Ihwal Para Sahabat

Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah….”(QS. At-Taubah; 101)

———————————————————————-

Rasulullah Saw telah membawa agama ini sebagai petunjuk bagi manusia. Islam telah memuliakan manusia dari keterhinaannya, membawa dan menunjuki mereka kepada cahaya kemuliaan. Inilah yang terjadi pada masyarakat Arab pasca diutusnya Rasul. Mereka mendapatkan kedudukan mulia di sisi Rabb sekalian alam. Rasul telah membimbing mereka dengan cahaya Rabbani. Menjadikan mereka manusia-manusia utama. Bahkan mereka lah generasi terbaik umat ini, dan mereka lah orang-orang yang disebut sebagai sahabat Rasul yang menemani beliau dalam menapaktilasi perjalanan dakwah. Mereka lah generasi yang paling baik pemahamannya terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga ihwal kehidupan mereka senantiasa mendapat perhatian dari umat ini.

Para sahabat adalah mereka yang berjumpa dengan Rasul dalam keadaan beriman dan mengikuti beliau dalam dakwahnya. Menurut bahasa1: Sahabat itu bentuk mashdar yang berarti as-Shuhbah (bersahabat). Dari situ muncul kata as-shahabi, as-shahib, bentuk jamaknya adalah ashhab. Yang banyak digunakan adalah kata as-shahabat, yang berarti ashhab (para sahabat).

Sedangkan menurut istilah sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar2: “Sahabat adalah orang yang berjumpa dengan Nabi saw. dalam keadaan beriman dan mati dalam keadaan beragama Islam.” Adapun kebanyakan ulama ushul berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sahabat adalah3: “orang yang lama bersahabat dengan Nabi Saw. dan banyak duduk bersamanya dengan cara mengikutinya dan mengambil hadits darinya”. Namun ada pendapat lain (dan ini yang lebih tepat) seperti yang dikemukakan oleh Imam al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin Ali yang mengutip perkataan Sa’id Ibn al-Musayyab, bahwa beliau berkata4: “Sahabat itu tidak kita perhitungkan kecuali orang yang pernah bersama-sama Rasulullah Saw selama setahun atau dua tahun, dan pernah turut serta berperang dalam satu kali atau dua kali peperangan bersamanya.”

Al-Mazini dalam syarah kitab al-Burhan juga mengatakan hal yang senada5: “Kita tidak begitu saja mengatakan, bahwa sahabat yang adil itu adalah setiap orang yang menyaksikan Nabi Saw satu hari, atau menyaksikan beliau hanya kadang-kadang (sesaat), atau berkumpul bersama beliau karena satu kepentingan, setelah itu berpaling, melainkan orang-orang yang mengikuti dan bersama-sama beliau, menolong beliau, dan mengikuti cahaya yang diturunkan Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Para sahabat adalah generasi yang paling baik pemahamannya terhadap Al-Qur’an. Karena memang Al-Qur’an diturunkan di tengah-tengah mereka dan ditambah pula Nabi Saw. berada di antara mereka yang senantiasa membimbing mereka. Mereka lah generasi yang paling memahami ihwal setiap surah dan ayat dari Al-Qur’an yang diturunkan. Ibnu Mas’ud pernah mengatakan6: “Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, setiap surah Qur’an kuketahui di mana surah itu diturunkan; dan tiada satu ayat pun dari Kitab Allah kecuali pasti kuketahui mengenai apa ayat itu diturunkan. Sekiranya aku tahu ada seseorang yang lebih tahu daripadaku mengenai Kitab Allah, dan dapat ku jangkau orang itu dengan untaku, pasti aku pacu untaku kepadanya.”

Telah masyhur juga di kalangan umat ini bahwa para sahabat adalah pemimpin para mufassir. Berbagai riwayat tafsir mereka telah dihimpun oleh para ulama mulai dari kalangan Tabi’in, Atba Tabi’in sampai generasi akhir umat ini. Di antara para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan Qur’an di antaranya adalah empat khalifah, Ibn Mas’ud, Ibn Abbas, Ubai bin ka’b, Zaid bin Sabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin ‘Amr bin ‘As dan ‘Aisyah. Jumhur ulama sepakat bahwa tafsir bil ma’sur (berdasarkan riwayat) para sahabat berstatus hukum marfu’ (disandarkan kepada Rasulullah) bila terkait dengan asbabun nuzul dan semua hal yang tidak mungkin dimasuki ra’y. Sedang jika memungkinkan ra’y dari sahabat maka statusnya mauquf (terhenti) pada sahabat selama tidak disandarkan kepada Rasulullah. Namun sebagian ulama mewajibkan mengambil tafsir yang mauquf dari sahabat semata-mata karena mereka lah yang memiliki kefasihan bahasa Arab, mengetahui dan menyaksikan langsung ayat Qur’an diturunkan serta mengetahui konteks dan kondisinya. Selain itu juga mereka memiliki daya nalar yang tinggi serta pemahaman yang shahih.

