Tafsir Kebebasan ala Manji
Kritik atas Buku “Allah, Liberty, and Love”
Oleh: Kusnady Ar-Razi
Irshad Manji, sosok ini begitu kontroversial. Bukan hanya lantaran ia seorang lesbi tulen, tetapi lebih dari itu. Ia telah dikenal sebagai orang yang begitu gigih dalam menghina Al-Qur’an dan Nabi Saw. Di tiap kunjungannya ke beberapa negara muslim ia selalu mengkampanyekan lesbianisme. Atas nama kebebasan, ia dengan lantang menggugat nilai-nilai dan ajaran yang telah dianggap mapan. Tentu saja sasarannya adalah Islam. Dan buku “Allah, Liberty, and Love” yang baru ditulisnya tak jauh-jauh dari ide kebebasan, lesbianisme, dekonstruksi, dan relativisme. Ide-ide tersebut lah yang selalu dipropagandakan oleh para pemuja liberalisme Barat.
Pasca kunjungannya ke Indonesia, buku tersebut dengan cepat beredar dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Meski sebagian toko buku seperti Gramedia menolak menjual buku tersebut, tetapi versi PDF-nya dengan mudah bisa didapat dan diunduh di internet. Bagi sebagian intelektual muslim yang mengerti kerancuan pemikiran Manji pasti khawatir jika buku ini dibaca oleh anak-anak muda yang belum cukup bekal ilmu keislamannya. Manji begitu pandai memainkan retorika-retorika sederhana untuk membenarkan penafsirannya atas ayat-ayat Al-Qur’an. Sehingga siapapun yang tak jeli memahami gagasan Manji, akan terjebak pada kerancuan pemikiran yang dibangun dalam bukunya tersebut.
Relativisme Tafsir
Tesis utama yang dibangun Manji dalam bukunya adalah kebebasan. Siapapun boleh mengemukakan pandangannya, jangan takut salah, karena yang paling benar adalah Allah. Begitulah propaganda Manji dalam bukunya. Agar keberanian tafsirnya mendapatkan pembenaran, maka ia berlindung di balik paham relativisme. Relativisme telah menjadi slogan Read more…
Yasin Thoha Al ‘Azaawiy merupakan guru dari para pembaca Al Qur’an dan ahli tajwiid (Syaikhul Qurraa’ wal mujawwidiin) di Irak. Di lahirkan di daerah Al Fadhl Baghdad Irak. Beliau memegang kepemimpinan Jam’iyatul Qurroo’ wal Mujawwidiin al Iroqiyyiin (perkumpulan para ahli baca Al Qur’an dan ahli tajwid Irak), anggota Al Majma’ul Ilmiy Al ‘Iroqiy, dan Perkumpulan “Imam Abu Hanifah”.
Kehidupan Beliau
Asy Syaikh al haafidz rahimahullah sewaktu hidupnya telah kehilangan pengelihatan (buta, subhaanaLlaah). Ribuan penuntut ilmu di Irak telah belajar kepada Beliau rahimahullaah. Beliau telah berkomitmen untuk mendedikasikan hari-hari terakhir beliau yang baik guna memberikan pelajaran secara cuma-cuma kepada mereka tanpa memungut biaya, dan menyerahkan perhitungan amal itu kepada Allah Ta’aalaa. Asy Syaikh yang buta -semoga Allah mengasihi beliau- adalah seorang anggota Hizbut Tahrir. Beliau adalah teladan yang baik dalam pengorbanan, amal dan ketekunan di medan dakwah. Karena itulah beliau telah mengalami kesulitan dan penangkapan pada rezim pemerintahan yang lalu. Pada tahun 1974, beliau menghadapi hukuman penjara selama 15 tahun. Ketika Irak mengalami Read more…
Muslim Berwajah Humanis
Oleh: Kusnady Ar-Razi
“Apa pendapat Anda ketika goyangan Anda saat bernyanyi mengundang banyak kontroversi?”, tanya seorang host di acara Talk Show kepada salah seorang penyanyi dangdut. “Saya kan niatnya menghibur, jadi baik-buruk kembali ke diri masing-masing saja”, jawabnya. Di waktu yang lain, seorang artis juga pernah diprotes lantaran pakaiannya yang sangat seksi, dengan santai ia menjawab, “biarkan masyarakat yang menilai”.
