Rekam Jejak Para Pahlawan

Oleh : Kusnady Ar-Razi

Adakah cerita yang lebih menarik untuk dikisahkan dalam sejarah hidup manusia selain dari kisah para ksatria? Selalu muncul kekaguman dalam diri manusia dan lantas mengheroikkan sosok yang mereka anggap pahlawan atau ksatria. Itulah tabiat manusia yang merupakan bagian dari naluri pengkultusan (gharizah at-tadayyun). Para tokoh kesatria yang diheroikkan selalu menginspirasi generasi demi generasi. Tengoklah sejarah bangsa Jepang, negeri matahari terbit tersebut layak disebut sebagai negeri 1001 samurai. Para kesatria zaman feodal Jepang ini menjelma menjadi pahlawan yang digandrungi pada abad ke-17 M setidaknya hingga masa Restorasi Meiji. Para bangsawan sekaligus pengawal para Shogun ini mampu mewariskan ruh kesatria, setidaknya bagi bangsanya. Bushido yang merupakan jalan hidup kesatria para samurai yang ditempuh menjadikan mereka dihormati dan disegani hingga terkisahlah hidup mereka dalam banyak karya-karya sejarah maupun karya-karya non-fiksi.


Namun lupakah manusia ketika asik-masyuk dengan sejarah para samurai bahwa ada sejarah dan kisah para kesatria yang lebih heroik di belahan bumi lain? Mereka bukanlah para samurai atau para Ronin yang hidup untuk harga diri. Mereka juga bukan para ninja dari Klan Otori Jepang atau dari klan para kesatria. Mereka juga tidak menghabiskan hidup dalam pengabdian kepada para Shogun atau para Kaisar. Tapi mereka hidup dengan keimanan yang haq. Hidup dengan keyakinan yang men-tauhid-kan Rajanya para kaisar, Tuhan seluruh manusia, yakni Allah Swt. Keyakinan yang selalu terpatri dalam lubuk hati yang menjadikan mereka manusia-manusia pilihan.

Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (TQS al-Fath [48] : 21)

Adanya janji dari Kitab Suci yang terucap dari lisan yang mulia memunculkan sebongkah keyakinan dalam jiwa anak-anak kaum muslimin dari Daulah Utsmaniyyah. Rasul bersabda dalam riwayat yang shahih, Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat Amir (panglima perang) adalah Amir-nya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya.” (HR Ahmad). Begitu kuatnya keyakinan akan sabda Rasul, memunculkan ‘azam yang berpendar dalam diri kaum muslimin. Berharap akan lahir seorang pemimpin yang akan membebaskan Kontantinopel, yang telah dimpikan berabad-abad lamanya.


Adalah Muhammad Al-Fatih yang  telah memperoleh gelar sebaik-baik Amir dan  pasukannya adalah sebaik-baik pasukan. Dialah yang pada tahun 1453 M telah mengakhiri masa penantian kaum muslimin selama 825 tahun sekaligus membuktikan bisyarah Rasulullah, dengan menundukkan kesombongan dan keangkuhan kota Heraklius, Konstantinopel. Dialah sosok yang terlahir dari tarbiyah seorang ulama terkemuka, Syaikh Aaq Syamsuddin. Ranumnya buah pemikiran yang terpetik dari sang guru, menjadikan ia sosok yang sangat berilmu, berwibawa dan kharismatik. Kepintaran dan kecerdasannya memesona tiap punggawa istana. Seluruh cabang ilmu (Ushul Fiqh, Ulumul Qur’an, Hadits, dsb) terpadukan dengan teknik bertempur dan strategi perang hingga menyatu dalam jiwa dirinya. Tak pernah luput Sunnah Rawatib dan Tahajud dalam hidupnya. Begitu juga, separuh pasukannya tak pernah meninggalkan shalat malam. Terbayangkah kita bagaimana kualitas para pasukan ini? Sungguh layak bagi mereka memperoleh pertolongan Allah untuk mewujudkan bisyarah itu.

Jauh sebelum kisah Al-Fatih diceritakan oleh para sejarawan, telah banyak riwayat kehidupan para kesatria kaum muslim lainnya. Dan sebaik-baik kisah para kesatria adalah kisah kepahlawanan para Sahabat Rasul Saw. Merekalah generasi terbaik umat ini, hasil tarbiyah seorang manusia sempurna lagi mulia, penghulunya para nabi dan rasul, Muhammad Rasulullah Saw. Di antaranya ada Khalid Ibn Al-Walid r.a. yang dengan berani menyeru kepada Penguasa Irak, “Aslim taslam, fainnahu sayaktika qaumun yuhibbuna al-maut kama tuhibbuna al-hayat (masuk Islamlah maka engkau akan selamat, sesungguhnya akan datang suatu kaum yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan).” Itulah suara hati dari seorang Khalid ibn al-Walid dan para pasukannya dengan menjadikan kematian di medan perang sebagai sebuah kebanggaan yang senantiasa mereka tunggu dan mereka cari.

