Perjanjian Baru: Problem Keragaman Teks dan Autentisitas Yang Diragukan

Oleh : Kusnady Ar-Razi

Kebenaran sebuah doktrin keagamaan sangat ditentukan dari sumber dimana doktrin itu diambil dan diyakini. Sehingga autentisitas teks kitab suci yang menjadi sumber doktrin dan konsep keagamaan menjadi sebuah keniscayaan. Sebab jika autentisitas teks kitab suci diragukan akan berujung pada penyimpangan pokok-pokok keyakinan sebuah agama.

Tidak autentiknya sebuah teks kitab suci bisa berawal dari keragaman teks kitab suci itu sendiri. Adanya perbedaan-perbedaan yang signifikan pada teks-teks tersebut akan memunculkan keraguan terhadap orisinalitas pesan dari teks tersebut. Tampaknya inilah yang terjadi pada Perjanjian Baru (PB) yang menjadi kitab suci orang-orang Kristen. Akibatnya sebagian kalangan sarjana Kristen pun mulai meragukan historisitas Yesus. Sebab mustahil membuktikan Yesus sebagai seorang figur historis menggunakan sumber-sumber utama yang pada kenyataannya telah mengalami interpolasi sepanjang sejarah Kristen.

Keragaman teks dalam berbagai versi Bible tampak dalam Kitab Kejadian (Genesis) 49:10. Dalam (1) The Living Bible ayat ini ditulis, “The scepter shall not depart from Judah until Shiloh comes, whom all people shall obey.” (2) King James Version menulis: “The scepter shall not depart from Judah, nor a lawgiver from between his feet, until Shiloh come; and unto him shall the gathering of people be.” Adapun (3) The Bible: Revised Standard Version (RSV) menulis Genesis 49:10 sebagai berikut: “The scepter shall not depart from Judah, nor ruler’s staff from between his feet, until he comes to whom it belongs; and to him shall be the obedience og the peoples.” Sedangkan (4) Al Kitab terbitan LAI menulis ayat ini, “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda atau pun lambing pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.”1

Dari keempat Bible tersebut tampak bahwa kata Shiloh tidak muncul dalam The Bible: Revised Standard Version dan Al Kitab terbitan LAI. Kata Shiloh ini pun memunculkan penafsiran yang berbeda antara pihak Kristen dan Yahudi. Pihak Kristen menafsirkan Shiloh sebagai Messiah yaitu Yesus Juru Selamat. Namun, Yahudi menolak tafsir ini, sebab Shiloh datang di waktu lampau, sebelum kedatangan Yesus.

Pengarang Yang Anonim

Munculnya keragaman teks Bible, bisa ditelusuri dari sejarah awal agama Kristen. Sebelum munculnya empat Injil yang dikenal sekarang, sudah ada buku-buku yang ditulis oleh para pengikut awal Yesus. Buku-buku tersebut seluruhnya berisi ajaran-ajaran Yesus, pikiran-pikiraannya dan tata cara serta perilaku yang ia jelaskan.2 Karangan ini sekarang disebut dengan Injil Yesus, Q. Bagaimana pun juga, sebenarnya Q sebagai sebuah buku telah hilang dengan cepat. Justru setelah itu banyak bermunculan teks-teks berupa riwayat-riwayat kehidupan Yesus yang dramatis, mengenai pengorbanan dan penebusan spiritual.

Berbagai mitos tentang Yesus setelah hilangnya Q tampak dalam empat injil: Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Keempat pengarang ini tidak diketahui. Bahkan sulit melacak waktu penulisannya karena tidak ada bukti yang memadai. Sebagaimana yang diungkap oleh Sir Edwyn Hoskyns dan Noel Davey: “Jika dirasakan sulit, karena bukti yang kurang memadai, untuk menamakan para pengarang Injil-Injil sinoptik (Matius, Markus dan Lukas), maka lebih sulit lagi menentukan tanggal penulisannya secara pasti. Di sini tak ada bukti sama sekali; dan penentuan tanggal hanyalah suatu kemustahilan. Terminus ad quem adalah sekitar tahun 100 M.”3

Ungkapan dari Sir Edwyn Hoskyns dan Noel Davey di atas, menunjukkan bahwa pangarang empat Injil tersebut adalah anonym. Dan bahkan tidak bisa dipastikan mereka adalah orang-orang yang bertemu dengan para pengikut Yesus dan meriwayatkan ajaran-ajaran yang disampaikan Yesus. Buku-buku yang tak pasti asalnya dan akurasinya dipertanyakan ini mendapatkan otoritas yang besar oleh gereja-gereja masa awal. Dan klaim atas buku ini sebagai karya-karya yang terinspirasikan tak lebih adalah sebagai upaya untuk membenarkan tradisi-tradisi oral Kristen yang penuh dengan berbagai macam mitos tentang Yesus.

