PERGERAKAN MAHASISWA INDONESIA: QUO VADIS?

Realita dan kondisi suatu masyarakat atau bangsa selalu berubah dari masa ke masa. Karena realita masyarakat hakikatnya adalah realita hidup manusia yang berkelompok dengan segenap interaksi yang ada di dalamnya. Interaksi itupun mengikuti kecenderungan individu-individu, jika kecenderungannya berubah maka interaksinya pun berubah mengikuti kecenderungan tersebut. Dan pada akhirnya pun mengubah realita hidup masyarakat tersebut.

Tentu ketika kita berbicara tentang masyarakat atau suatu bangsa, persoalannya tidak sesederhana penjelasan di atas. Karena di samping suatu masyarakat terdapat interaksi di dalamnya, ada peraturan-peraturan yang mengikat, pemikiran dan perasaan-perasaan yang sama. Unsur-unsur tersebut pada dasarnya lahir dari landasan ideologi serta standar nilai yang ada di masyarakat. Pada hakikatnya unsur-unsur inilah yang membentuk realita dan pola hidup masyarakat dan bangsa. Jika unsur-unsur ini buruk maka buruklah realita masyarakat tersebut. Sehingga ada kecenderungan dan keinginan dari individu-individu yang ada di dalamnya untuk memperbaiki realita tersebut.

Upaya mengubah realita dan kondisi berangkat dari adanya pengamatan terhadap fakta realita tersebut. Lalu menilainya dengan standar nilai yang lahir dari persepsi dan pemikiran. Maka upaya mengubah fakta sejatinya adalah upaya intelektual dan pemikiran untuk melakukan perubahan.

Kita bisa melihat sejarah pra kemerdekaan sebagai sejarah gerakan perubahan. Bangsa Indonesia tatkala mengalami penjajahan, berusaha melakukan perlawanan terhadap imperialisme asing baik secara fisik melalui peperangan maupun non-fisik melalui gerakan intelektual. Bercokolnya feodalisme ala Belanda membuat gerah rakyat Indonesia saat itu. Perlawanan dan perjuangan yang dilakukan adalah upaya mengubah fakta kehidupan, dari realita sebagai bangsa yang terjajah menuju bangsa yang merdeka.

Dalam sejarah Indonesia, National Congres Centraal Sjarikat Islam diyakini sebagai pelopor yang menuntut Indonesia merdeka. National Centraal Sjarikat Islam Pertama ini dilaksanakan di Bandung pada tahun 1916 yang dipimpin oleh Oemar Said Tjokroaminoto, Abdoel Moeis, Wignjadisastra. Oemar Said Tjokroaminoto tidak hanya sebagai guru politik tapi juga sebagai mertua Bung Karno. Dan bahkan gerakan yang dipimpin beliau pun turut mengilhami lahirnya PNI sebelas tahun kemudian, tepatnya tahun 1927, yang didirikan oleh Bung Karno.

Gerakan pemikiran yang dipelopori pemuda dan mahasiswa saat itu terus bergulir, hingga Indonesia mampu melepaskan diri dari imperialisme asing dengan diproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Namun pasca kemerdekaan gerakan perubahan pun bermetamorfosis, dari gerakan revolusioner menjadi gerakan reformasi.

Gerakan-gerakan perlawanan dari para pemuda Indonesia sesungguhnya adalah reaksi atas imperialisme asing. Pasca kemerdekaan setelah Negara ini terlepas dari penjajahan, ternyata gerakan perlawanan terus muncul. Hal ini menunjukkan bahwa imperialisme asing tidak pernah mati bahkan lebih dahsyat. Neo-kolonialisme muncul sebagai penjajahan gaya baru. Penjajahan semacam ini dimunculkan oleh negara pemenang perang dunia ke-2 yaitu Amerika Serikat.

Gerakan perlawanan para pemuda -yang sudah menjadi bagian dari sejarah bangsa ini- kembali mengingatkan kita pada era ’60-an tatkala para mahasiswa melawan rezim Soekarno yang dianggap telah gagal mengeluarkan rakyat dari himpitan ekonomi saat itu. Dengan munculnya sejumlah tokoh muda seperti Soe Hok Gie yang dianggap sebagai bagian dari kaum ‘rebelli’ (pemberontak) di mata pemerintah saat itu turut mengilhami pergerakan mahasiswa setelahnya. Bahkan buku “Catatan Harian Seorang Demonstran yang merupakan catatan harian Soe Hok Gie yang ditulisnya sejak umur 15 tahun menjadi bacaan wajib para aktivis mahasiswa pada masa berikutnya. Semangat perlawanan mahasiswa terus berlanjut, tercatat peristiwa Malari tahun 1974 sebagai bukti sejarah gerakan perlawanan mahasiswa yang menolak investasi Jepang yang dianggap sebagai bentuk penjarahan terhadap kekayaan alam Indonesia. Aksi ini berujung dengan dibekukannya aktivitas politik mahasiswa, pemerintah pun menjadi lebih represif. Kemudian tahun 1998 tepatnya bulan Mei merupakan puncak perlawanan mahasiswa terhadap kediktatoran rezim orde baru. Mahasiswa menuntut agar Soeharto diturunkan dari jabatannya sebagai Presiden, hingga akhirnya Soeharto mengundurkan diri yang merupakan pertanda dimulainya sebuah era baru yang disebut sebagai era Reformasi.

