PENDIDIKAN INDONESIA DALAM CENGKERAMAN KAPITALISME – SEKULAR

Kondisi pendidikan Indonesia masih jauh dari harapan. SDM yang dihasilkan kualitasnya pun tertinggal dengan negara-negara berkembang lainnya. Menurut survey UNDP (2002), kualitas SDM Indonesia menduduki peringkat 110 dari 179 negara di dunia. Masih menurut laporan yang dikeluarkan oleh UNDP pada tahun 2007, Human Development Index (HDI) Indonesia mengalami peningkatan menjadi 0.728.  Indonesia berada pada peringkat 108 sedunia dan berada di bawah Vietnam. Penilaian tersebut di antaranya usia harapan hidup menempatkan Indonesia pada posisi ke-100. Tingkat pemahaman aksara dewasa di urutan 56. Tingkat pendaftaran di sekolah dasar, lanjutan dan tinggi ada di urutan 110.1 Apalagi jika dibandingkan dengan Philipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura, Indonesia masih di bawah.

Kondisi ini diperparah dengan problem lainnya. Mulai dari sarana yang tidak memadai,2 membengkaknya anak putus sekolah, ketidakprofesionalan tenaga pendidik, sampai pada output peserta didik yang serba tanggung. Belum lagi ditambah angka pengangguran yang semakin meningkat. Badan Pusat Statistik mencatat, ada sekitar 385.000 lulusan Universitas Indonesia pada tahun 2005 yang menjadi pengangguran. Bukan tidak mungkin jika angka tersebut terus naik.

Tawuran pun kerap terjadi, baik di kalangan pelajar SMU maupun mahasiswa. Aksi baku hantam sering menghiasi kehidupan para peserta didik di Indonesia. Diwarnai dengan bertambahnya jumlah pemakai narkoba, free sex dan aborsi, semakin memperlihatkan kualitas output pendidikan yang memprihatinkan. Biaya studi dari hari ke hari semakin tak terjangkau. Bagi mereka yang tidak mampu, pendidikan merupakan sesuatu yang langka dan tak terjamah. Walau Mahkamah Konstitusi telah membatalkan UU BHP beberapa waktu lalu, biaya pendidikan masih saja tinggi dan komersialisasi tetap berlangsung.

Cengkeraman Kapitalisme-Sekular

Kapitalisme sebagai sebuah ideologi tegak di atas ide dasar sekularisme. Sekularisme oleh Muhammad Qutb (1986) diartikan sebagai iqomatu al-hayati ‘ala ghayri asasin mina dini, yakni dibangunnya struktur kehidupan di atas landasan selain agama (Islam).3 Kapitalisme-Sekular ini telah menjadi landasan pendidikan kita. Wajah pendidikan pun berubah menjadi profit oriented. Dunia pendidikan difungsikan untuk menopang industri-industri kapitalisme. Profitasi pendidikan pun dilakukan. Tujuannya adalah untuk mencetak SDM yang pro-kapitalis dan menjadi pekerja profesional di perusahaan-perusahaan para pemilik modal.

Profitasi pendidikan merupakan rangkaian dari kapitalisasi pendidikan. Konsep ekonomi kapitalis yang digagas oleh Adam Smith merupakan akar dari aksi kapitalisasi pendidikan. Salah satunya adalah politik ekonomi laissez faire, laissez passer, et le monde va lui meme, yang berarti biarkan bebas, pemerintah jangan campur tangan dalam perekonomian termasuk pendidikan.

Liberalisasi pendidikan yang terjadi merupakan akibat dari liberalisasi ekonomi. Liberalisasi ekonomi berimplikasi pada dijauhkannya peran pemerintah untuk meregulasi perusahaan swasta. Sebagaimana kesepakatan dalam WTO yang menganut paham bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan dicapai melalui kompetisi bebas. Jika pemerintah masih turut campur maka hal itu dianggap sebagai penghambat dalam persaingan bebas. Dalam pendidikan dilakukan otonomi kampus, yang berarti lepasnya tanggung jawab pemerintah terhadap pendidikan termasuk pemberian subsidi. Implikasinya adalah apa yang kita lihat pada tahun 2000, berubahnya status Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi Badan Hukum Milik Pemerintah (BHMN). Diawali oleh beberapa PTN favorit di antaranya adalah UI, ITB, UGM, dan IPB. PTN ini pun berlomba-lomba membuka “jalur khusus” dengan biaya masuk mulai Rp 25 juta sampai Rp 150 juta.

