Dari Ide Pluralisme Ke Tren Teologi Global

Sebelum marak di Indonesia, gagasan pluralisme telah lama tumbuh dan berkembang di Eropa. Gagasan ini muncul sebagai konsekuensi logis dari konflik-konflik yang terjadi antara Gereja dan kehidupan di luar gereja. Adanya doktrin “di luar gereja tidak ada keselamatan” (extra ecclesiam nulla salus) yang dipegang teguh oleh Gereja Katolik dianggap mengancam eksistensi sekte-sekte lain di luar Gereja. Seperti sekte Mormon yang menjadi korban dari doktrin tersebut. Perlakuan diskriminatif kerap diterima para pengikut sekte ini yang pada akhirnya memunculkan konflik berdarah.

Untuk meredam konflik dan menghilangkan sikap intoleran antar ras, etnis, dan mazhab maka faham liberalisme dianggap sebagai angin segar untuk menyelesaikan kondisi yang carut-marut tersebut. Konsili Vatikan II (Vatican Council II) tahun 60-an bisa dianggap sebagai awal diekspornya gagasan pluralisme, dengan doktrin “keselamatan umum” bagi sekte di luar gereja bahkan bagi agama-agama lain menjadi ‘dagangan baru’ untuk menciptakan toleransi antar umat beragama. Karena adanya klaim kebenaran dianggap sebagai benih munculnya konflik dan sikap intoleran diantara pemeluk-pemeluk agama.

Wacana pluralisme agama ini ikut meramaikan dunia intelektual di Barat. Munculnya beberapa pemikir yang mengusung ide ini semakin menguatkan gagasan ini dalam wacana pemikiran filsafat dan teologi Barat. Adalah Frithjof Schuon seorang cendekiawan asal Jerman dengan ide “Kesatuan Transenden Agama-agama” telah memperkokoh wacana pluralisme agama. Ia menganggap bahwa semua agama bermuara pada Realitas Yang Satu (Tuhan). Jadi hakikat semua agama adalah sama, yang berbeda hanyalah penampakan luarnya saja.

Schuon berpandangan bahwa semua agama memiliki dua realitas atau hakikat, yaitu eksoteris dan esoteris. Eksoteris merupakan hakikat lahir, berupa dogma, ritual keagamaan, dan keyakinan yang berbeda. Sedangkan esoteris adalah hakikat batin, dimana semua agama pada level ini sama. Hakikat ini dianggap sebagai ‘hati’ atau ‘badan’ agama. Disinilah kata Schuon merupakan titik temu antar agama.
Konsep “kesatuan transenden agama-agama” yang dikenalkan Schuon ini pun patut dipertanyakan. Sebab, konsepnya tersebut lahir dari pengalamannya ketika terlibat dalam kehidupan agama-agama. Padahal pengalaman bukanlah agama itu sendiri dan tidak bisa pengalaman seseorang diturunkan pada orang lain. Karena hal tersebut hanyalah pengalaman keagamaan saja yang hanya didapat oleh orang tertentu dan tentunya berbeda dengan orang lain.

Tampaknya gagasan ini kian kokoh dengan munculnya konsep “Transformasi orientasi dari pemusatan ‘agama’ menuju pemusatan ‘Tuhan’/The transformation from self-centredness to Reality-centredness” yang dikenalkan oleh John Hick. Hick menyebut teorinya ini sebagai Global Theology/Teologi Global. Dalam teorinya Hick menyebutkan perbedaan antar agama yang ada hanyalah dalam konteks beragamnya tradisi-tradisi historis. Semua agama adalah hasil pemahaman manusia terhadap Realitas Yang Absolut atau Tuhan yang dengan istilahnya disebut “The Real Yang Absolut”. Di sinilah menurutnya, letaknya kebenaran yang absolute yang semua ajaran bermuara. Sedang agama-agama dengan doktrin ketuhanannya merupakan hasil pemahaman manusia terhadap Realitas Yang Absolut. Pada level ini kebenaran menjadi relative sifatnya, dan tuhan-tuhan di luar Realitas Yang Absolut tersebut hanyalah imej para pemeluk agama yang berbeda-beda.

Dengan pandangan seperti ini seluruh doktrin keagamaan menjadi tidak penting. Bahkan klaim kebenaran harus dihilangkan, karena masing-masing pemeluk agama harus meyakini bahwa kebenaran yang dipegang adalah relative. Hingga tindakan saling salah menyalahkan atau kafir mengkafirkan adalah tindakan yang tidak layak disandang oleh para pemeluk agama. Toh, semua akan kembali pada Tuhan yang satu.

