Berhati-hatilah Wahai Para Pujangga !

Oleh : Kusnady Ar-Razi

Tidak ada yang meragukan pintalan kata seorang pujangga. Ia mampu mengubah hati yang keras menjadi lembut. Ia mampu memberikan warna pada wajah peradaban dunia. Rajutan syairnya mampu menggugah setiap insan yang menikmatinya.

Para pujangga atau para penyair selalu mendapat tempat dalam perjalanan sejarah. Syair-syair mereka selalu memberikan warna-warni pada kanvas kehidupan manusia. Tak dipungkiri juga bahwa para ulama-ulama terdahulu adalah penyair-penyair ulung. Di antaranya adalah Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandary, Imam Asy-Syafi’i, Syaikh Abu Hasan as-Syadzali, dan Balya bin Malkan. Imam Asy-Syafi’i pernah ber-syair tatkala dihina oleh tukang cukur lantaran pakaiannya yang berdebu dan surban acak-acakan karena sehabis perjalanan jauh. Saat itulah syair Sang Imam meluncur:

Hujani aku dengan butiran permata

Sebesar gunung Sarondib.

Banjiri aku dengan butiran emas

Selama napas masih melekat

Rezeki tak pernah beranjak dariku

Jikalau aku mati

Kuburan akan menantiku.

Namun syair-syair yang meluncur dari para imam adalah munajat mereka kepada Allah. Tradisi sastra lisan yang berkembang telah melahirkan sastra-sastra yang khas, yang tersentuh dengan keimanan yang haq. Gaya bahasa Al-Qur’an yang mengandung sastra yang sangat tinggi ikut mempengaruhi syair-syair yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan para ulama dan orang-orang shalih.

Indah. Begitu indah syair yang dirajut oleh seorang pujangga yang telah terciprati mabda Islam. Syair mampu menyentuh perasaan karena ia diukir dengan perasaan sang penyair. Syair mampu menggugah akal dikarenakan ia dirajut oleh kecerdasan pikiran sang pujangga. Tak sedikit ia menjadi wasilah datangnya hidayah Allah bagi yang menikmatinya. Karena sejatinya ia adalah semesta makna yang dibingkai dengan nilai-nilai ilahiah.

Namun siapa sangka, jika syair-syair para pujangga bisa membawa keburukan. Keburukan bagi dirinya maupun orang lain. Ia juga bisa membawa fitnah yang berakibat jatuhnya seseorang pada kemaksiatan. Semuanya bisa terjadi jika tidak dilandasi niat yang benar.

Bayangkan jika seorang pujangga bersyair untuk menundukkan hati seorang wanita. Bukankah ini sebuah kemaksiatan. Apalagi jika sang wanita menyambut baik suara hati sang pujangga dengan hati berbunga-bunga. Alamak ! Sungguh tak bisa dibayangkan !

Atau barangkali bisa saja sebuah syair awalnya tak diperuntukkan khusus untuk memikat hati seorang wanita, tetapi ketika ia telah dinikmati banyak orang justru mengundang kekaguman. Kemudian berubah menjadi benih-benih cinta  kepada sang penyair. Dan menjelma menjadi perasaan yang membuncah yang seringkali menjadi ladang permainan syaithan. Sang pujangga pun berangsur-angsur menjadi pujaan hati dan idaman kaum hawa. Setiap tutur katanya memikat. Tingkah lakunya selalu memesonakan. Disadari atau tidak oleh sang pujangga sendiri bahwa ini akan menjadi malapetaka, bagi dirinya maupun orang lain.

Tentu perasaan itu manusiawi. Karena sejatinya perasaan cinta ialah fitrah manusia. Ia merupakan bagian dari gharizah an-nau’. Tapi apa jadinya jika perasaan itu menjangkiti banyak orang yang melalaikan mereka dari mengingat Allah. Apalagi jika mereka adalah para pengemban dakwah yang menebar kebaikan-kebaikan Ilahiah. Karena bisa saja perasaan itu akan berubah menjadi syahwat yang selalu bergelora.

Simaklah pesan Umar Ibnu Al-Khattab r.a. berikut:

“Redamlah jiwa-jiwa ini dari syahwatnya karena ia bergelora dan jika kalian menahannya, ia akan mengantarkan pada akibat paling jelek.”

Mungkin ini bukanlah kesalahan sang pujangga yang pandai merangkai kata-katanya. Tapi bukankah jika terjadi hal tersebut berarti ia telah menyediakan wasilah untuk bermaksiat. Bukankah secara tak langsung ia telah menyemai benih-benih keburukan bagi orang lain. Yang bisa jadi keburukan-keburukan itu akan kembali kepada dirinya. Na’udzubillahi min dzalik !

Bersyair, merangkai kata-kata puitis, dan menyulamnya menjadi kalimat-kalimat penuh hikmah bukanlah untuk mencari sensasi belaka. Bukan juga untuk mencari popularitas. Atau hanya sekedar bisa disebut sebagai pujangga. Dan selalu berharap pujian dari manusia. Merasa senang jika syairnya mengundang decak kagum. Sungguh bukan untuk itu! Sia-sialah amalan jika tak disertai niat yang benar. Niat yang mengharapkan apa-apa yang ada di sisi Allah. Dan bukan mengharap sesuatu yang ada pada manusia (pujian, penghormatan, dsb).

Amal yang sia-sia ibarat tumpukan debu di tengah sahara. Kemudian diterpa angin kencang lalu hilang tak berbekas. Niat mengawali amal dan perbuatan. Ia menentukan diterima tidaknya sebuah amal. Maka tak heran jika para ahlul hadits selalu menempatkan hadits tentang niat di awal kitab-kitab hadits mereka.

Berhati-hatilah menata hati. Karena hati sebening mata air. Maka jangan kotori ia walau hanya dengan setitik nila kemaksiatan. Sebab kebaikan tak akan berkumpul dengan keburukan. Maka penuhilah hati dengan kebaikan-kebaikan. Hingga membuahkan karya-karya (baik syair, novel, dan karya sastra lainnya) yang dipenuhi dengan kebaikan-kebaikan pula dan mampu memberikan pencerahan bagi umat.

Sejatinya tarian pena seorang pujangga adalah darah dan nafas bagi perubahan peradaban. Maka perhatikanlah kemana mata pena Anda bergerak. Semoga Allah memberikan petunjuk dalam setiap perbuatan kita dan menjauhkannya dari niat-niat yang tercela.

Wahai para pujangga ! Inilah seberkas nasihat bagi diri saya dan Anda. Nasihat dari seorang yang masih diselimuti kefakiran ilmu. Jika ada kebaikan dan manfaat maka ambillah dan tinggalkan keburukan yang mungkin menyertainya. Wallahu a’lam bi ash-showwab. []

One thought on “Berhati-hatilah Wahai Para Pujangga !”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s