Bersabar Dalam Kepayahan

“Sungguh dakwah ini tidak akan sanggup dipikul oleh orang-orang yang tidak memiliki keteguhan yang kuat, ‘azam yang keras, tekad baja, dan himmah yang tinggi.”

(Syaikh ‘Abdullah Azzam)


Banyak di antara mereka yang berguguran satu persatu di jalan dakwah. Seperti pohon, ada saja daun-daun yang berguguran. Mereka berhenti, merasa lelah dengan segala kepayahan. Mereka tidak bersabar dengan segala ujian kenikmatan. Tidak bersabar untuk menunda sejenak kenikmatan semu, padahal yang nyata sudah dijanjikan.

Bukan karena kemenangan itu sudah dijanjikan lantas kita berhenti dan berdiam diri. Sungguh tidaklah demikian. Kemenangan adalah pertolongan Allah, Dia-lah Yang Maha Menolong. Sedangkan kita berada dalam lingkaran hukum sebab akibat. Kitalah yang mendatangkan sebab-sebab pertolongan Allah. Sebab pertolongan-Nya hanyalah bagi mereka yang layak. Karena kemenangan datang setelah adanya peperangan. Karena kemenangan dipetik oleh mereka yang berada di garis depan perlawanan.

Bukankah Rasul selalu mengupayakan strategi terbaik di setiap peperangan? Memperhatikan tiap detail segala sesuatu yang mengantarkan kemenangan. Beliau telah bersusah-payah menggali parit di perang Khandak. Menyeru para sahabat untuk menginfaqkan harta dan mengumpulkannya sebagai persediaan menjelang perang Tabuk. Dan menyiapkan persenjataan terbaik pada Perang Mu’tah. Beliau juga melangkahkan kakinya untuk mencari nushrah kepada pemuka-pemuka kabilah. Padahal bukankah Allah telah mejanjikan kemenangan? Bukankah Allah Maha Menolong? Itu karena pertolongan adalah hak Allah, sedang kewajiban kita adalah melaksanakan perintah dan mengupayakan sebab-sebab datangnya pertolongan.

Kita mengaku cinta kepada-Nya, padahal di saat yang sama kita membenturkan kecintaan kepada-Nya dengan kecintaan kepada istri dan anak-anak. Dimanakah cinta jika harta, keluarga dan pekerjaan memalingkan kita. Padahal cinta itu tumbuh bersama iman dan pengakuan jiwa. Ia hadir di setiap helaan nafas-nafas perjuangan. Ia lekat saat kita berletih-letih dalam jalan kepayahan ini. Ia mengalir bersama peluh, darah dan air mata.

Bersabarlah dalam perintah-perintahnya. Bersabarlah dalam setiap kesulitan. Bersabarlah untuk tidak bermaksiat sekecil apapun. Bersabarlah dengan kehidupan sesaat. Bersabarlah dengan kepahitan, karena kesabaran itu adalah kenikmatan yang tertinggi.

Berlelah-lelah lah, berpayah-payah lah. Para pekerja tidak akan mendapatkan upah jika mereka hanya bersantai-santai. Waktu pembagian upah itu pasti adanya. Di kala hamparan padang mahsyar menjadi nyata adanya, bersiaplah menerima seluruh hasil perhitungan. Perhitungan yang seadil-adilnya dan penghisaban yang sangat cepat. Sabar, bersabarlah. Istiqomah, beristiqomahlah…. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s