Perubahan-Perubahan Dalam Perjanjian Baru (PB)

Perubahan-perubahan dalam teks empat Injil terjadi secara terus-menerus dalam sejarah dan membuat semakin beragamnya teks-teks dalam Injil sendiri. Di antara perubahan-perubahan tersebut:4
Yohanes 1:34. The Son of God (Anak Tuhan) mempunyai varian the chosen One of God (Pilihan Tunggal Tuhan).
Yohanes 9:35. sebutan Yesus Anak Tuhan mempunyai varian dari bukti documenter besar, Anak manusia (suatu istilah pengganti untuk Yesus).
Markus 16: 9 – 20. dua belas ayat yang mengakhiri Markus diganti dengan penutup yang lebih pendek dalam beberapa manuskrip, tanpa menyebut masalah munculnya kembali Yesus di depan para muridnya dan kenaikan setelah itu.
Lukas 24:6 dan 24:12. Ia tidak ada di sini ia sudah bangkit dan seluruh ayat 12 (di mana Petrus menemukan kain kafan Yesus tanpa bodi) tidak terdapat dalam beberapa manuskrip yang lebih tua.
Lukas 24:51 dan 24:52. Dan [Yesus] diangkat ke surga dan mereka menyembahnya tidak terdapat dalam manuskrip-manuskrip awal tertentu.

Pada tahun 1516 Erasmus menerbitkan PB yang pertama dalam bahasa Yunani. Yang menarik adalah bahwa dalam PB ini tidak memuat pernyataan trinitas pada akhir Yohanes 1, yang berbunyi bahwa Bapa, Kalimat, dan Roh Kudus adalah tiga dalam satu (1 Yohanes 5:7). Walaupun pada edisi ketiganya Erasmus memasukkan pernyataan tersebut setelah adanya sebuah manuskrip Yunani yang memuat pernyataan trinitas itu. Namun kemudian Erasmus merasa perlu membubuhkan catatan panjang yang mengekspresikan kecurigaannya bahwa manuskrip itu adalah palsu.

Interpolasi pernyataan trinitas ke dalam manuskrip Yunani yang berjalan lambat tersebut menunjukkan sebuah kelabilan yang sangat memprihatinkan dalam teks. Dan ayat-ayat palsu di kemudian hari pun banyak menyusup dalam berbagai versi Bible. Hal ini karena setiap terjemahan adalah produk waktu dan tempat tertentu, dan sudah tentu akan dipengaruhi oleh isu-isu politik apa pun yang sedang bergolak dalam psikologi dang penerjemah.

Yang lebih ironi adalah bahwa konsep tentang ketuhanan Yesus sama sekali tidak dimuat dalam Q yang asli. Akan tetapi konsep ini bersandar pada Lukas 10:22 dan Matius 11:27 yang keduanya mengambil dari Q lapisan ketiga yang lebih merupakan tambahan orang Kristen sekitar tahun 70 M.5 Begitu juga halnya mengenai penebusan dosa warisan yang terdapat dalam Lukas 23:24, sepenuhnya absent dari manuskrip tua. P.W. Comfort mengamati bahwa “agaknya teks ini bukanlah bagian dari tulisan asli Lukas, tapi ditambahkan belakangan dari tradisi oral.”6

Khatimah

Begitulah keadaan Bible yang merupakan kitab suci orang-orang Kristen. Interpolasi yang terjadi dalam teks dalam beberapa dekade telah memunculkan varian-varian dan penyusupan ayat-ayat palsu. Penyelewengan pun terjadi dengan masuknya mitos-mitos tentang kehidupan Yesus yang bersumber dari tradisi oral Kristen. Permasalahan ini membawa implikasi pada fondasi doktrin Kristen yang sangat mendasar. Tentang ketuhanan Yesus, penebusan dosa warisan dan kenaikan tak lebih hanyalah penyesatan yang dilakukan oleh pihak Gereja.

Al-Qur’an telah menegaskan penyelewengan yang dilakukan terhadap Bible, “Maka apakah kamu ingin sekali supaya mereka beriman kepada seruanmu, padahal sebagian mereka ada yang mendengar firman Allah, lalu mengubahnya sesudah mereka memahaminya, sedangkan mereka mengetahuinya” (QS. Al-Baqarah: 75). Dalam Surat yang lain Allah juga berfirman, “Sungguh celakalah orang-orang yang menulis al-kitab dengan tangan mereka, lalu mereka katakana: “Ini adalah dari Allah.” (mereka lakukan itu) untuk mencari keuntungan sedikit. Sungguh celakalah mereka karena aktivitas mereka menulis kitab-kitab (yang mereka katakana dari Allah itu), dan sungguh celakalah mereka akibat tindakan mereka” (QS. Al-Baqarah: 79). Wallahu a’lam.

[Kusnady Ar-Razi]

[1] Adian Husaini, Studi Awal Atas Keragaman Teks Bible, Majalah Al-Insan. Hlm. 119.
[2] Lihat M.M. ‘Azami. The History of The Qur’anic Text. GIP Jakarta 2005. Hlm. 311
[3] Sir E. Hoskyns dan N. Davey, The Riddle of The New Testament, Faber & Faber, London, 1963, hlm. 196.
[4] Lihat M.M. ‘Azami. hlm. 320 – 321
[5] B.L. Mack, The Lost Gospel: The Book of Q & Asal-usul Kristen, hlm. 172
[6] Lihat M.M. ‘Azami. Hlm. 331

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s