Anda sering mendengar pernyataan-pernyataan yang senada dengan itu? Jangan heran, inilah fenomena menjamurnya doktrin humanis. Humanisme telah lama dikenal di Barat sejak masa renaissance. Sejak kebangkitan filsafat Rasionalisme di abad 18 dan 19, masyarakat Barat telah memarjinalkan agama dan menggantinya dengan akal sebagai sumber kebenaran. Istilah humanisme sendiri berasal dari bahasa Italia umanista, yang artinya guru atau murid sastra klasik. Namun benih-benih pemikirannya sudah ada sejak abad 14 di saat masyarakat Barat mulai memiliki semangat untuk mengkaji filsafat. Mereka menganggap bahwa manusia punya kemampuan untuk menentukan kebenaran.
Jadi sebenarnya humanis itu antroposentris, lawan dari teosentris. Antroposentris artinya menjadikan manusia sebagai pusat. Yang menentukan baik dan buruk adalah akal manusia, bukan agama. Meski awalnya ia hidup bersama agama, tetapi di abad modern humanisme telah ‘cerai’ dari agama. Tanpa agama manusia bisa berkembang. Bahkan tanpa Tuhan pun manusia mampu menentukan kebaikan dan keburukan. Robert G. Ingersoll, seorang humanis sekular, dengan terang-terangan mengatakan, “kini saya yakin hantu dan tuhan adalah mitos. Aku bebas meneriakkan apa saja!”. Inilah wajah humanis yang sebenarnya, ateis. Read more…
Kontroversi Kenaikan Harga BBM
Berikut merupakan penjelasan dan perhitungan harga BBM dari Pak Kwik Kian Gie:
Dalam paparan ini saya memberlakukan penyederhaan atau simplifikasi dengan maksud untuk memperoleh gambaran yang sangat jelas tentang esensinya saja.
Maka saya mengasumsikan bahwa semua minyak mentah Indonesia dijadikan satu jenis BBM saja, yaitu bensin Premium. Metode ini sering digunakan untuk memperoleh gambaran tentang esensi atau inti permasalahannya. Metode ini dikenal dengan istilahmethod of decreasing abstraction, terutama kalau dilanjutkan dengan penyempurnaan dengan cara memasukkan semua detil dari data dan kenyataan, yang dikenal dengan istilah putting the flesh on the bones.
Cara perhitungan yang saya lakukan dan dijadikan dasar untuk paparan hari ini ternyata 99% sama dengan perhitungan oleh Pemerintah yang tentunya sangat mendetil dan akurat.
Dengan data dan asumsi yang sama, Pemerintah mencantumkan kelebihan Read more…
Hikayat Cinta Akhir Zaman
Oleh: Kusnady Ar-Razi
Konon, jika ada sepasang anak manusia memutuskan untuk mati bersama karena cinta, itu adalah pembuktian cinta sejati kata orang-orang. Cinta sejati dibawa sampai mati, begitu katanya. Mirip seperti roman picisan dari ranah Eropa, Romeo dan Juliet. Ada pula kisah Qais yang menunggui pusara Laila dalam keadaan putus asa selama 10 tahun. Lantaran ditinggal pujaan hati, Qais rela menghabiskan waktunya di atas tempat peristirahatan Laila. Dan pada akhirnya ia pun menemui ajalnya yang dinanti-nanti selama hidupnya agar bisa bertemu Laila di alam lain. Bagi para pemuja cinta tak peduli berapa banyak waktu yang telah mereka habiskan dan berapa banyak harta yang telah dikeluarkan, asalkan bisa bersama kekasih hati semua yang telah dihabiskan tak jadi persoalan. Dunia rasanya telah menjadi milik mereka berdua, sedangkan yang lain hanya numpang saja.
Entah mengapa kisah cinta seperti ini begitu melekat dalam kehidupan kita. Dari masa ke masa, generasi berganti generasi, kisah cinta semacam ini telah menginspirasi jutaan anak adam melakukan aktivitas percintaan yang tak seharusnya. Di Barat, demi melanggengkan rasa cinta anak-anak muda bebas mengekspresikan cintanya. Sex before married adalah Read more…