Adalah Hamzah bin Abdul Muthalib r.a. pahlawan Badar yang menyejarah, ia telah mendapatkan gelar penghulu para Syuhada. Ia syahid ketika perang Uhud di tangan Wahsyi seorang maula Jubir bin Muth’im. Namun yang menarik dari kisah ini adalah menjelmanya Wahsyi menjadi pahlawan kaum muslim setelah hidayah sampai padanya. Ialah yang telah menghujamkan tombaknya ke ulu hati Musailamah si pembohong besar yang mengaku sebagai nabi. Wahsyi bertekad membunuh Musailamah sebagai penebusan kesalahannya karena telah membunuh Hamzah.

Kita juga tidakkan pernah lupa ihwal kehidupan Umar Ibn Al-Khattab r.a. Dialah yang telah membebaskan Palestina dari tangan kaum Salibis. Sosok sahabat Rasul yang mengemuka ini begitu disegani karena ketegasannya, bahkan ditakuti oleh Kisra Persia dan Kaisar Romawi. Dialah manusia beruntung yang dikabarkan Rasul akan mendapatkan seorang Bidadari bermata jeli yang pemalu juga lembut.

Cukuplah terakhir kisah Thariq bin Ziyad menjadi uswah dari beranda hikmah kepahlawanan yang tak tertandingi. Berakhirnya kesengsaraan rakyat Andalusia di bawah tekanan Raja Gotik berawal dari penaklukan yang dilakukan Thariq bin Ziyad pada tahun 711 M. 12.000 pasukannya berhasil melenyapkan keangkuhan dan kekuatan 100.000 pasukan Gotik. Ucapan lisannya yang begitu berani setelah membakar kapal-kapal yang membawa mereka sesaat setelah sampai di Jabal Thariq telah membakar semangat para pasukannya. Saat itu ia berkata kepada para pasukannya, “Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya pilihan, menaklukkan negeri ini dan menetap di sini, atau kita semua syahid”. Perkataan inilah yang menginspirasi Iqbal seorang penyair Persia untuk menggubahnya menjadi syair yang berjudul “Piyam-i Mashriq”.

Kisah penaklukan yang dilakukan Al-Fatih atau para kesatria kaum muslimin lainnya bukanlah imperialisme ala Eropa yang sarat ekploitasi dan penjajahan. Penaklukan (futuhat) dilakukan demi menyebarkan Risalah Ilahiyah, menebarkan pesona Islam, serta melenyapkan kekufuran. Mereka yang diperangi hanyalah mereka yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya (Lihat QS. At-taubah: 29). Pun jika ada yang menyamakan futuhat dengan imperialisme, maka itu keluar dari mulut kaum yang membenci dan mendengki Islam. Sangat disayangkan pula jika hal tersebut keluar dari lisan kaum muslim yang bertaqlid buta kepada para pemikir barat dan kalangan orientalis yang memusuhi Islam.

Justru adanya futuhat yang dilakukan para mujahidin telah membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan hanya kepada Allah semata. Fakta sejarah telah menyingkap bahwa penyebaran Islam dengan penaklukan telah memberikan kesejahteraan bagi negeri yang ditaklukkan. Cukuplah bagi kita sejarah Umar yang membebaskan Palestina atau Shalahuddin Al-Ayyubi yang menyelamatkan Jerussalem untuk kedua kalinya. Atau bahkan kisah Thariq yang mengakhiri kesengsaraan rakyat Andalusia di bawah kediktatoran Raja Gotik. Lalu siapakah sekarang yang akan membuktikan bisyarah Rasulullah yang belum terwujud. Lupakah kita akan hadits Rasul Saw, “Ketika kami duduk bersama dengan Abdullah bin Amru bin Al-Ash, beliau ditanya tentang kota manakah yang akan (futuh) dikuasai, Konstantinopel atau Roma? Abdullah bin Amru bin Al-Ash meminta diambilkan kotak miliknya yang ada lubangnya dan mengeluarkan kitab dari dalamnya dan berkata, “bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba beliau SAW ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab,”Kota Heraklius terlebih dahulu (maksudnya Konstantinopel) (HR Ahmad).” Tidakkah kita rindu untuk menjadi kaum yang menaklukkan kota Roma, sebagaimana yang dijanjikan? Tidakkah kita merindukan untuk memperoleh gelar The Conqueror of Rome? Jadilah kita kaum yang senantiasa memenuhi janji kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan memunculkan dalam benak secercah keinginan dan perkataan “and now we want only of Rome….”[]


6 thoughts on “Rekam Jejak Para Pahlawan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s