Mahalnya biaya pendidikan adalah buah dari kebijakan pemerintah yang mengadopsi ideologi kapitalisme buatan AS. Neo-liberalisme yang telah menggurita merupakan varian dari kapitalisme yang merupakan bentuk baru liberalisme klasik dengan tema-tema pasar bebas, peran negara yang terbatas, dan individualisme.4

Untuk mengokohkan sistem sekular maka asing (terutama AS) berkepentingan untuk melakukan intervensi. Upaya ini terlihat dalam UU BHP yang telah dibatalkan. Pada pasal 6 tertulis, lembaga asing yang terakreditasi atau diakui di negaranya boleh mendirikan BHP baru di Indonesia, yang keseluruhan anggota WMA-nya berwarga negara Indonesia. Hal ini jelas akan berakibat pada persaingan insitusi-institusi pendidikan Indonesia dengan institusi-institusi asing. Berbagai macam pinjaman menjadi pintu masuk asing untuk melakukan intervensi. Seperti proyek IMHERE (Indonesia Managing Higher Education For Relevance and Efficiency) yang pendanaannya melalui pinjaman dari world Bank, baik dari dana IBRD maupun IDA, dengan Loan Agreement (IBRD) no. 4789-IND dan Development Credit Agreement (IDA) no. 4077-IND schedule 4.

Ketika kapitalisme-sekular menjadi paradigma dalam pendidikan, maka SDM yang dihasilkan akan menjadi pribadi yang ber-mindset kapitalis-sekular. Pengajaran dalam kurikulum akan penuh dengan warna-warni nilali-nilai sekularisme. Anak didik akan ditanamkan ide-ide tentang HAM, pluralisme, dan agama diajarkan hanya sebatas moralitas semata. Agama tidak diperkenankan mengatur aspek publik seperti politik, ekonomi, peradilan, dan pendidikan. Dikotomi semacam ini sebenarnya terlihat jelas dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi: jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus. Dalam UU ini ada dikotomi pendidikan agama dan pendidikan umum.

Anak didik yang dihasilkan dalam sistem sekular semacam ini bukan hanya diperuntukkan sebagai tenaga kerja bagi perusahaan-perusahaan swasta, tetapi juga diharapkan menjadi pemegang kebijakan negara yang akan melanggengkan kapitalisme-sekular. Seperti para intelektual yang tergabung dalam mafia Berkeley yang menjadi perumus kebijakan ekonomi Indonesia. Dari tangan mereka lah lahir berbagai macam UU yang sarat dengan kepentingan kapitalis. Misalnya UU Sumber Daya Air, UU PMA, UU Migas, UU Kelistrikan yang sangat tidak pro rakyat. ADB dan USAID secara terang-terangan dalam situsnya mengakui telah membantu Indonesia dalam pembuatan RUU Minyak dan Gas.

Pendidikan Islam : Sebuah Solusi

Sistem pendidikan Islam berlandaskan aqidah Islam. Sekularisme yang bertentangan dengan Islam merupakan akar dari masalah masalah yang dihadapi dunia pendidikan sekarang. Sekularisme telah menjadikan manusia menjadi individu yang materialistik dan individualistik. Perbuatan dan aktivitas pun disandarkan pada azas manfaat. Kegagalan membentuk manusia yang sesuai dengan visi dan misi penciptaannya merupakan indikator utama kelemahan paradigmatik dari sistem pendidikan yang ada. Dalam pendidikan Islam, aqidah Islam menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar mengajar, termasuk penentuan kualifikasi guru serta budaya sekolah yang akan dikembangkan.5

Tujuan dalam pendidikan adalah pembentukan kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah). Hal ini dilakukan dengan membina anak didik dengan tsaqofah Islam, sehingga Islam menjadi kaidah berpikir mereka. Imam Al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan menjadi dua, yakni ilmu kehidupan dan tsaqofah Islam. Tsaqofah Islam merupakan pengetahuan yang menjadikan akidah sebagai sebab pembahasannya. Berkaitan dengan tsaqofah Islam, negara akan mendidik anak-anak agar dapat menguasai tsaqofah Islam seperti fiqih, tafsir, ulumul Quran dan hadits dan lainnya. Tsaqofah Islam menjadi prioritas sebab ilmu agama merupakan fardhu ‘ain bagi kaum muslim.