Teologi global yang ditawarkan Hick ini dianggap sebagai “revolusi teologis”. Ia menganggap bahwa mayoritas para manusia, baik ulamanya maupun awamnya, dengan pandangannya tentang keselamatan, kebenaran, dan pencerahan, masih terkungkung dalam apa yang disebutnya sebagai “teologi Ptolemaik”. Istilah ini ia kutip dari “astronomi Ptolemaik”, yang menganggap bahwa bumi merupakan pusat tata surya, sebagaimana doktrin yang diajarkan Gereja pada abad pertengahan. Para pemeluk agama (menurutnya) masih beranggapan bahwa agamanya adalah pusat dimana agama-agama lainnya berotasi dan mengelilinginya. Anggapan semacam ini harus dirubah secara radikal dengan apa yang disebut Hick sebagai ‘revolusi Copernican’, dimana agama-agama harus berotasi dan mengelilingi “The Real Yang Absolut” atau Tuhan yang berada di balik alam semesta.

Bisa dilihat sesungguhnya konsep Hick mengenai Tuhan sangatlah absurd, bahkan tidak bisa dijadikan landasan keyakinan untuk sebuah doktrin baru yang akan menggeser agama-agama yang telah dipeluk manusia selama berabad-abad, terutama Islam yang memiliki konsep aqidah yang mengakar kuat.

Patut dipertanyakan juga, parameter apa yang dipakai Hick untuk membangun sejumlah argumentasinya? Jika parameternya akal, maka akalnya siapa? Apakah akalnya Hick? Jika demikian pastinya tidak akan lepas dari bias lensa subjektivitas. Atau jika Hick hendak mengatakan bahwa pendapatnya benar secara absolute sedangkan yang lain relative, maka runtuhlah teori relativisme dari akar-akarnya, dan runtuh pula lah semua hipotesis pluralismee Hick. Jika sebaliknya ia mengatakan bahwa pandangannya juga relative, maka sungguh tindakan yang tidak terpuji apabila Hick memaksakan pandangannya dianut oleh mayoritas manusia. Dan sah-sah saja orang lain beranggapan sejumlah teorinya sebagai ‘angin lalu’ saja dan layak untuk ditinggalkan.

Mengadopsi paham pluralisme sebagaimana yang ditawarkan Hick atau Schuon, jelas menistakan aqidah Islam yang kuat. Mengakui pluralitas bukan berarti harus mengakui kebenaran agama-agama di luar Islam. Masalahnya bagaimana bisa menyamakan konsep tauhid Islam yang mengakui ke-Esa-an Allah Swt dengan konsep Trinitas Kristen? Atau mengakui kebenaran Uzair sebagai anak Tuhan sebagaimana yang diakui oleh orang-orang Yahudi? Jelas ini sebuah kemusyrikan.

Tidak bisa dibenarkan juga jika dengan ide pluralisme ini akan menghilangkan konflik-konflik agama yang disebabkan adanya klaim kebenaran. Jika demikian lantas apakah dengan memelihara paham ini dengan serta-merta akan tercipta kedamaian, keselarasan, dan sikap toleransi? Justru fakta yang terjadi saat ini perlakuan buruk kerap diterima umat Islam di Negara-negara yang mengagungkan kebebasan dan pluralisme. Di Prancis, wanita muslimah dilarang untuk memakai cadar di tempat-tempat umum. Begitu juga yang terjadi di Swiss akhir-akhir ini dimana menara mesjid dihancurkan. Bukankah hal ini akan menimbulkan konflik? Kelihatannya konflik yang terjadi justru bukan karena sikap ‘keras kepala’ para pemeluk agama-agama dengan klaim kebenarannya, tapi lebih karena kebijakan politik para penguasa negara sekular yang ingin memberangus agama tertentu (baca: Islam).

Sepanjang sejarah justru Islam menunjukkan toleransi yang luar biasa terhadap pemeluk agama-agama lain. Sebagaimana yang terjadi di Al-Quds saat ditaklukkan oleh Umar bin Khattab, kaum Nasrani justru hidup dalam ketentraman dan kedamaian di bawah naungan Islam. Begitu pula yang tejadi di Spanyol, Islam, Yahudi dan Nasrani bisa hidup berdampingan.

Jika tren teologi global ini dibiarkan berkembang pada akhirnya hanya akan melenyapkan identitas agama-agama terutama Islam. Islam dengan tegas telah membedakan antara keimanan dan kekafiran (QS 5: 73-77; QS 19: 88-92; QS 112: 1-4) serta menolak klaim kebenaran agama lain, baik Nasrani maupun Yahudi, dan agama-agama lainnya (QS at-Taubah [9]: 30, 31).

Walhasil, mengadopsi pandangan kaum pluralis hanya akan menistakan aqidah Islam. Menerima segala produk pemikiran sekular hanyalah bentuk bunuh diri agama. Karena sejatinya inilah penelikungan dan peminggiran terhadap Islam yang dilakukan Barat sebagai upaya sekularisasi dunia Islam. []

[Kusnady Ar-Razi]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s