Namun era reformasi saat ini pun tak mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Kaum reformis seolah kehilangan akal dalam me-reform bangsa ini. Sebagian mantan aktivis reformasi yang telah terjun dalam politik praktis dan yang terlibat dalam parlemen pun seolah tak berkutik menghadapi problematika bangsa yang sangat kompleks. Euphoria yang dirasakan kaum reformis setelah tumbangnya rezim orde baru telah melupakan mereka untuk menyiapkan alternatif perubahan. Bergantinya para penguasa hanyalah legitimasi untuk menjalankan sistem yang kapitalistik-sekularistik, sebuah sistem yang sudah terbukti menjadikan rakyat sebagai ‘tumbal’ demi memenuhi hasrat duniawi penguasa.

Indonesia Dalam Jeratan Kapitalisme Global

Memasuki era reformasi, ternyata Indonesia semakin terjerat dalam arus kapitalisme global. Paradigma kebijakan pemerintah masih berpihak pada liberalisme ekonomi. Pemerintah pun masih membangun keterikatan dengan lembaga-lembaga keuangan internasional, seperti World Bank, IMF, Perdagangan Bebas Dunia (WTO), dan ADB. Salah satu contoh, betapa Indonesia terikat dengan kapitalisme global adalah upaya pemerintah menyerahkan harga BBM kepada mekanisme pasar internasional. Walhasil berujung pada naiknya harga BBM dalam negri yang semakin menyengsarakan rakyat.

Era reformasi pun sebenarnya telah menjelma menjadi era neoliberalisme. Pemerintahan neoliberal di Indonesia berlangsung menjelang akhir kekuasaan Orde Baru hingga saat ini. Sepanjang itu, pemerintahan neoliberal mengukir prestasi’. Dengan indikasi meningkatnya hutang negara dua kali lipat dalam waktu 10 tahun dari US$ 67,3 miliar menjadi US$ 65,7 miliar untuk hutang bilateral/multilateral dan Rp 972,2 trilyun dalam bentuk hutang obligasi. Karenanya, pemerintahan Soerharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY-JK menjadi bagian tidak terpisahkan dari penerapan kebijakan ekonomi neoliberal. Jadi sangat aneh klaim SBY-Boediono tidak menjalankan ekonomi neoliberal.

Membentuk Arus Baru Perjuangan Mahasiswa

Problematika bangsa ini bukan hanya sekedar persoalan siapa yang memimpin, tapi juga sistem apa yang dijalankan. Sehingga permasalahan tidak selesai hanya dengan mengganti rezim saja, tapi sekaligus mengganti sistem operasionalnya. Sistem Kapitalisme yang masih mengakar kuat harus segera diganti dengan sebuah sistem alternatif baru, yaitu sistem Islam atau Khilafah Islam. Inilah sistem yang bersumber dari wahyu, yang telah diterapkan oleh umat Islam dalam kurun waktu 14 abad lamanya. Bahkan para orientalis Barat pun mengakui bahwa Islam hadir bukan hanya dalam bentuk agama saja, tapi juga berbentuk sistem politik yang terintegrasi dalam kehidupan sosial. Sebagaimana pengakuan Prof. Gibb yang mengatakan, “dengan demikian, jelaslah bahwa Islam bukanlah sekadar kepercayaan individual, namun ia meniscayakan beridrinya suatu bangunan masyarakat yang independen. Ia mempunyai metode tersendiri dalam sistem kepemerintahan, perundangan-perundangan, dan institusi.1

Hal senada juga diungkap oleh tokoh orientalis lainnya yaitu Prof. C. A. Nallino yang mengatakan, “Muhammad telah membangun dalam waktu bersamaan agama (a religion) dan Negara (state). Dan batas-batas territorial Negara yang dia bangun it uterus terjaga sepanjang hayatnya.”2 Walhasil, dengan sistem inilah Indonesia akan mampu bangkit dan menjadi bagian dari peradaban agung yang mulia.

Kebangkitan suatu bangsa hakikatnya adalah ketinggian berfikir masyarakat yang ada di dalamnya. Pemikiran (al-fikr)lah yang menentukan sikap dan tingkah laku seseorang baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat.

Masyarakat merupakan kumpulan individu yang diikat oleh pemikiran dan perasaan yang sama serta aturan-aturan yang ada di dalamnya yang diatur untuk mencapai kemaslahatan bersama. Sehingga apabila realitas masyarakat itu rusak, maka yang harus diperbaiki adalah pemikiran, perasaan, kebiasaan-kebiasaan umum serta aturan yang ada di dalamnya. Inilah yang dilakukan oleh Rasul SAW ketika mengubah masyarakat Makkah pada saat itu. Kebiasaan minum khamr (arak), mengubur bayi perempuan hidup-hidup, berjudi, mengundi nasib dengan anak panah, semua ini dilakukan karena rendahnya pemikiran kaum jahiliyyah saat itu. Sehingga Rasul Saw hendak mengubah realitas yang rusak tersebut dan menggantinya dengan realitas yang lain yaitu Islam.