Seluruh Sahabat adalah Adil

Tidak dipungkiri lagi dan telah bersepakat umat ini bahwa semua sahabat adalah adil. Keadilan (al-‘adalah) yang dimaksud disini adalah sebagaimana yang dimaksud oleh para muhadditsin yaitu suatu sifat yang sangat kuat yang mampu mengarahkan seseorang kepada ketakwaan dan senantiasa menjauhi kemaksiatan dan juga hal-hal yang merusak muru’ah (harga diri). Sifat adil ini berimplikasi diterimanya seluruh periwayatan mereka tanpa membicarakan lagi tentang keadilan mereka. Hal ini lantaran jauhnya mereka dari upaya menyelewengkan hadits ataupun sengaja berbuat dusta. Penetapan keadilan atas mereka (para sahabat) serta pujian atas mereka datang dari Allah Swt (Al-Qur’an) dan Rasul Saw (Hadits). Allah Swt. berfirman: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS Al-Baqarah: 143).

Allah Swt. berfirman:

Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah….” (QS At-Taubah: 101)

Allah Ta’ala berfirman:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka,” (TQS Al Fath(48):29)

Rasul Saw bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri:

Janganlah kalian mencaci maki sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kamu berinfaq dengan emas seberat gunung Uhud niscaya tidak akan bisa menandingi satu mud mereka, bahkan tidak juga setengahnya.” (Riwayat Al-Bukhari dalam Bab Fadha’il Ashab an-Nabiy, 6:8; Muslim, 7:188)

Dalam riwayat yang lain disebutkan dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwa Rasul Saw bersabda:

Manusia yang paling baik adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW bersabda:

“sesungguhnya Allah telah memilih shahabat-shahabatku atas penduduk dunia selain para Nabi dan para utusan”. (Hadits dikeluarkan oleh Al Bazzar).

Dengan beberapa dalil di atas jelaslah bahwa terhadap diri mereka tidak perlu di lakukan al-jarh wa ta’dil (penetapan cacat dan adilnya seseorang). Mereka telah menjadi generasi yang terpercaya dari umat ini. Ibnu Shalah berkata,7 “Sungguh umat ini sepakat untuk menilai adil seluruh sahabat, hatta mereka yang terlibat dalam fitnah sekalipun. Demikian juga para ulama yang muktabar berijma’ yang sama lantaran praduga yang baik terhadap mereka, dan mengingat begitu banyak usaha-usaha terpuji yang telah dilakukan para sahabat. Hal ini seakan-akan Allah telah tentukan adanya ijma’ mengingat kedudukan mereka sebagai perantara syari’at.”

Dalil-dalil tersebut tertuju langsung kepada para sahabat. Begitu juga pendapat dari para ulama baik dari kalangan ahli hadits, ahli ushul maupun ahli fiqh menyampaikan pandangan yang sama terhadap para sahabat sebagaimana di dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Penutup

Begitulah ihwal para sahabat dengan keutamaan yang dimiliki mereka telah menarik perhatian para ulama baik dari kalangan mutaqaddimin maupun muta’akhirin untuk mengkaji dan mengikuti apa yang telah dilakukan oleh mereka. Bahkan ijma’ mereka merupakan salah satu dalil syara’ (setelah Al-Quran dan Sunnah) yang wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin, lantaran keistimewaan serta pemahaman yang shahih dan jernih terhadap Islam pada diri mereka. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk mengingkari mereka. Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah memuji mereka dengan sebaik-baik pujian. Wallahu ‘alam bi ash-shawwab.

[Kusnady Ar-Razi]

Catatan Kaki:

1Dr. Mahmud Thahan dalam kitabnya Ilmu Hadits (Taisir Mushthalah al-hadits), hal; 257

2Dr. Nuruddin ‘Itr dalam kitabnya ‘Ulum al-Hadits, hal; 101

3Ibid, hal; 101

4Pendapat ini dikemukakan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya as-Syakhshiyah al-Islamiyyah Juz III, hal; 310.

5Opcit, hal; 257

6Lihat kitab Mabahis fi ‘Ulumil Qur’an karangan Manna Khalil al-Qattan, hal; 70

7Pendapat ini dikutip oleh Dr. Nuruddin ‘Itr dalam kitabnya ‘Ulum al-Hadits, beliau juga mengutip pendapat al-Khatib al-Baghdadi dari kitab Al-Kifayah;52 yang mengatakan: “Seandainya tidak ada sebarang keterangan tentang mereka Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dijelaskan di atas, maka sifat dan kondisi yang mereka alami pun, seperti hijrah, jihad, pertolongan Allah, pengorbanan jiwa, harta, anak, saudara dan orang tua, kesetiaan pada agama, iman serta keyakinan, semua itu dapat dijadikan indikasi atas keadilan, kebersihan, dan keutamaan mereka yang jauh melebihi para penta’dil dan pemberi tazkiyah yang dating setelah mereka buat selama-lamanya. Demikianlah pendapat seluruh ulama dan fuqaha yang sapat dipegangi ucapannya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s