BERGURU KEPADA IMAM AL-SHAUKANIY

Imam Al-Shaukaniy telah dikenal sebagai ulama besar abad ke-18 M. Beliau dilahirkan di Yaman, tepatnya di Hijratu Shaukan pada hari senin tanggal 28 Dzul Qa’dah 1172 H/1758 M. beliau tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang mencintai Al-Qur’an. Semenjak kecil beliau telah dididik oleh ayahnya sendiri. sehingga menjadi pribadi yang haus akan ilmu. Maka tak heran jika masa kecilnya dihabiskan dengan ‘melahap’ bacaan-bacaan ringan dan menghafal serta memahami beberapa karya dalam berbagai bidang ilmu.

Menginjak umur sepuluh tahun beliau telah menghafal Al-Qur’an. Dan membidik para mashayikh untuk dijadikan guru dan memperdalam ilmu Al-Qur’an. Ketepatan dalam memilih guru dan ketekunan dalam mempelajari berbagai disiplin ilmu merupakan kunci pembuka kecerdasan bagi Al-Shaukaniy. Sebagaimana penuturan Syaikh Az-Zamuji, “ketahuilah, bahwa kesabaran dan ketabahan/ketekunan adalah pokok dari segala urusan.” [1]

Di antara para ulama yang menjadi guru Al-Shaukaniy di antaranya adalah: Bapaknya sendiri ‘Aliy al-Shaukaniy, darinya ia belajar Sharh al-‘Azhar dan Sharh Mukhtasar al-Haririy. Dari al-Sayyid Al-allamah Isma’il ibn Hasan (1120 – 1206 H), ia belajar al-Malhah dan sharahnya. Dari al-allamah al-Qasim ibn Yahya al-Kahulaniy (1162 – 1209 H), ia belajar Sharh al-Sayyid al-Mufti ‘ala al-Kafiyah, Sharh al-Safiyah li Luthfil Allah al-Dhiyath, dan Sharh al-Rida ‘ala al-Kafiyah. Dari al-Sayyid al-Imam ‘Abd al-Qadir ibn ‘Ahmad al-Kaukabani (1135 – 1205 H), ia belajar Sharh Jam’u al-Jawami’ li al-Muhalli dan Bahr al-Zakhkhar serta mendengarkan darinya Sahih Muslim, Sunan al-Turmudhiy, Sunan al-Nasa’iy, Sunan Ibn Majah, Muwatta’ Malik, dan Shifa’ Qadi Iyadh. Dari al-Allamah ‘Aliy ibn Ibrahim ibn ‘Ahmad ibn ‘Amir (1143 – 1207 H), ia mendengarkan Sahih al-Bukhariy dari awal hingga akhir.

Deretan nama para ulama besar di atas, yang al-Shaukaniy berguru kepada mereka, menunjukkan besarnya perhatian beliau terhadap tsaqofah Islam. Keseriusan, kemauan yang tinggi dan kecerdasan pikiran yang dimiliki telah menjadikannya sebagai seorang mujtahid pada usia yang kurang dari 30 tahun. Ini merupakan indikasi bahwa beliau adalah seorang ulama yang memiliki kapasitas keilmuan yang diakui pada zamannya. Bahkan beliau juga mendalami ilmu-ilmu umum lainnya seperti matematika, ilmu pengetahuan alam, astronomi dan lain-lain secara otodidak. Begitu gigih usahanya dalam menuntut ilmu sampai ia dapat mengikuti tiga belas mata pelajaran dalam sehari.

Ia mendalami dan menyelami fiqh mazhab Zaidiyah hingga ia menjadi ahli. Walau demikian ia adalah seorang ulama yang lepas dari belenggu fanatisme madzhab. Hal tersebut tampak dalam kritiknya terhadap beberapa pendapat madzhab Zaidiyah dalam persoalan fiqh. Misalnya dalam hal ini adalah tidak setujunya al-Sahukaniy dengan madzhab Zaidiyah tentang masalah al-mash ‘ala al-khuffain (mengusap sepatu boot). Menurut madzhab Zaidiyah mengusap sepatu boot sebagai ganti mengusap kaki ketika berwudhu’ tidak boleh dilakukan karena hadits-hadits yang menjelaskan kebolehan mengusap sepatu tersebut telah dimansukh oleh surat al-Maidah ayat: 6, yang menjelaskan tata cara wudhu’ secara rinci. Dalam masalah ini al-Sahukaniy menolak pandangan madzhab Zaidiyah dengan mengemukakan hadits riwayat dari Jarir:

“Diriwayatkan Jarir bahwasanya ia kencing kemudian berwudhu’ dan mengusap sepatunya, lalu ia ditanya: Mengapa kalian berbuat demikian? Ia menjawab: Saya melihat Rasulullah Saw kencing dan berwudhu’ kemudian mengusap sepatu beliau. Ibrahim berkata: Hadits ini mengherankan mereka (sahabat) karena Jarir masuk Islam setelah turunnya surat al-Maidah” (Muttafaq ‘alaihi).

Kesimpulan komentar al-Shaukaniy menjelaskan bahwa hadits mengusap sepatu tidaklah terhapus dengan turunya surat al-Maidah: 6, karena sesuai dengan informasi Jarir bahwa ia masuk Islam setelah turunya ayat tersebut sehingga ayat itu turun sebelum munculnya hadits tersebut. Menurut al-Hasan al-Bashri hadits ini diriwayatkan oleh lebih dari 70 orang sahabat dan merupakan hadits shahih. Oleh karenanya tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Yang terbaik adalah mengkompromikan makna ayat dengan makna hadits dengan cara mentakhsis makna ayat yang bersifat umum dan mutlak dengan hadits-hadits yang menjelaskan tentang mengusap sepatu.

Al-Shaukaniy telah melahirkan karya sebanyak 278 buah. Di antaranya adalah kitab tafsir yang terkenal yaitu Fath al-Qadir. Dalam bidang ushul fiqh, ia telah menulis Irshad al-Fuhul ila Tahqiq al-Haq min ‘Ilm al-Ushul, buku ini menjelaskan definisi ushul fiqh dan urgensinya sebagai dasar ijtihad. Atas permohonan beberapa gurunya, al-Shaukaniy juga menulis karya di bidang hadits yang melahirkan kitab yang fenomenal, Nail al-Autar. Kitab ini merupakan sharh (penjelasan) dari kitab Muntaqa al-‘Ahbar buah karya Majd al-Din ‘Abd al-Salam ibn ‘Abdillah ibn ‘Abi al-Qasim, atau yang lebih dikenal dengan nama Ibn Taimiyah (w. 652 H).

Banyaknya karya yang telah dihasilkan oleh Imam al-Shaukaniy menunjukkan bahwa ia adalah ulama sekaligus juga pemikiran yang produktif. Ia hanya mengharapkan kebaikan-kebaikan yang mengalir dari buah karyanya. Ia satu di antara sekian ulama yang tsiqoh dengan tradisi keilmuan Islam. Karena ia sadar bahwa kemuliaan seorang mukmin hanyalah pada ilmu dan ketakwaannya.

Belajarlah kita dari karya-karyanya dan berguru dari perihal kehidupannya. Karena ia laksana rembulan di tengah pekatnya malam. Ia bagaikan cahaya yang memancarkan pesona pemikiran Islam. Ia adalah nakhkoda yang ulung, yang mengarungi gejolak samudra kehidupan. []

[Dirangkum dari majalah ISLAMIA vol. V no.1, “al-Shaukaniy dan Kitab Nayl al-Autar”]

[1] Az-Zamuji, Ta’lim Muta’alim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s