Inilah falsafah kebangkitan yang benar yang didasarkan pada satu Keyakinan Rasional yang meyakini adanya satu Pencipta alam semesta yaitu Allah Swt. Sehingga dari azas yang benar ini akan melahirkan sistem/aturan kehidupan yang benar pula.

Maka setelah kita meyakini falsafah kebangkitan yang benar adalah Islam, selanjutnya kita harus mengetahui metode perubahan yang benar. Metode perubahan yang harus dilakukan sebagaimana metode yang dicontohkan Rasul Saw yang dikaji dari sejarah hidup beliau. Jika dirangkum maka fase perubahan yang dilakukan Rasul Saw adalah sebagai berikut:

Pertama, Rasul Saw melakukan pembinaan (tatsqif) untuk membentuk pribadi para sahabat yang berlandasakan Islam. Dengan menanamkan aqidah dan tsaqofah (pemahaman) Islam. Ini merupakan tahap kaderisasi dengan adanya internalisasi pemikiran Islam, dengan tujuan membentuk kader-kader ideologis yang kemudian bergerak berlandaskan ideology semata dan bukannya berdasarkan kemaslahatan yang disandarkan pada akal.

Kedua, setelah membina para sahabat sampai terbentuknya kutlah (kelompok) sahabat, kemudian Rasul Saw melakukan pergolakan pemikiran di tengah-tengah masyarakat. Tahap ini juga merupakan tahap edukasi, penetrasi dan penyebaran ide kepada masyarakat. Sehingga diharapkan ada kesadaran umum yang lahir di tengah-tengah masyarakat, dengan menjadikan Islam sebagai way of life.

Ketiga, ketika dakwah Islam mulai berkembang pesat dan mulai mendapat pertentangan yang hebat dari kaum Quraisy, Rasul mencari pertolongan kepada ahlul quwwah (pemilik kekuatan) yaitu pada kabilah-kabilah dan suku-suku Arab yang berdatangan ke Makkah. Rasul pun berhasil menggandeng suku ‘Aus dan Khazraj hingga akhirnya beliau dan para sahabat hijrah ke Madinah setelah kondisi masyarakat Madinah menerima Islam. Penduduk Madinah yang telah memeluk Islam berkat jasa Mush’ab bin Umair yang dikirim Rasul memberikan kepercayaannya kepada Rasul SAW untuk memimpin mereka dan membentuk kekuatan baru. Inilah momen Revolusi Islam pertama yang diperjuangkan oleh Rasul SAW dan para Sahabat yang mulia. Tahap ini juga merupakan tahap implementasi, yaitu tahap transformasi sistem kenegaraan dengan menerapkan Islam secara utuh.

Metode inilah yang harus diemban oleh gerakan mahasiswa terutama yang berazaskan Islam. Dan tercermin dalam aktivitas politiknya. Melakukan pembinaan hakikatnya adalah menyiapkan kader yang siap mengemban ide Islam untuk disampaikan kepada masyarakat dengan berbagai macam cara. Salah satunya adalah dengan membongkar konspirasi penguasa dengan analisis mendalam serta memberikan solusi yang bersumber dari pemikiran yang diemban. Sehingga pemikiran tidak hanya bermain di alam pikiran saja, namun benar-benar solutif dan mampu menjadi problem solving.

Melalui penyebaran ide di tengah-tengah masyarakat, maka akan terciptalah masyarakat dengan memiliki satu kesamaan ide. Memahami hakikat situasi sebenarnya, bahwa Sistem Kapitalisme dengan azasnya Sekularisme merupakan permasalahan utama. Sehingga dengan kekuatan pemikiran akan mendorong masyarakat untuk melakukan perubahan sesuai dengan ideologi yang diemban (Islam). Pada titik inilah akan tercipta sebuah kekuatan massa yang mampu mendesak kekuatan institusi sebuah negara untuk melakukan perubahan secara mendasar dan menyeluruh.

Jelaslah bahwa tidak ada pilihan lain bagi kita, terutama para aktivis gerakan mahasiswa untuk mencari metode perubahan lain selain yang diwariskan Rasul SAW. Metode pragmatis layaknya reformasi tak mampu membangkitkan bangsa ini dari keterpurukan. Sudah saatnya kita bergerak menghapus hegemoni Kapitalisme Global dengan menjadikan Islam sebagai mainstream gerakan dan menghadirkan suatu kekuatan baru yaitu Islam sebagai sebuah institusi global yang menyatukan seluruh negeri-negeri Islam,. Wallahu’alam bi ash-shawwab.

1[Dhiauddin Rais, Muhammad. Teori Politik Islam. Hal. 5. Gema Insani Press. Jakarta]

2[Dhiauddin Rais, Muhammad. Teori Politik Islam. Hal. 6. Gema Insani Press. Jakarta]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s