungkinan salah dan benar. Begitu juga sebenarnya dengan pendapat mereka sendiri yang mengatakan “kebenaran itu relatif” adalah juga relatif, jika dikembalikan pada paham relativisme tersebut.

Relativisme yang disebarkan ibarat ‘racun’ untuk mengaburkan kebenaran yang telah ada. Mereka telah menempatkan kontekstual historis merupakan bagian terpenting yang tidak bisa dipisahkan dari upaya penafsiran Al-Qur’an. Sehingga menempatkan Islam sebagai agama sejarah yang senantiasa berubah mengikuti perkembangan zaman. Dalam hal ini para relativis sengaja mengadopsi metode hermeneutika dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Sebuah metode tafsir yang dipakai untuk menafsirkan Bibel. Dalam metode hermeneutika ada tiga prinsip yang mendasari yaitu, penulis, dunia penulis (konteks historis, kondisi psikologis) dan penafsir. Ketiga aspek ini sangat diperhatikan ketika akan melakukan penafsiran, sebab kondisi psikologis penulis sangat mempengaruhi tulisan/teks yang dibuatnya. Begitu juga dengan konteks sosial dan budaya tentu berpengaruh pada teks yang dibuat.

Metode semacam ini tentu tidak bisa diterapkan untuk menafsirkan Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an bukanlah karangan manusia atau bahkan dikatakan karangan Muhammad Saw, sehingga tidak perlu dilakukan penelitian terhadap kondisi si penulis. Al-Qur’an itu juga lafaz dan maknanya dari Allah. Berbeda dengan Bibel yang ditulis oleh manusia yang menurut keyakinan mereka sebagai inspirasi yang datangnya melalui ilham. Suatu hal yang keliru jika menempatkan Al-Qur’an sebagai karangan manusia. Karena Al-Qur’an telah terbukti secara aqliyah sebagai Kalamullah. Walaupun Al-Qur’an datang dengan berbahasa Arab tidak berarti yang mengarang Al-Qur’an adalah orang-orang Arab. Kemungkinan Al-Qur’an karangan orang Arab adalah kemungkinan yang batil, tidak bisa diterima. Sebab Al-Qur’an telah menantang mereka untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an. Sebagaimana dalam Q.S. Hud ayat 13 yang artinya, “Katakanlah: Maka datangkanlah sepuluh surat yang dapat menyamainya.” Oleh karena itu, keliru juga jika mengatakan Al-Qur’an dikarang oleh Muhammad, karena faktanya Muhammad adalah bagian dari orang-orang Arab. Jika seluruh orang-orang Arab tidak bisa membuat karya yang serupa dengan Al-Qur’an, masuk akal pula jika Muhammad tidak mampu menghasilkan karya yang serupa.

Maka Al-Qur’an sebagai Kalamullah yang diwahyukan kepada Muhammad Saw yang berupa lafaz dan maknanya adalah fakta yang tidak terbantahkan. Sehingga sungguh tidak tepat jika hermeneutika dipakai untuk menafsirkan Al-Qur’an. Apalagi menempatkan realitas sosial dan budaya (kontekstual) sebagai faktor penting dalam menafsirkan nash (teks). Padahal realitas sosial yang senantiasa berubah merupakan fakta yang harus dihukumi dengan hukum syara’ (Islam). Realitas lah yang harus disesuaikan dengan Islam dan bukan sebaliknya. Karena kebenaran Islam tetap dan tidak berubah. Zina, khamr, dan judi akan tetap haram karena begitulah nash yang qath’i telah menunjukkan keharamannya. Wajibnya jilbab juga tidak diperuntukkan bagi orang-orang Arab saja dengan alasan bahwa itu merupakan bagian dari kebudayaan mereka, atau dengan mengatakan jilbab tidak sesuai dengan kebudayaan kita maka jilbab menjadi tidak wajib bagi wanita. Tidak bisa dikatakan demikian, sebab perintah berjilbab tidaklah terikat dengan budaya dan zaman serta tidak berhubungan sama sekali dengan realitas masyarakat tertentu. Karena perintah tersebut berlaku umum bagi seluruh wanita muslimah tanpa memandang latar belakang budaya.

Begitulah Islam harus ditempatkan sebagai tolok ukur kebenaran. Menjadikan realitas sebagai fakta yang harus dihukumi. Jika fakta yang ada bertentangan dengan Islam maka harus ditinggalkan. Semuanya dikembalikan kepada nash Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber hukum. Kebenaran mutlak yang terdapat pada nash-nash yang qath’i bisa dipahami dengan akal manusia (tentu dengan kapasitasnya sebagai manusia). Sedangkan nash-nash yang dzanni memang ada perbedaan dalam memahaminya. Karena makna yang ditunjukkan tidaklah pasti atau multi interpretasi. Dan hal tersebut sah-sah saja. Sedangkan paham relativisme hendak menjadikan bahwa nash-nash dalam Al-Qur’an semuanya adalah dzanni, sehingga semua makna dalam nash adalah multi interpretasi dan relatif sifatnya. Dan bahkan paham ini tidak mengenal kaidah: “la ijtihadi fi l-qath’iyyat” (tidak ada ijtihad dalam masalah yang bersifat pasti, seperti masalah aqidah, ibadah, hukum-hukum syari’at, dsb).3 Ini jelas pandangan yang keliru yang mencoba mengaburkan dan meruntuhkan kebenaran Islam. Wallahu ‘alam bi ash-shawwab.

[Kusnady Ar-Razi]


1Lihat pendapat Prof. Amin Abdullah yang dikutip dalam buku “Hermeneutika & Tafsir Al-Qur’an” yang ditulis oleh Adian Husaini, M.A. dan Abdurrahman Al-Baghdadi.

2Dikutip dari artikel “Orientalis Terbalik” yang ditulis oleh Luthfi Asy-Syaukanie dalam situs www.islamlib.com.

3Dikutip dari makalah yang ditulis oleh Henri Shalahuddin, M.A., yang berjudul “Serangan Terhadap Konsep Wahyu dan Tafsir Zaman Modern” dalam situs www.insists.net. Beliau mengatakan: “Paham relativisme tidak mengenal kaidah: “la ijtihadi fi l-qath’iyyat” (tidak ada ijtihad dalam masalah yang bersifat pasti, seperti masalah aqidah, ibadah, hukum-hukum syari’at, dsb). Relativisme tafsir tidak bisa disandingkan dengan karya-karya tafsir ulama-ulama mu’tabar. Sebab semua tafsir tersebut tetap merujuk pada induk yang sama, yang disepakati, yang satu, yang mapan, dan yang disetujui oleh umat islam, dimanapun dan kapanpun. Sedangkan dalam relativisme tafsir, tidak ada kaidah yang pasti selain ketidakpastian itu sendiri. Maka definisi Islam yang telah mapan misalnya, tetap akan dirombak, sehingga orang-orang non Muslim pun dapat dikatakan sebagai Muslim, dan agama selain Islam pun, juga dapat ditafsirkan sebagai Islam.”

One thought on “Menggugat Paham Relativisme Tafsir”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s