Berkaitan dengan ilmu kehidupan seperti teknik mesin, ilmu kimia, kedokteran, fisika, dan sebagainya dipelajari semata-mata untuk kemaslahatan umat. Rasulullah Saw bersabda, “Kalian lebih tahu urusan dunia kalian” (HR. Muslim).

Aqidah Islam merupakan dasar bagi penyusunan kurikulum dalam pendidikan Islam. Sebagaimana dalam hadits Nabi Saw yang diriwiyatkan oleh Abu Sa’id berikut:

Kami pernah keluar bersama Rasul Saw. dalam perang bani Musthaliq saat mana kami mendapatkan seorang wanita Arab sebagai sabiyya (rampasan). Wanita tersebut sangat menarik kami, tetapi berkeinginan kuat untuk tidak hamil, sehingga kami lebih suka melakukan ‘azl. Lalu kami bertanya kepada Rasul mengenai hal itu dan beliau Saw. pun menjawabnya, “Apa yang memberatkan kalian, jika kalian tidak melakukan? Sesungguhnya Allah, Zat Yang Mahatinggi dan Mahamulia, benar-benar telah mencatat sebagaimana apa adanya, sebagai Sang Pencipta hingga hari kiamat” (HR. Muslim).

Jawaban Rasul atas pertanyaan sahabat dalam kontek hadits ini jelas menunjukkan hubungannya degan keimanan kepada ilmu Allah. Akidah Islam dijadikan asas materi yang disampaikan Rasul tentang hubungan seksual –baik dengan ‘azl maupun tidak- tersebut akan menjadi bakal anak ataukah tidak. Oleh karena itu, negara juga wajib menjadikan akidah Islam sebagai dasar penyusunan kurikulumnya.

Negara juga bertanggungjawab untuk membiayai pendidikan. Kebalikan dari neo-liberalisme yang menarik campur tangan pemerintah dalam hal pembiayaan pendidikan. Seluruh pembiayaan pendidikan, baik menyangkut gaji para guru/dosen maupun infrastruktur serta sarana dan prasarana pendidikan, sepenuhnya menjadi kewajiban negara. Ringkasnya, dalam Islam pendidikan disediakan secara gratis oleh negara (Usus at-Ta’lim al-Manhaji, hlm. 12).

Abdurrahman al-Maliki (1963) dalam kitabnya As-Siyadah al-Iqtishadiyah al-Mustla menyebutkan bahwa negara berkewajiban memenuhi tiga kebutuhan pokok masyarakat yaitu pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Berbeda dengan kebutuhan akan pangan, sandang dan papan yang dijamin secara tak langsung, pendidikan, kesehatan, dan keamanan dijamin langsung oleh negara. Artinya, tiga kebutuhan ini didapat secara cuma-cuma.

Dalam sejarah Khilafah Islam, sejak abad IV H para khalifah telah menyediakan pendidikan gratis bagi rakyatnya dengan mendirikan perguruan tinggi dengan berbagai macam fasilitas yang memadai. Selain itu juga, perguruan tinggi dilengkapi dengan taman rekreasi, kamar mandi, dapur, dan ruang makan.6 Aktifitas dan kualitas intelektual mencapai titik kulminasinya pada abad ke-8 M. pada masa Abbasiyah inilah didirikan Bayt al-Hikmah yang merupakan pusat studi yang mengkaji tsaqofah-tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu umum lainnya. Di sana tersedia tidak kurang dari 600.000 jilid buku, termasuk 2.00 buah al-Quran berhiaskan emas dan perak yang disimpan di ruang terpisah.7

Semangat keilmuan yang luar biasa serta akses pendidikan yang diberikan cuma-cuma inilah yang telah melahirkan banyak para ‘ulama dan ilmuwan kenamaan sepanjang sejarah. Sebut saja dalam bidang Fiqih terdapat nama-nama imam empat mazhab yaitu Imam Abu Hanifah (700 – 767 M), Imam Malik (713 – 759 M), Imam Syafi’I (767 – 820 M), dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780 – 855 M). Dalam bidang kedokteran terdapat nama Ibn Sina dan Abu Bakar al-Razi.8 Dalam bidang astronomi pun kita mengenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. Selain itu ada juga al-Fargani, yaitu pakar astronomi yang karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis dan namanya diganti menjadi al-Faragnus.9 Dan banyak para intelektual muslim lainnya yang karya-karyanya masih terus dimanfaatkan hingga sekarang.

Pembiayaan pendidikan dalam Negara Khilafah diperoleh dari Baitu Mal. Terdapat dua pos pendapatan Baitul Mal yang adapat digunakan untuk membiayai pendidikan, yaitu: (1) pos fai’ dan kharaj –yang merupakan kepemilikan negara- seperti ghanimah, khumuus (seperlima harta rampasan perang), jizyah, dan dharibah; (2) pos kepemilikan umum seperti tambang minyak dan gas, hutan, laut, dan hima (milik umum yang penggunaannya telah dikhususkan).

Melihat potensi SDA yang dimiliki Indonesia, maka sebenarnya sangat mungkin untuk menyelenggarakan pendidikan yang murah bahkan gratis. Potensi hasil hutan berupa kayu (data 2007) sebesar Rp 25 trilyun, potensi hasil hutan berupa ekspor tumbuhan dan satwa liar (data 1999) sebesar Rp 15 trilyun, potensi pendapatan emas di Papua (PT. Freeport) [data 2005] sebesar Rp 40 trilyun, dan pendapatan migas Blok Cepu pertahun sebesar Rp 10 trilyun.10

Oleh karena itu, mewujudkan pendidikan yang gratis di Indonesia sangatlah mungkin. Dengan catatan sistem kapitalisme-sekular yang telah terbukti membuat kondisi bangsa ini semakin runyam harus segera diganti. Sistem Islam merupakan pilihan yang tepat untuk diterapkan yang dijalankan oleh pemimpin yang amanah. Sebab jika tidak, Indonesia akan terus menjadi sub-ordinat negara adidaya, yang tanpa sadar terus menjalankan keinginan dan kepentingan negara-negara kapitalis. Sebagaimana perkataan Ibn Khaldun, “ada kecenderungan manusia untuk mengikuti tradisi pihak yang menang (al-maghluub muu’laun Abadan bil-iqtida’ bil-ghaalib).” Karena saat ini negara adikuasa AS adalah negara yang menang, yang telah mampu melebarkan pengaruhnya serta menjadi kiblat dalam pemikirannya. Wallahu ‘alam bi ash-shawwab. []

[Kusnady Ar-Razi]

Daftar Pustaka:

1 http://www.shalimow.com/etcetera/human-development-index-hdi-indonesia.html

2Tempo Interaktif, 29 Juli 2004

3Ismail Yusanto, Muhammad, dkk. 2004. Menggagas Pendidikan Islami. Al-Azhar Press.Bogor

4Adams, Ian. 2004. Politik Mutakhir (Political Ideology Today). Penerjemah Ali Noerzaman. Penerbit Qalam. Yogyakarta.

5 Ismail Yusanto, Muhammad, dkk. 2004. Menggagas Pendidikan Islami. Al-Azhar Press. Bogor. Hlm. 8

6Khalid, Abdurrahman Muhammad. 1994. Soal Jawab Seputar Gerakan Islam. Pustaka Thariqul Izzah. Bogor.

7Majalah ISLAMIA, volume V No. 1, 2009. Hlm. 96

8Ibid, hlm. 97

9Ibid, hlm. 98

10Majalah Al-Wa’ie No. 81 Tahun VII, 1-31 Mei 2007. Hlm. 53-54.

2 thoughts on “PENDIDIKAN INDONESIA DALAM CENGKERAMAN KAPITALISME – SEKULAR”

  1. tulisannya sy jambret buat bahan talkshow
    makasih ya, boleh atau gak boleh tetep saya ambil,hehe…

    (duh jadi moderator besok, baru searching data sekarang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s